Rabu, 11 Februari 2015

[Rabu Menulis]

Aku pernah dengan bangga berkata, "kelak calon suamiku harus bersyukur sebab aku bukan pecinta film Korea. Aku tidak dibuai mimpi romantis."

Ah kalimat itu segera dibantah oleh Heru, "bersyukur apanya? Mimpi romantismu lebih sadis! Mana ada perempuan yang mimpinya dilamar di atas balon udara saat senja?"

Tanggapannya sukses membuatku menghadiahinya pelototan.
Heru ini adalah gambaran tetanggaku idola sekolahku. Yup, siapa yang gak akan naksir ke cowok dengan alis tebal, mata belo,  tulang rahang tegas, dan hidungan mancung? Tambahkan pula daftar jabatan Ketua Osis SMA Harapan Bangsa. Oh, dan jangan lupa curriculum vitae yang berisi daftar prestasinya yang panjang. Salah satunya dapat mendali emas untuk Olimpiade Kimia di tingkat nasional.

Ah, kenapa sih harus punya tetangga seperfect itu? Selain harus rela dibanding-bandingkan oleh mama. Aku juga harus rela sport jantung tiap hari.
Sejak setahun lalu. Setiap kali ia ada di dekatku jantung ini sering berdebar berlebihan. Sejak ia mulai memilih menghabiskan waktu di dapur rumahku, menjamah buku-buku koleksi papa,  dan menjauh dari rumahnya sendiri.

"Aku malas mendengarkan dua orang dewasa yang sibuk bertengkar seperti anak-anak," katamu suatu hari dengan nada sinis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)