Rabu, 18 Februari 2015

[Rabu Menulis] Pilih Kalimat Pertamamu

18-2-2015 16:34

Akhirnya aku mendengar suaramu. Butuh ribuan hari bagiku untuk kembali bisa merekam tawamu dalam benakku. Padahal kau berjanji bahwa dalam 14 purnama kamu akan kembali.

Tahukah kau, sudah berapa purnama aku menunggumu? 36 purnama.
Dan tahukah kau betapa aku selalu menunggu dari purnama pertama hingga purnama ke-13 berakhir seraya berharap kau akan datang pada purnama berikutnya.

Ada dongeng tentang purnama ke-14 di sini.
Mereka menyebutnya sebagai penyempurna penantian. Ketika saat itu datang seluruh harapan yang kau titip di 13 purnama sebelumnya akan mewujud.

Tahukah kau, 2 kali aku menitipkan pinta pada 13 purnama yang datang.
Pikirku bukan kebetulan engkau memilih 14. Bukan sekedar untuk menenangkan hatiku.

"Dinda, aku harus pergi. Mengambil rezeki untuk meminangmu. Sayangnya, rezeki itu tak disimpin di sini. Kakak mendapat panggilan dari paman untuk kerja di Malaysia"

Bukan hal asing mendapati pemuda dari kampung ini pergi merantau ke negeri seberang. Ada yang tak kembali namun lebih banyak yang pulang. Aku pun hanya bisa diam dan menunduk. Mengangguk lemah. Sebab aku tahu kita tak punya pilihan lain. Ayah takkan mau mengizinkanku menikah denganmu tanpa sebidang tanah yang tidak kau miliki. Maka cara apa lagi yang kau punya untuk bisa mengumpulkan uang itu?

Sejak kau pergi, aku selalu menanti datangnya purnama. Menanti rembulan bulat sempurna. Aku menjadi cukup kenal dengannya. Mengerti indahnya yang dinodai oleh titik-titik hitam. Atau sesekali dikelilingi lingkar putih bak malaikat. Namun kau tahu, ia lebih sering tersembunyi oleh awan gelap. Biasanya saat itu harapku berubah menjadi keraguan.

Kini, saat aku menanti purnama ke-14 untuk yang ketiga kalinya, engkau datang. Seketika hatiku bergemuruh. Dengan sengaja aku mendatangi Karmila, sepupumu yang juga tetanggamu. Karmila, gadis yang sebaya denganku. Sama sepertiku, belum menikah. Jika aku memilih sendiri karena menunggumu, maka ia menjomblo karena tidak lagi percaya cinta.

Ah, hatiku menghangat mendengar tawamu. Malam ini purnama ke-36. Rinduku padamu terbayar. Namun janjimu tak lagi tertepati. Kau datang tidak sendiri. Di sisimu seorang perempuan cantik berkulit putih dengan kerudung biru. Seorang bocah laki-laki kau pangku dengan penuh bangga. Bajunya kotak-kotak cerah. Aku yakin itu baju baru.

Apakah hanya aku yang ingat tentang janji malam itu? Kemana kau buang ingatan itu? Seharusnya aku percaya kata Ayah, "Ia memilihmu karena dia ingin derajatnya terangkat di kampung ini. Menikahi kepala desa tentu bisa memenuhi keinginannya. Berhentilah menunggunya. Sebab ketika ia sudah punya kekayaan, dia tidak akan membutuhkanmu lagi"

18-02-2015 16:49

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)