Langsung ke konten utama

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Untukmu yang Datang Tanpa Terduga di Hidupku



Sesuai janjiku padamu. Hari ini aku menulis sebuah surat untukmu.

Bukan karena hari ini orang-orang sibuk dengan perayaan hari kasih sayang yang bahkan tidak dikenal dalam tradisi bangsa ini ataupun tradisi suku kita. Ini karena secara kebetulan keluarga besar kita memilih tanggal ini untuk acara lamaran kita.

Bagi sebagian orang kondisi kita sekarang cukup aneh. Bagaimana mungkin aku tetap di Bekasi sedangkan di seberang lautan sana keluargamu datang menyampaikan niatan untuk meminangku untukmu. Tapi bagiku ini adalah bagian dari kisah kita. Tentang aku yang melanjutkan upaya menyelesaikan studi dan kamu yang bersiaga di sana menungguku pulang.

Cinta, bukan bagian dari kita, tapi in-syaAllah kelak akan menyata di dalamnya. Lebih wajar menyebut ini ketertarikan yang disikapi dengan serius.


Bagiku, kehadiranmu dalam hidupku yang tidak terduga mungkin sudah ditakdirkanNya. Aku dan kamu tidak pernah menyangka bahwa sejak pertemuan pertama itu, lima bulan kemudian kita akan mulai menjalani satu demi satu tahapan untuk bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Memulainya dengan sebuah tradisi lamaran. Ah, salah. Langkah itu bahkan sudah dimulai saat Desember lalu keluargamu datang ke rumah salah seorang pamanku sebagai bagian dari tradisi messisi’ dalam anat Mandar. Siapa yang menduga bahwa kita akan menjalaninya secepat itu? Jelas bukan aku orangnya. 

Keyakinan untuk menerima hadirmu adalah hal yang menyelusup datang begitu saja. Menyambut uluran pertemanan di media sosial pun kulakukan tanpa praduga. Meski tidak lama kemudian kamu dengan nada bercanda melamarku via inbox sosial media itu. Tidak berapa lama aku pun menyadari bahwa semua ajakan menikah itu bukanlah canda semata. Engkau pun tanpa ragu datang bertemu orang tuaku. Dan tidak lama kemudian melibatkan orang tuamu dalam hubungan ini. 

Hatiku sejujurnya melambung dengan sikap gentle yang kau tampilkan. Kedewasaan yang mewujud dari kemampuanmu memahami pola pikirku yang berantakan. Penerimaanmu untuk setiap hal dalam diriku yang sering kali tidak mampu dimengerti orang lain. Sikap diammu saat kekesalanmu atas sikapku tengah memuncak dan kemudian kau akan datang kembali seraya berkata,”Jika dipikir suatu hal tidak baik dan memang tidak baik, maka mari bicarakan baik-baik biar hasilnya jadi baik.” Setelah itu, kita pun memahami betapa banyak hal di dalam diri kita yang cukup berbeda. Kompromi pun datang darimu dan sesekali dariku.
 
Lihatlah seberapa berbedanya kita. Kamu adalah laki-laki yang mudah sekali tertawa, sedangkan aku adalah perempuan yang bahkan ekspresi diamnya saja membuat orang tak berani menyapa. Kamu adalah seseorang yang selalu mampu menemukan sisi lucu dari sebuah peristiwa, sedangkan aku lebih banyak menangkap wajah sendu. Kamu adalah laki-laki yang sering kali bersikap tidak peduli, sedangkan aku sangat suka menjadi pemerhati.

Namun kesabaran dan upaya memahamimu menjadi penengah bagi semua perbedaan itu. Semoga semua perbedaan ini terus bisa kita jembatani.

Dalam dirimu kutemukan ketangguhan yang kucari. Kekokohan yang kuharapkan mampu mendukungku. Serta kehadiran mimpi-mimpi - yang butuh waktu lama untuk kubuat kau mengakuinya- yang membuatku ingin mendukungmu. Semua hal itu menjadi salah satu alasanku bersedia menerima niatan baikmu.

Di sisi lain, ada satu hal yang sampai sekarang dipertanyakan oleh keluarga besar kita. “Bagaimana bisa dengan hanya sekali bertemu kalian berani memutuskan untuk menikah?” Iya, itu bukan hal yang umum di masa kini. *tapi di masa lalu aku percaya ini adalah hal yang lumrah terjadi* Bahkan hingga kini, hingga surat ini kutuliskan, kita belum pernah lagi bertemu untuk kedua kalinya. Namun aku tetap saja memiliki keyakinan bahwa insyaAllah ini adalah yang terbaik. Dan semoga memang begitu adanya.

Surat ini kutuliskan sebagai salah satu caraku mengenang fragmen cerita kita. Menjadikannya bagian dari kepingan orang-orang yang membacanya. Kelak saat kisah ini menemukan akhir yang bahagia, cerita kita bisa menjadi saksi atas “Rencana yang hanya menjadi rahasiaNya”. Bahwa sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia.

Kebetulan aku masih di Majene dan terlibat dalam Bedah Buku. Kebetulan kamu datang dalam rangka meliput Bedah Buku tersebut. Kebetulan bahwa hari itu kita berada dalam satu forum rapat informal yang sama. Dan semua kebetulan itu mengalir menjadi sebuah rencana besar. Masih bisakah kita menyebutnya kebetulan?

Ah, sudahlah. Ceritaku akan semakin melantur kemana-mana.

Biarkan aku menutup surat ini dengan sebuah harap bahwa jika memang namaku yang dicatatkanNya sebagai takdirmu, maka semoga semua rencana baik kita dilancarkan. Jika tidak? Semoga Dia memberi kita yang terbaik (^_^)

Selamat datang di duniaku. Dunia yang sering kusebut sebagai “jendela yang terbuka”. Semoga tak ada keberatan di hatimu saat aku membagi sepotong kisah kita ke dalam sel abu-abu orang lain melalui tulisan ini. Sebab aku tahu betapa kamu lebih memilih menyimpan banyak hal untuk dirimu sendiri. Kalaupun ada keberatan, ingatlah, aku menulis surat ini pun atas permintaanmu :P *cari alasan..he..he..*

Semoga setelah ini semua persiapan pernikahan kita dilancarkan.
Salam teriring do’a

Ika (bukankah ini namaku yang paling kau sukai?)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…