Senin, 19 Desember 2016

[Review Buku] Critical Eleven: Darurat Cerai!



“Toko buku itu bukti nyata bahwa keberagaman selera bisa kumpul di bawah satu atap tanpa harus saling mencela. .... Bookstores are the least discrimination place in the world. ...” (Hal. 14)


Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Editor: Rosi L Simamora
Desain sampul: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 344 halaman
ISBN:978-602-03-1892-9

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critcal eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat –tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing– karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah –delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu atau justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Aya.

Kini, lima setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritkan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya atau, justru keduanya.

***

“..., bandara itu seperti tempat perpisahan sementara. A temporary break form my mundane life.” (Hal. 5)

Novel ini bercerita tentang kehidupan pernikahan Ale dan Anya. Pernikahan yang tengah diguncang prahara. Sebuah musibah ternyata bukannya menguatkan ikatan di antara keduanya, melainkan malah menjauhkan mereka.

Keguguran yang dialami oleh Anya ternyata membuat mereka dirundung duka berkepanjangan. Pernikahan yang berusia 4 tahun itu kini terancam berakhir. Pernyataan yang salah yang datang dari Ale di sebuah malam, 2 pekan setelah kepergian bayi kecil mereka. Pernyataan yang membuat Anye menyimpan sakit hati berkepanjangan. Membuat mereka pisah ranjang, hidup serumah namun tidak saling sapa.

Dan kini pergulatan batin itu menguat. Anya yang ingin mengakhiri pernikahan mereka dan Ale yang ingin mempertahankan apa yang dulu ia miliki bersama Anya. Bagaimana akhir hubungan ini? Bisakah pernikahan bahagia yang mereka alami selama 3 tahun membuat mereka mampu mengarungi duka yang merundung mereka beberapa bulan terakhir?


“Airport is the least aimless place in the world. Everything about the airport is destination.” (Hal. 6)

***
“Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. (Hal. 8)

Novel ini mengangkat tema pernikahan dan dinamikanya. Diceritakan bahwa Anya dan Ale “dulunya” adalah pasangan yang berbahagia. Perkenalan pertama yang manis, pacaran setahun, dan pernikahan 3 tahun hingga akhirnya Anye pun hamil, itu adalah kebahagiaan yang mereka miliki. Namun kemudian tidak lama sebelum tanggal perkiraan melahirkan Anye, bayi yang mereka tunggu-tunggu ternyata tidak terselamatkan. Kemudian di saat duka masih menyelimuti, sebuah pernyataan dari Ale malah melukai hati Anye.


Ok, itu garis besar masalahnya. Yang jadi pertanyaan saya adalah ada sebuah logika yang bolong di sini. Saya paham bahwa Anya pastilah pihak yang paling bersedih. Merasakan 9 bulan kehamilan namun tidak bisa melihat anak yang dikandung menangis dan memeluk tubuh hangatnya pastilah hal yang berat. Namun apakah layak sebuah masalah akibat pernyataan yang dilontarkan Ale yang seolah menyalahkan Anya layak dijadikan batu sandungan yang sebesar karang?

Logikanya, mereka sudah 3 tahun menikah. Komunikasi pastilah sudah terbangun dengan baik. Enggak mungkin selama menikah mereka hanya have fun saja kan? Lagi pula mereka sudah pacaran selama setahun sebelum memutuskan untuk menikah. Aku dan suami yang menikah kurang dari setahun (dan enggak pakai pacaran dulu) sudah beberapa kali bertengkar cukup hebat. Tapi kuncinya adalah komunikasi. Kami memang bertengkar. Marahan. Namun kami belajar berbaikan. Belajar saling bicara dan berusaha berdamai.

Selain itu, penggambaran di keseluruhan cerita, Anya sangat memuja suaminya. Penampilannya, keterampilannya, sifat dan sikapnya, lantas kenapa ia mendadak merasa tidak mengenal suaminya sendiri? Ini membuat tokoh Anya tidak konsisten dalam hal karakter. Ia digambarkan sebagai perempuan yang modern. Dengan pikiran yang terbuka. Kemampuan bersosialisasi yang baik. Lantas kenapa di masalah ini ia menjadi orang yang berpikiran sempit? Bahkan setelah berbulan-bulan masalah itu menggantung di antara dia dan suaminya? Jika memang ia berkarakter semodern itu, kenapa tidak menghadapi suaminya saja. Kemana kemandirian dan percaya dirinya sebagai perempuan modern?

