Langsung ke konten utama

Pergi & Pulang

Pulang, selalu jadi kata yang sulit didefinisikan. Menjadi perantau membuat kata ini selalu disertai rindu. Pada hangat kasih, pada pelukan papa-mama.

***

"Nak, tetap jaga diri di sana. Siri' keluarga kita ada di anak perempuan. Kamu, satu-satunya putri Papa, " itu pesan Papa di bandara saat mengantarku. Mama hanya membisu. Dengan lembut dirapikannya jilbabku.
"Jaga hijab ta' nak. Kalau Nia selalu jaga kehormatan dengan hijab, orang lain akan segan berbuat buruk ke Nia," bisik mama lembut. 

Kepergianku ke Bandung ini memang untuk yang pertama kali. Dan bukan untuk waktu yang singkat. Ini untuk melanjutkan mimpi dan mengobati luka hati. 

***

Papa nampak terpaku menatap ruang keluarga yang berantakan. Di pojok ruangan sejumlah koper tersusun rapi. Mama sibuk menyalami sanak keluarga yang berpamitan. Aku pun pelan-pelan mendekati papa.

"Papa, jangan terus dipikirkan. Paling tidak keluarganya datang baik-baik untuk membatalkan pernikahan ini, " ucapku lirih. 

"Apanya yang baik-baik? Ini dua minggu sebelum pesta! Sekarang mau ditaruh di mana muka papa?“

"Pa, biarkan orang membicarakan ini. Kita jangan pusing. Kesalahan bukan dari kita. Siapa yang menduga Kak Ridho ternyata akan silariang dengan pacarnya?"

Bukankah resiko perjodohan seperti ini. Sayangnya Nia tidak membentengi hati dengan baik, bisikku dalam hati.

"Pa, Nia sudah mendaftar untuk program Magister HI di Bandung. Sabtu ini, Nia akan berangkat untuk mengikuti ujian tulisnya," berita mendadak ini membuat papa menegakkan punggungnya. 

Sejak kedatangan keluarga Kak Ridho pekan lalu, aku segera mencari jalan keluar untuk melarikan diri. Menjauh dari bisik-bisik yang akan segera terdengar. Tentang mempelai perempuan yang batal menikah. Tentang laki-laki yang memilih kekasihnya daripada calon istrinya. 

Aku tahu, ini bukan jalan terbaik. Tapi hanya ini cara yang aku temukan untuk membuktikan pada dunia aku baik-baik saja


Ini adalah tulisan yang dibuat dalam 15 menit dalam Tantangan Nulis bersama Gagas Media, Ninit Yunita, dan Adhitya Yudis

Komentar

  1. meski lari tak kan menyelesaikan masalah, tp bisa mengobati hati... Sepertinya sebuah inspirasi lg

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…