Langsung ke konten utama

Meneladani Sang Dewi

Saya dan Lukisan R. Dewi Sartika
Saya adalah perempuan Mandar[1]. Kedua orang tua saya asli Mandar. Meski hampir seluruh hidup saya dihabiskan di tanah rantau, namun orang tua saya selalu berusaha membesarkan kami dengan nilai-nilai dan budaya Mandar. Dalam budaya Mandar, perempuan harus bisa mandiri. Ini karena dalam budaya Mandar ada yang namanya Sibali parri’ . Budaya ini menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai pasangan yang saling berbagi beban. Laki-laki Mandar dulunya sebagian besar berprofesi sebagi nelayan. Dan saat suami melaut, istrinya akan mencari penghidupan dengan menenun sarung Mandar dan menjualnya. Sambil mengurus rumah dan anak istri pun harus ikut berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi.

Karenanya saat saya mengemukakan keinginan untuk melanjutkan pendidikan, orang tua saya pun setuju. Saya kemudian melanjutkan kuliah ke Bandung. Di kota inilah saya seolah menemukan diri saya yang baru. Saya merasa bahwa Allah menempatkan saya di kota Bandung untuk belajar dan terinspirasi dari nilai-nilai perjuangan Ibu Rd. Dewi Sartika.

Saya dan Sang Perintis

Saat di Bandung saya sering kali disangka sebagai orang asli Bandung. Ini karena nama saya adalah Atria Dewi Sartika. Ya, saya menyandang nama beliau. Namun selama 23 tahun kehidupan saya, saya tidak pernah benar-benar mengenal beliau. (Perihal sejarah nama saya, sudah saya tulis di Sebab Aku "Atria Dewi Sartika" )


Suatu hari saya bergabung ke dalam Komunitas Aleut dan mendapat kesempatan untuk mengenal beliau lebih jauh. Sambil mengenal lebih jauh tanah kelahiran Raden DewiSartika, saya juga belajar dan menelusuri jejak beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya dibuat malu.

Di usia 18 beliau sudah “bergerak”, melakukan sesuatu demi mengakhiri kegundahan hatinya akibat kesenjangan sosial yang ia temui di masyarakat : perempuan tidak mendapat kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam hal pendidikan. Maka beliau dengan kemampuan dan kecerdesannya membuka sebuah sekolah di halaman belakang rumah ibunya.

Sejak itu hingga akhir hidupnya, beliau menjadikan kegiatan mengajar sebagai panggilan hidupnya. Seumur hidupnya, beliau adalah pendidik dan terus mengupayakan untuk mengedukasi lebih banyak keluarga agar mau menyekolahkan anak perempuannya. Ini karena menurut beliau “... manusia itu, laki-laki ataupun perempuan, tidak cukup hanya baik saja, tetapi harus juga memiliki pengetahuan dan kecakapan buat mencari jalan hidup pada waktu tak ada yang memberi nafkah buat menjaga keselamatan, menghindari mara bahaya dan lain sebagainya.”[2]

Sekolah yang beliau rintis dari halaman rumah tersebut, hingga kini masih terus tegak di bumi. Sekolah yang terletak di jalan Kautamaan Istri itu masih terus membawa nilai, jiwa, dan semangat beliau.

Sumber: Serba Bandung


Setelah menyelesaikan studi di Bandung, saya pulang kembali ke Majene, Sulawesi Barat. Pulang untuk mengabdi dan melakukan sesuatu untuk tanah kelahiran saya. Saya kemudian mendapat kesempatan untuk membagi ilmu saya kepada mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Sulawesi Barat. Saat mengajar saya selalu mengingatkan mahasiswa bahwa nilai yang tertera di ijasah bukanlah yang paling utama. Yang paling penting adalah wawasan yang kian luas dan karakter yang kian matang.

Selain menjadi dosen, saya tetap menjalani peran sebagai ibu bagi anak-anak saya. Berusaha memberikan ASI hingga usia mereka 2 tahun. Anak-anak saya tetap di bawah pengasuhan saya tanpa baby sitter. Di sisi lain saya juga terus menggeluti hobi saya membaca buku dan menjadi bookstagram[3] aktif di instagram. Setiap bulan saya menerima kerja sama ulasan buku dari penerbit dan penulis. Jadi 24 jam waktu saya harus dibagi untuk berbagai tanggung jawab sebagai ibu, dosen, pembaca, bookstagram dan berbagai peran lainnya.

Mahasiswa saya di semester ini


Kehidupan saya ini sering sekali saya manfaatkan sebagai “cambuk” bagi mahasiswa saya. Jika mereka menganggap bahwa dengan hidup di daerah yang jauh dari metropolitan maka mereka tidak akan bisa melakukan banyak hal, maka saya dan akun instagram saya membantah hal ini. Penerbit nasional sering mengirimi saya buku untuk diulas. Padahal banyak bookstagram yang berdomisili di Jakarta dan Bandung.

Jika mereka berkata mereka tidak bisa membaca buku karena tidak punya waktu luang, maka saya akan menantang mereka dengan bertanya, “Masa saya yang ngurusin 2 anak bisa menyempatkan diri membaca dan menulis. Kalian nggak perlu mengurusi orang lain selain diri kalian sendiri, lho. Kalian yang mengendalikan jadwal kalian. Sedangkan klo saya, harus nunggu anak-anak tidur dulu baru bisa mengerjakan berbagai hal.”

