Minggu, 08 Februari 2015

Pergi & Pulang

Pulang, selalu jadi kata yang sulit didefinisikan. Menjadi perantau membuat kata ini selalu disertai rindu. Pada hangat kasih, pada pelukan papa-mama.

***

"Nak, tetap jaga diri di sana. Siri' keluarga kita ada di anak perempuan. Kamu, satu-satunya putri Papa, " itu pesan Papa di bandara saat mengantarku. Mama hanya membisu. Dengan lembut dirapikannya jilbabku.
"Jaga hijab ta' nak. Kalau Nia selalu jaga kehormatan dengan hijab, orang lain akan segan berbuat buruk ke Nia," bisik mama lembut. 

Kepergianku ke Bandung ini memang untuk yang pertama kali. Dan bukan untuk waktu yang singkat. Ini untuk melanjutkan mimpi dan mengobati luka hati. 

***

Papa nampak terpaku menatap ruang keluarga yang berantakan. Di pojok ruangan sejumlah koper tersusun rapi. Mama sibuk menyalami sanak keluarga yang berpamitan. Aku pun pelan-pelan mendekati papa.

"Papa, jangan terus dipikirkan. Paling tidak keluarganya datang baik-baik untuk membatalkan pernikahan ini, " ucapku lirih. 

"Apanya yang baik-baik? Ini dua minggu sebelum pesta! Sekarang mau ditaruh di mana muka papa?“

"Pa, biarkan orang membicarakan ini. Kita jangan pusing. Kesalahan bukan dari kita. Siapa yang menduga Kak Ridho ternyata akan silariang dengan pacarnya?"

Bukankah resiko perjodohan seperti ini. Sayangnya Nia tidak membentengi hati dengan baik, bisikku dalam hati.

"Pa, Nia sudah mendaftar untuk program Magister HI di Bandung. Sabtu ini, Nia akan berangkat untuk mengikuti ujian tulisnya," berita mendadak ini membuat papa menegakkan punggungnya. 

Sejak kedatangan keluarga Kak Ridho pekan lalu, aku segera mencari jalan keluar untuk melarikan diri. Menjauh dari bisik-bisik yang akan segera terdengar. Tentang mempelai perempuan yang batal menikah. Tentang laki-laki yang memilih kekasihnya daripada calon istrinya. 

Aku tahu, ini bukan jalan terbaik. Tapi hanya ini cara yang aku temukan untuk membuktikan pada dunia aku baik-baik saja


Ini adalah tulisan yang dibuat dalam 15 menit dalam Tantangan Nulis bersama Gagas Media, Ninit Yunita, dan Adhitya Yudis

2 komentar:

  1. meski lari tak kan menyelesaikan masalah, tp bisa mengobati hati... Sepertinya sebuah inspirasi lg

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)