Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

[Review Buku] Critical Eleven: Darurat Cerai!

“Toko buku itu bukti nyata bahwa keberagaman selera bisa kumpul di bawah satu atap tanpa harus saling mencela. .... Bookstores are the least discrimination place in the world. ...” (Hal. 14)

Critical Eleven Penulis: Ika Natassa Editor: Rosi L Simamora Desain sampul: Ika Natassa Penerbit: Gramedia Pustaka Cetakan: Pertama, 2015 Jumlah hal.: 344 halaman ISBN:978-602-03-1892-9
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critcal eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat –tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing– karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah –delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal…

Tentang Keteladanan Seorang Perempuan Tangguh

“Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. ....”(Hal. 278)

Judul: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye Editor: Triana Rahmawati Cover: Resoluzy Layout: Alfian Penerbit: Republika Cetakan: I, Oktober 2016 Jumlah hal.: vi + 524 halaman ISBN:9786020-822341 Terima kasihu untuk kesempatan mengenalmu,
itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku.
Cinta memang tidak perlu ditemukan,
cintalah yang akan menemukan kita.
Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali,
aku tidak akan menangis karena suatu telah berakhis,
tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.
Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi.
Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir.
maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.
***
“... Kamu adalah anak seorang pelaut tangguh. Bersabarlah dalam setiap perkara.” (Hal. 95)
Novel ini dibuka dengan penugasan Zaman Zulkarnaen, pemuda asal Indonesia …

Love in Silence

9 Bulan Dibuat Penuh Cinta, Dibuai Penuh Harap

Penulis: dr. Irfan Rahmatullah, Sp.Og Editor: Syafruddin Murbawono Tata letak: Bintang Hanggono, M. Rizal Abdi Ilustrasi isi: Dewantoro Purbo Gesang Desain sampul: M. Rizal Abdi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan: Pertama, 2016 Jumlah hal.: 273 halaman ISBN: 978-602-03-2328-2
Di dalam buku ini Anda bisa menemukan semua jawaban dari berbagai pertanyaan seputar kehamilan yang akan muncul di benak Anda. Dengan lebih dari 500 dan infografis, buku ini akan membantu Anda menemukan semua jawaban atas pertanyaan Anda.
Informasi mulai dari pra-kehamilan, proses kehamilan, komplikasi-komplikasi kehamilan, hingga persalinan- dan bahkan semua kekhawatiran tentang keadaan yang mempersulit kehamilan – dapat Anda temukan di sini. Buku ini dibuat khusus untuk para calon ibu dan ayah dalam mempersiapkan “extraordinary family” dengan informasi dan ilustrasi yang mudah dipahami.
*** Buku ini terbagi menjadi 11 Bab yang khusus membahas tentang kehamilan, yaitu: Pertama dan yang Pertama Kali; Hamil? Apa yang Ha…

Pangeran Pengelana dan Putri Malu

Ajang Kumpul Keluarga yang Kompak

Hidup sebagai perantau membuat hubungan dalam keluargaku sangat erat. Ini karena kami tahu bahwa saat di tanah rantau, tidak ada yang bisa kami andalkan selain keluarga sendiri. Papa, Mama, keempat saudaraku dan aku adalah satu tim. Pekerjaan Papa yang membuat kami hidup berpindah dari satu kota ke kota lain. Terhitung sejak kecil hingga duduk di bangku SMA, aku pernah hidup di 4 kota berbeda. Teman masa kecilku ya saudara-saudaraku sendiri. Apalagi usia kami tidak terpaut jauh. Hanya berbeda satu hingga dua tahun.
Lebaran selalu menjadi ajang pembuktian kekompakan kami. He..he.. Kenapa? Karena entah sejak kapan, muncul tradisi untuk memakai seragam lebaran. Baju keluarga. Baju kebangsaan ibn Rasyid. Biasanya sebisa mungkin warna bajunya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pun semua tidak seragam, minimal aku dan mama memakai baju dengan model dan warna yang sama, mengingat hanya aku seorang anak perempuan yang dimiliki papa dan mama. Sedangkan papa dan saudara laki-lakiku bias…

Ajang Kumpul Keluarga yang Kompak

Hidup sebagai perantau membuat hubungan dalam keluargaku sangat erat. Ini karena kami tahu bahwa saat di tanah rantau, tidak ada yang bisa kami andalkan selain keluarga sendiri. Papa, Mama, keempat saudaraku dan aku adalah satu tim. Pekerjaan Papa yang membuat kami hidup berpindah dari satu kota ke kota lain. Terhitung sejak kecil hingga duduk di bangku SMA, aku pernah hidup di 4 kota berbeda. Teman masa kecilku ya saudara-saudaraku sendiri. Apalagi usia kami tidak terpaut jauh. Hanya berbeda satu hingga dua tahun.
Lebaran selalu menjadi ajang pembuktian kekompakan kami. He..he.. Kenapa? Karena entah sejak kapan, muncul tradisi untuk memakai seragam lebaran. Baju keluarga. Baju kebangsaan ibn Rasyid. Biasanya sebisa mungkin warna bajunya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pun semua tidak seragam, minimal aku dan mama memakai baju dengan model dan warna yang sama, mengingat hanya aku seorang anak perempuan yang dimiliki papa dan mama. Sedangkan papa dan saudara laki-lakiku bias…

Ia Lelaki yang Tidak Peduli

Usia pernikahan saya memang masih seumur jagung. Tanpa masa pacaran yang orang sebut sebagai penjajakan. Hingga sejak awal kami adalah dua orang asing yang memutuskan untuk bersama secara sadar.
Sejak hari pertama setelah ia mengambil alih tanggung jawab Papa dengan sumpah yang mengguncang ‘Arsy-Nya, saya sadar kami adalah dua karakter yang berbeda. Ia adalah lelaki humoris yang lebih senang membagi senyum dan cengiran daripada kata. Sedangkan saya lebih senang mengungkapkan sesuatu lewat kata baik tutur maupun tulisan dan tak pandai mengukir senyum lebar.
Bukan hal mudah untuk saling memahami. Kami menikah dipertemuan kelima, tujuh bulan setelah pertemuan pertama. Saya tidak pernah tahu betapa mandiri ia sebagai lelaki. Tidak pernah ia ingin menyusahkan saya dengan keperluan pribadinya. Hingga sering kali saya merasa tidak dibutuhkan. Sikap ini kemudian ditambah dengan sikap cueknya. Maka ramuan antara sikap mandiri, cuek, dan tidak banyak bertutur kata ini tentu membuat saya sebagai p…