Sabtu, 14 Februari 2015

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Untukmu yang Datang Tanpa Terduga di Hidupku



Sesuai janjiku padamu. Hari ini aku menulis sebuah surat untukmu.

Bukan karena hari ini orang-orang sibuk dengan perayaan hari kasih sayang yang bahkan tidak dikenal dalam tradisi bangsa ini ataupun tradisi suku kita. Ini karena secara kebetulan keluarga besar kita memilih tanggal ini untuk acara lamaran kita.

Bagi sebagian orang kondisi kita sekarang cukup aneh. Bagaimana mungkin aku tetap di Bekasi sedangkan di seberang lautan sana keluargamu datang menyampaikan niatan untuk meminangku untukmu. Tapi bagiku ini adalah bagian dari kisah kita. Tentang aku yang melanjutkan upaya menyelesaikan studi dan kamu yang bersiaga di sana menungguku pulang.

Cinta, bukan bagian dari kita, tapi in-syaAllah kelak akan menyata di dalamnya. Lebih wajar menyebut ini ketertarikan yang disikapi dengan serius.


Bagiku, kehadiranmu dalam hidupku yang tidak terduga mungkin sudah ditakdirkanNya. Aku dan kamu tidak pernah menyangka bahwa sejak pertemuan pertama itu, lima bulan kemudian kita akan mulai menjalani satu demi satu tahapan untuk bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Memulainya dengan sebuah tradisi lamaran. Ah, salah. Langkah itu bahkan sudah dimulai saat Desember lalu keluargamu datang ke rumah salah seorang pamanku sebagai bagian dari tradisi messisi’ dalam anat Mandar. Siapa yang menduga bahwa kita akan menjalaninya secepat itu? Jelas bukan aku orangnya. 

Keyakinan untuk menerima hadirmu adalah hal yang menyelusup datang begitu saja. Menyambut uluran pertemanan di media sosial pun kulakukan tanpa praduga. Meski tidak lama kemudian kamu dengan nada bercanda melamarku via inbox sosial media itu. Tidak berapa lama aku pun menyadari bahwa semua ajakan menikah itu bukanlah canda semata. Engkau pun tanpa ragu datang bertemu orang tuaku. Dan tidak lama kemudian melibatkan orang tuamu dalam hubungan ini. 

Hatiku sejujurnya melambung dengan sikap gentle yang kau tampilkan. Kedewasaan yang mewujud dari kemampuanmu memahami pola pikirku yang berantakan. Penerimaanmu untuk setiap hal dalam diriku yang sering kali tidak mampu dimengerti orang lain. Sikap diammu saat kekesalanmu atas sikapku tengah memuncak dan kemudian kau akan datang kembali seraya berkata,”Jika dipikir suatu hal tidak baik dan memang tidak baik, maka mari bicarakan baik-baik biar hasilnya jadi baik.” Setelah itu, kita pun memahami betapa banyak hal di dalam diri kita yang cukup berbeda. Kompromi pun datang darimu dan sesekali dariku.
 
Lihatlah seberapa berbedanya kita. Kamu adalah laki-laki yang mudah sekali tertawa, sedangkan aku adalah perempuan yang bahkan ekspresi diamnya saja membuat orang tak berani menyapa. Kamu adalah seseorang yang selalu mampu menemukan sisi lucu dari sebuah peristiwa, sedangkan aku lebih banyak menangkap wajah sendu. Kamu adalah laki-laki yang sering kali bersikap tidak peduli, sedangkan aku sangat suka menjadi pemerhati.

Namun kesabaran dan upaya memahamimu menjadi penengah bagi semua perbedaan itu. Semoga semua perbedaan ini terus bisa kita jembatani.

Dalam dirimu kutemukan ketangguhan yang kucari. Kekokohan yang kuharapkan mampu mendukungku. Serta kehadiran mimpi-mimpi - yang butuh waktu lama untuk kubuat kau mengakuinya- yang membuatku ingin mendukungmu. Semua hal itu menjadi salah satu alasanku bersedia menerima niatan baikmu.

Di sisi lain, ada satu hal yang sampai sekarang dipertanyakan oleh keluarga besar kita. “Bagaimana bisa dengan hanya sekali bertemu kalian berani memutuskan untuk menikah?” Iya, itu bukan hal yang umum di masa kini. *tapi di masa lalu aku percaya ini adalah hal yang lumrah terjadi* Bahkan hingga kini, hingga surat ini kutuliskan, kita belum pernah lagi bertemu untuk kedua kalinya. Namun aku tetap saja memiliki keyakinan bahwa insyaAllah ini adalah yang terbaik. Dan semoga memang begitu adanya.

Surat ini kutuliskan sebagai salah satu caraku mengenang fragmen cerita kita. Menjadikannya bagian dari kepingan orang-orang yang membacanya. Kelak saat kisah ini menemukan akhir yang bahagia, cerita kita bisa menjadi saksi atas “Rencana yang hanya menjadi rahasiaNya”. Bahwa sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia.

Kebetulan aku masih di Majene dan terlibat dalam Bedah Buku. Kebetulan kamu datang dalam rangka meliput Bedah Buku tersebut. Kebetulan bahwa hari itu kita berada dalam satu forum rapat informal yang sama. Dan semua kebetulan itu mengalir menjadi sebuah rencana besar. Masih bisakah kita menyebutnya kebetulan?

Ah, sudahlah. Ceritaku akan semakin melantur kemana-mana.

Biarkan aku menutup surat ini dengan sebuah harap bahwa jika memang namaku yang dicatatkanNya sebagai takdirmu, maka semoga semua rencana baik kita dilancarkan. Jika tidak? Semoga Dia memberi kita yang terbaik (^_^)

Selamat datang di duniaku. Dunia yang sering kusebut sebagai “jendela yang terbuka”. Semoga tak ada keberatan di hatimu saat aku membagi sepotong kisah kita ke dalam sel abu-abu orang lain melalui tulisan ini. Sebab aku tahu betapa kamu lebih memilih menyimpan banyak hal untuk dirimu sendiri. Kalaupun ada keberatan, ingatlah, aku menulis surat ini pun atas permintaanmu :P *cari alasan..he..he..*

Semoga setelah ini semua persiapan pernikahan kita dilancarkan.
Salam teriring do’a

Ika (bukankah ini namaku yang paling kau sukai?)

2 komentar:

  1. Awww, so sweet! :">
    Semoga semuanya lancar, kak! :)

    BalasHapus
  2. Semoga dimudahkan dan dilancarkan segala persiapannya. Yg perlu diingat adalah "lamaran" belum menjadikan suatu hub menjadi halal. Maka jagalah mata, hati dan pendengaran serta anggota lain dr zinanya sampe hari itu tiba agar keberkahan itu didapatkan. Dan sempurnakanlah proses nikah itu dengan tidak menghadirkan hal2 yg diharamkan oleh Allah.. Barakallahu. Amin.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)