Langsung ke konten utama

Menyapa Kembali Blog Ini


Sangat malu rasanya saat melihat bahwa postingan terakhir di blog ini bertanggal 19 Desember 2016. Hampir 2 tahun “rumah kata” ini saya abaikan. Saya bisa saja menyalahkan situasi. “Saya baru saja memasuki fase baru dalam hidup saya. Menjadi Ibu!” 

Namun tidak berarti meninggalkannya selama 2 tahun menjadi benar. Sebab saat memandang kembali lingkungan di sekitar saya, saya menemukan perempuan lain yang tetap produktif seperti Mbak Dini Ftiria, penulis novel Seri Cinta: Muhasabah Cinta, Hijrah Cinta, dan Islah Cinta yang diterbitkan oleh Falcon Publishing. Mbak Dini masih sibuk menulis, menjadi pembicara, dan bahkan traveling sambil menggendong bayi kecilnya. MasyaAllah. Melihatnya saya merasa saya bukanlah perempuan yang tangguh.



Dan saat menulis ini saya kembali menanyakan ke diri saya, “Untuk apa saya membuat blog ini?” Sejujurnya ini adalah blog ke sekian yang saya buat. Sejak SMA (sekitar 10 tahun lalu) saya membuat blog dan selalu gagal untuk mengisinya dengan rutin. Bahkan selalu berujung dengan melupakan passwordnya. Seandainya blogspot tidak terintegrasi dengan email mungkin blog ini mengalami nasib yang sama. Dan kali ini saya benar-benar bertanya kepada diri saya, “Kenapa kamu tidak pernah putus asa untuk memiliki blog tanpa berusaha untuk mengisinya?”

Jawabannya adalah
karena saya benar-benar passionate pada kata. Saya senang membaca dan kemudian membutuhkan aktivitas menulis untuk menuangkan semua yang memenuhi kepala karena banyak bacaan yang saya habiskan. Kemudian di sisi lain menulis membantu saya untuk tetap waras. Meski terkesan extrovert namun tidak mudah bagi saya menyampaikan yang saya pikirkan atau rasakan dengan kalimat yang lebih mudah diterima.


Maka menulis blog menjadi hal yang memudahkan hal itu. Sayangnya menulis tidak semudah membaca. Saya bisa membaca kapan saja dan di mana saja. Sedangkan untuk menulis saya membutuhkan konsentrasi ekstra tanpa distraksi. Dan rasanya tidak mudah dengan dua anak yang butuh perhatian.

Yup, dalam (nyaris) 2 tahun ini saya sudah memiliki 2 anak. Yang pertama berusia 2 tahun dan yang kedua berusia 6 bulan. Saya sungguh produktif, benar-benar secara harfial . lol
Tapi sejak akhir 2017 saya memiliki hobi baru yang fungsinya mirip dengan blog, yakni journaling. Hobi ini ternyata mampu mengubah beberapa pola pikir saya. Saya menjadi lebih mampu me-manage waktu. Membuat saya percaya bahwa saya mampu menjadi lebih produktif lagi jika saya mau.

Akhirnya saya pun kembali menengok blog ini untuk menemukan kembali ruang untuk berbagi pemikiran yang saya rasa perlu untuk dibagi ke lebih banyak orang. Sedang untuk tulisan yang lebih personal, saya tulis di journal pribadi saya, manually.

Tulisan ini saya buat untuk mengawali perjuangan saya untuk menantang diri sendiri agar kembali rutin menulis. Tidak mudah namun bukan berarti tidak mungkin. Saya mungkin harus mengorbankan waktu tidur. Mengurangi screening time yang lebih didominasi oleh sosmed.

Semoga saya berhasil menyelesaikan BPN 30 Day Blog Challenge di November hingga Desember nanti. Dukung dan doakan saya yaaaa

Komentar

  1. MYDRAKOR download di GooglePlay gratis, MYDRAKOR sajian film drama korea terbaru dan terupdate, banyak film drama korea pilihan di MYDRAKOR, sekarang bisa nonton di layar hp, dimanapun kamu berada dan tidak terlewatkan drama kesukaanmu.

    https://play.google.com/store/apps/details?id=id.mydrakor.main

    https://www.inflixer.com/

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…