Ini membuat penggambaran kehidupan pernikahan yang disampaikan oleh penulis dalam konflik ini terlalu didramatisasi. Logikanya jadi missing. Sayangnya, missing ini malah jadi fatal karena inilah inti konflik di dalam novel ini. Ditambah lagi ending yang terasa anti-klimaks. Berbulan-bulan saling mendiamkan kemudian endingnya terasa terlalu “mudah”.

Di luar kekurang itu, novel ini sebenarnya cukup menarik. Banyak filosofi kehidupan yang menarik untuk dibaca dan dipikirkan. Namun rasanya di beberapa bagian, novel ini terlalu informatif. Terpaksa membuat saya membaca cepat  beberapa paragraf tertentu karena merasa tidak terlalu terkorelasi dengan konflik cerita.

Oiya, pilihan penulis menggunakan alur campuran adalah pilihan yang bagus untuk menyuguhkan cerita ini . Pun penggambaran cerita dari sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Anya dan Ale membuat seluruh konflik bisa terbaca dengan baik oleh pembaca.

Tapi sedikit pertanyaan dari saya pribadi. Jika Ale digambarkan sebagai muslim taat yang ketika nonton film di bioskop memilih keluar untuk shalat fardhu, kenapa dia pelihara anjing ya? Dan kenapa Ale digambarkan tidak memiliki pergulatan batin terkait kesenangan Anya minum minuman keras ya? Ini malah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh utama di Critical Eleven ini kurang konsisten.

Ok, sekian sedikit pendapat saya tentang novel ini. Harapan saya saat mengetahu bahwa novel ini akan difilmkan adalah logika yang menurut saya bolong di dalam novel ini bisa dibuat menjadi alasan yang kuat melalui emosi yang ditampilkan oleh para tokohnya di dalam film. Sebab saya tahu bahwa duka bisa menjadi alasan atas banyak hal absurd namun di dalam novel, hal ini kurang tereksplorasi. Terlalu banyak pertentangan. Semoga di dalam film eksplorasi emosinya bisa lebih kuat.


“Di pesawat, di bus, di kereta api, berjalan kaki, it somehow brings you to a whole other dimension more than just the physical destination.” (hal. 9)

***
Kumpulan Quote dalam Critical Eleven
 

“Di tempat yang paling seru sekalipun, kita pasti punya batas kebetahan di situ. We need an escape  plan, penting punya pilihan untuk pergi kapan pun kita mau.” (Hal. 12)

“Hati itu bisa disetel kayak AC, Nya. Kalau dulu lo terlalu cepat hangat sama orang, bukan berarti setelah lo pernah sakit dan setelah gue bilang jangan terlalu cepat pakai hati, AC hati lo itu langsung lo turunin serendah-rendahnya. Lo tuh udah kayak freezer sekarang. Distel dikit gitu lho, Nya.” (Hal. 15)

“Waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang terukur dengan skala sama bagi semua orang, tapi memiliki nilai berbeda dengan setiap orang. Satu menit tetap senilai enam puluh detik, namun lamanya satu menit itu berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma, dengan yang sedang dimabuk cinta.” (Hal. 17)

“You just cannot exist without memory. Adanya kita tidak utuh tanpa ingatan.” (Hal. 22)

“Sebagai laki-laki, tugas utama kita adalah mengambil pilihan terbaik untuk diri kita sendiri dan orang-orang yang dekat dan tergantung pada kita. Sering proses mengambil pilihan ini nggak bisa sebentar, Le, harus sabar.” (Hal. 31)

“Lagi pula, aku pikir cinta itu untuk dirasakan sendiri kan, bukan untuk dijelaskan ke orang lain?” (Hal. 36)

“Kata orang, saat kita berbohong satu sekali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sendiri.” (Hal. 57)

“Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu bisa terobati oleh waktu. Dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang kita rindukan dari seseorang yang telah pergi itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit.” (Hal. 95)
“To women, how you deliver the message is sometimes more important than the message itself.” (Hal. 187)

“Hujan dan kenangan bukan perpaduan yang sehat untuk seseorang yang sedang berjuang melupakan.” (Hal. 190)

“Nya, orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.” (Hal. 254)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)