Saya selalu berusaha menularkan kesenangan membaca dan menulis ke banyak orang terutama ke mahasiswa saya. Tugas-tugas yang saya berikan di kampus lebih banyak dalam bentuk tulisan ilmiah populer dan saya beri porsi nilai yang lebih besar. Saya selalu berusaha untuk menulis opini dan mengirimkannya ke koran lokal agar menjadi contoh bagi mahasiswa saya. Bukankah keteladanan adalah salah satu kunci dalam pengajaran?

Sejujurnya, setiap kali saya membaca kembali biografi Raden Dewi Sartika, saya akan kembali bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar bisa menjadi sosok seperti beliau?”. Pertanyaan ini muncul sejak pertama kali saya membaca tentang beliau. Saat mengetahui R. Dewi Sartika sudah mulai membuka sekolah di usia 18 tahun, saya bertanya-tanya apa yang saya lakukan di usia itu? Saya masih sibuk dengan diri saya sendiri, sedang beliau sudah merasa cukup dengan dirinya dan sibuk melakukan sesuatu untuk bangsanya.

Saat saya akan menapaki kehidupan pernikahan, saya berharap mendapat pasangan yang tepat seperti R. Dewi Sartika berdampingan dengan R. Kanduruan Agah Suriawinata. Sang suami menjadi “pundak untuk bersandar”, “telinga untuk mendengar”, dan kawan berbalas opini. Suami beliau menjadi pendukung terbesar perjuangan beliau. Demi mendukung R. Dewi Sartika mengembangkan  Sekolah Keutamaan Istri, beliau sampai menolak promosi jabatannya. Beliau sering kali memberikan second opinion agar R. Dewi Sartika tetap berhati-hati dalam melangkah. Agar perjuangan beliau tidak dilarang juga tidak dikendalikan oleh pemerintah Belanda.

Saya bersyukur karena suami saya selalu menjadi teman berbicara yang setara. Pengetahuan beliau yang lebih luas karena berprofesi sebagai jurnalis membuat saya senang berdiskusi dengannya. Ia pun mengizinkan saya mengalokasikan sejumlah waktu saya untuk mengajar di kampus. Ia pun membantu mengedit tulisan-tulisan saya sebelum saya kirim ke koran lokal. Bahkan ia terus mendorong saya melanjutkan pendidikan, hal yang belum saya sanggupi. Sungguh keinginan saya ini “dijawab” oleh Allah.

Saya dan Generasi Milenial

Jika bicara soal inspirasi saya jelas berharap hidup saya bisa memberi manfaat. Bisa menginspirasi banyak orang di sekitar saya. Bahagia rasanya setiap kali ada mahasiswa yang berkata, “Saya juga ingin seperti Ibu. Rutin membaca. Bisa tetap mengurus Niyaz dan Nouriah sambil terus berkegiatan.” Keaktifan saya membaca dan meng-update ulasan di instagram ternyata mampu membuat mereka berpikir bahwa “membaca sepertinya menyenangkan” atau “Sepertinya membaca itu tidak sesulit atau semembosankan yang saya pikir”.

Suatu hari saya meminjamkan satu novel milik saya, dan buku itu berkelana selama kurang lebih sebulan dan dibaca oleh 5 orang. Hal itu sebenarnya di luar dugaan saya. Selain itu saya sangat senang saat mendengar bahwa mereka bisa menyelesaikan novel tersebut dalam 3 hingga 7 hari. Ini bisa meningkatkan kepercayaan diri bahwa mereka bisa menyelesaikan bacaan mereka.

Suatu hari salah seorang mahasiswa saya menghubungi saya untuk mendapat kesempatan wawancara. Ini karena mereka ingin mengangkat profil saya untuk koran online kampus. Menurut mereka keaktifan saya membuat workshop journaling[4] dan bookstagram bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa Universitas Sulawesi Barat. Workshop-workshop yang saya adakan masih tergolong baru dan masih jarang diadakan, bahkan untuk workshop bookstagram belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.

Anak sulung saya bergabung saat saya mengisi workshop

Selain itu, anak-anak saya ikut saya ajak saat saya berkegiatan. Ini membuat mereka (terutama para mahasiswi) semakin meyakini bahwa perempuan bisa terus berkegiatan meski telah menikah dan memiliki anak. Sebab banyak contoh di sekitar mereka bahwa ibu rumah tangga cenderung tidak bergaul dan tidak terlibat dalam kegiatan kreatif. Sedangkan hobi saya yang aktif saya tularkan lebih banyak bergerak di industri kreatif.

Keaktifan saya berkomunitas, membaca, dan menulis ini membuat mereka tertantang untuk berprestasi. Banyak yang kemudian aktif mengikuti lomba menulis. Aktif menulis karya fiksi. Bahkan sejumlah mahasiswa mulai aktif mengulas buku di akun media sosial mereka.

Sebuah kesyukuran bagi saya bisa mendorong mereka untuk aktif berliterasi dan berkomunitas. Meski rasanya apa yang saya lakukan kini masih belum sebesar yang dilakukan oleh R. Dewi Sartika semasa hidup beliau.






[1] Mandar adalah salah satu suku yang mengakar di Provinsi Sulawesi Barat
[2] Yan Daryono. 1996. Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Bandung: Yayasan Awika & PT. Grafitri Budi Utami. Hal. 67
[3] Orang yang rajin meng-update bacaannya di akun instagram. Saat orang lain mem-posting kehidupan sehari-harinya, bookstagram sibuk mengunggah buku di akunnya.
[4] Catatan harian dalam bentuk kreatif. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…