Langsung ke konten utama

Surat Untuk Februari



Teruntuk, Februari
Aku berharap engkau datang membawa ceria
Tidak muluk, cukup perbanyak senyum cerah sang mentari dan minta angin bergoyang sepoi hingga menyejukkan raga dan hatiku

Aku berharap engkau pun mau berkonspirasi bersama alam
Melancarkan usaha yang tengah kuperjuangkan dengan sangat
Dan memudahkan pertemuanku agar mampu membunuh rindu hingga tamat

Teruntuk Februari,
Sejak dulu aku tidak pernah menyematkan warna padamu
Tapi untuk kali ini saja, izinkan aku menyematkan biru padamu.
Kenapa? Karena itu warna keberuntunganku.
Pertama kali bertemu suamiku, aku memakai warna itu.
Dan sejak dulu aku selalu menyukainya. Bukankah langit yang cerah pun sewarna itu?

Teruntuk Februari,
Aku tidak ingin meminta banyak padamu
Hanya saja, aku berharap banyak rencana indah bisa berjalan baik bersamamu

Untuk itu, melalui surat ini, aku ingin mengajakmu bersekutu.
Semoga kau berkenan.
Sampai bertemu esok hari.
Oiya, aku lupa mengucapkan, “Selamat untuk hari ke-29mu yang kembali pulang. Jamu dia dengan baik ya. Sebab ia akan kembali menghilang dan kau akan merindunya selama 4 tahun penuh.”

Salam hangat,

Sekutumu yang Merayumu

***

Hai, ini surat pertama yang kutulis di tahun 2016 ini. Lantas, kenapa kuperuntukkan pada Februari? Ini karena malam ini Januari akan pergi dan mentari pertama Februari akan datang.

Aku sedang menyimpan banyak harap di Februari ini, sehingga merasa perlu untuk menyapanya dengan manis. Bulan ini aku akan sidang untuk tugas akhirku. Teman-teman di komunitas Pecandu Buku pun akan mengadakan kegiatan seru. Selain itu, aku berharap di bulan ini aku pun bisa kembali memecahkan celengan rinduku.

Ah, semoga Februari ini dipenuhi dengan hal-hal baik. Begitupun dengan bulan-bulan berikutnya.

[30 Hari Menulis Surat Cinta, Day 1] 


Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…