Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Ia Lelaki yang Tidak Peduli

Usia pernikahan saya memang masih seumur jagung. Tanpa masa pacaran yang orang sebut sebagai penjajakan. Hingga sejak awal kami adalah dua orang asing yang memutuskan untuk bersama secara sadar.
Sejak hari pertama setelah ia mengambil alih tanggung jawab Papa dengan sumpah yang mengguncang ‘Arsy-Nya, saya sadar kami adalah dua karakter yang berbeda. Ia adalah lelaki humoris yang lebih senang membagi senyum dan cengiran daripada kata. Sedangkan saya lebih senang mengungkapkan sesuatu lewat kata baik tutur maupun tulisan dan tak pandai mengukir senyum lebar.
Bukan hal mudah untuk saling memahami. Kami menikah dipertemuan kelima, tujuh bulan setelah pertemuan pertama. Saya tidak pernah tahu betapa mandiri ia sebagai lelaki. Tidak pernah ia ingin menyusahkan saya dengan keperluan pribadinya. Hingga sering kali saya merasa tidak dibutuhkan. Sikap ini kemudian ditambah dengan sikap cueknya. Maka ramuan antara sikap mandiri, cuek, dan tidak banyak bertutur kata ini tentu membuat saya sebagai p…