Sabtu, 21 Februari 2015

Rinduku Padamu, Litaq Mandar



Pernahkah kau merasa terlambat jatuh cinta?

Merutuki diri sendiri dengan perkataan semacam, “Kenapa baru sadar sekarang? Kenapa baru sukanya sekarang?”

Aku kini merasainya. Ada sebuah penyesalan yang menumpuk di sudut hati. Sebab baru menyadari betapa mudahnya jatuh cinta padanya. Betapa banyak hal yang dimilikinya hingga mampu membuatku terpesona.

Aku jatuh cinta pada kampung halamanku, Litaq Mandar (Tanah Mandar). Tanah yang membentang di pesisi barat Sulawesi; dari Polewali hingga Mamuju; dari Paku hingga Suremana; di sepanjang Provinsi Sulawesi Barat. Tanah yang sejak kecil kutinggalkan karena ikut merantau bersama kedua orang tua.

Aku terlambat jatuh cinta. Butuh 25 tahun hingga akhirnya aku dibuatnya terpesona. Bahkan tahun lalu untuk pertama kalinya aku diberikan kesempatan merayakan peringatan hari kelahiranku sendiri di tepi pantainya. Menghadiahi diriku dengan pesona pantai yang tenang dan hutan Bakau di Gonda. 

Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta? Bagaimana aku tidak merindunya pada saat raga ini ada di tanah rantau?

Aku merindu sebab kini aku memahami indahnya Teluk Mandar. Aku tak bisa berhenti menatap pemandangan senja sewarna lembayungnya. Menatapnya perlahan ditelan lautan. Aku suka mengabadikannya dengan kamera, namun aku pun tidak bisa berhenti mengabadikannya dalam hati dan benakku. 

Seorang pria pernah berkata padaku saat kami menatap senja bersama,”Tidak perlu kamera untuk mengabadikan saat ini. Cukup di sini dan di sini,” katanya sambil menunjuk keningnya kemudian dadanya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Sebab, kamera tidak akan mampu merekam dengan tepat perasaan yang dirasakan sekarang.”

Aku bungkam. Tepat apa yang dikatakannya. Kadang kenangan tidak akan terasa persis sama ketika ditatap dalam selembar foto. Sejak obrolan itu, aku dan pria itu jadi akrab. Bukan kekasih. Tetap kami tahu kami saling peduli.

Senja di Teluk Mandar, tepi Pantai Pamboang di Kota Majene, menyimpan banyak kenangan. Dan satu yang paling membekas adalah sesi obrolan dengan filsuf dalam hidupku, papaku. Ia selalu senang menganalogikan kehidupan dengan senja.

“Lihatlah, hari ini mataharinya bulat sempurna. Bukankah kemarin tertutup awan mendung? Seperti itulah kehidupan. Hidup itu seperti menanti senja. Jika beruntung kita akan berkesempatan melihat matahari yang bulat sempurna tenggelam. Namun jika tidak beruntung maka pandangan kita akan terhalang awan. Seperti itulah hidup. Tidak terduga. Dan jika awan datang menghalangi pandangan, maka belajarlah menerima keadaan. Karena pemandangan langit setelah matahari tenggelampun masih indah, nak. Masih ada Bulan dan Bintang yang akan menggantung di langit.”

Itu salah satu pemikiran papa yang selalu kuingat tentang senja dan kehidupan. Dan papa adalah alasan lain kenapa aku merindukan Litaq Mandar. Papa memilih menghabiskan masa tua di tanah kelahirannya. Membangun kehidupan yang diimpikannya.

“Papa membuat Dapur Mandar, agar anak-anak papa tidak lupa akarnya. Agar mereka tahu bahwa selalu ada tempat untuk pulang. Di sini. Di kampung kita sendiri.”

Kekhawatiran papa ini jelas beralasan. Papa telah membawa kami, anak-anaknya, merantau ke berbagai negeri. Aku bahkan sampai saat ini masih hidup di negeri rantau. Mengembangkan diri, menggapai impian, dan meniti kehidupan. Dulu aku selalu bingung dengan kata “Pulang”. Kemana? Apakah ke Makassar, ke Bandung, ke Tarakan, atau ke Majene? Dan kini aku sudah tahu, saat berkata Pulang maka itu berarti adalah melangkah kembali ke Litaq Mandar.

Selain senjanya yang tersimpan diingatan, Litaq Mandar juga punye pesona lain. Ia memiliki gunung dengan pemandangan yang indah. Bagaimana tidak indah jika saat mendaki kau akan mendapati sungai yang jernih?! Bagaimana tidak indah jika di titik tertentu kau akan melihat tanah yang hijau berdampingan dengan lautan yang biru?! Bagaimana tidak indah jika di sepanjang perjalanan kau akan bertemu orang-orang tangguh?! Orang-orang yang demi bersekolah, harus berjalan kaki menuruni gunung dan menempuh 10-15 km. Jalan yang mereka tempuh jelas tidak mudah, terutama jika hujan besar datang. Sungai-sungai menjadi deras dan mereka jelas harus rela kuyup. (>_<) Ah, masih bisakah aku berkata hidupku berat?

Dan kini bertambah lagi hal yang membuatku ingin segera pulang. Aku ingin menikmati matahari terbit bersama seorang lelaki yang telah melamarku. Kami tengah menunggu tanggal bahagia. Sama-sama menghitung purnama. Sama-sama berharap jarak akan terhapus dan kami bisa segera bertemu. Dia lelaki Mandar yang hanya perlu sekali berjumpa untuk memutuskan pilihannya. Menjadikanku istrinya.

Jadi, lihatlah itu baru tiga jawaban yang menjelaskan kenapa aku tidak berhenti merindukan Litaq Mandar. Dan ketiga jawaban itu berarti sangat besar dalam hidupku. Masih perlukah kusebutkan alasan lainnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)