Minggu, 22 Februari 2015

Bukan Surat Cinta Terakhir



Dear Kak Nail Authar,
 
Ini memang bukan surat cinta pertama dariku untukmu, Kak. Dan sepertinya tidak akan jadi yang terakhir. Semoga masih ada waktu yang panjang dan banyak hal yang bisa kita rayakan bersama yang mendorongku untuk menulis surat-surat cinta lainnya. Liburan pertama bersama, hari kelahiranmu yang kita rayakan bersama, atau waktu-waktu yang lain akan kita rayakan dengan kehangatan yang membuncah di dada, atau di saat aku terlalu sulit menggambarkan perasaanku dihadapanmu. Mungkin di saat itu akan kau dapati lagi surat cinta dariku. Entah terselip di bawah laptopmu, di bawah bantalmu, atau kuletakkan begitu saja di meja makan agar segera kau baca.

Saat surat ini kutuliskan kita masih terus berkawan dengan jarak. Masih dipisahkan oleh lautan. Belum bertatap muka untuk yang kedua kalinya. Tapi bersamaan dengan itu, keluarga kita tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan. 

Beberapa hari lalu aku sempat menelponmu dan berdiskusi tentang undangan. Sepele sih masalahnya, tapi membuatku cukup frustasi karena bagiku ini masalah sensitif. Kamu kemudian berkata,”Ya ikut saja keinginan orang tua. Lagi pula sejak awal kita setuju mengikuti keinginan orang tua tentang resepsi. Jadi ya sudah tidak perlu bingung. Ikuti saja. Kalau masalah seperti ini saja Ika sudah pusing bagaimana hal yang lainnya?”

Jawaban itu benar-benar khas dirimu. Menjauhi konfrontasi. Bersikap cuek. Berkebalikan dengan karakterku. Mendengar jawaban itu awalnya aku kesal hingga segera mengakhiri pembicaraan. Namun jawabanmu masuk ke benakku dan pada akhirnya aku pun membenarkannya.

Kak, tetaplah begitu. Menjadi second opinion-ku

Tetap jadi orang yang mampu mengingatkanku untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Mengingatkanku untuk tidak membuat masalah kecil terasa besar seburuk apapun keadaanku.

Bagi perempuan yang sering dianggap terlalu mandiri, aku sering kali mengambil keputusan sendiri. Mengambilnya dengan cepat dan meyakininya sebagai yang paling tepat. Sayangnya aku sering lupa, aku sendiri pun memiliki batasan kemampuan. Maka kehadiran seseorang yang menjadi pemberi saran sekaligus memahami karakterku sangat kubutuhkan. 

Be my 2nd fighter. Be my 2nd opinion. Aku nggak akan minta Kak Nail maju dan menggantikanku dalam perangku sendiri. Aku hanya berharap kakak bisa menjadi pendukungku. Penasihatku. Penghidup semangatku.

***

Seperti yang selama ini kita bicarakan dan sadari. Kita memiliki karakter yang berbeda. Kakak bukanlah orang yang senang menyampaikan perasaan dalam kata. Kakak malas menghabiskan energi dengan berbicara. Kakak lebih memilih menghabiskannya dalam tawa.

Sayangnya, tidak semua hal terjawab dengan tawa. Terkadang ada hal-hal yang memang harus dijawab dengan kata. Itu sebabnya, rasa kesal sedikit terpercik dari hatimu saat teman-teman di sekelilingmu sibuk menanyai tentang hubungan kita. “Kakak malas menjawab. Lagi pula kalau pun kakak jelaskan mereka tetap sibuk dengan spekulasinya sendiri. Jadi biarkan saja.” Ada kesan tidak peduli di sana. Namun ada nada kekesalan di dalamnya.

Aku pun menanggapinya dengan berkata, “Lain kali bilang saja untuk menanyakannya ke Ika. Atau baca tulisan-tulisan ika saja. Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mereka ada di sana, kok.” Aku tertawa sebelum mengatakannya. Menyadari bahwa ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu.

Aku akan jadi juru bicaramu, kak. Menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin kau jawab.

He..he.. untuk hal yang satu ini aku bisa melakukannya, untukmu. Dalam batasan yang kau terima tentu saja. Dan paling penting atas seizinmu, kak.

***

Beberapa hari lalu kakak mengirimiku BBM yang berisi informasi tentang event menulis. Aku tersenyum membacanya. Informasi itu tanpa didahului atau diikuti oleh kalimat apapun. Tapi aku tahu itu bukan pesan broadcast yang kau kirimkan ke orang lain. Dan hal ini bukan kali ini saja kau lakukan.

Kakak pasti tahu kenapa aku tersenyum? Karena aku tahu ada kepedulian yang kau berikan. Ada perhatian yang kau sampaikan. Kau seolah berkata,

“Lakukanlah. Kejar mimpimu. Aku selalu mendukungmu.”

Terima kasih. Terima kasih untuk perhatian yang tidak kau ucapkan itu.

Tahukah kakak bahwa keyakinan kakak pada kemampuanku, dukungan kakak atas mimpiku, membuatku kian yakin mengejarnya. Satu per satu hal baik terjadi. Salah satunya karyaku akhirnya termuat di sebuah antologi yang beredar di toko buku nasional. Sebuah pencapaian yang ingin kubagi bersamamu.

Semoga nanti, akan ada pencapaian lain yang bisa kuberikan sebagai balasan atas dukunganmu. Jadi, tetaplah menjadi pendukung mimpi-mimpiku.

Dan untuk mimpimu? Aku bingung menjawabnya. Setiap aku bertanya apa impian kakak? Jawaban kakak adalah “Ika jadi dosen. Ika jadi penulis. Ika sehat. Itu saja.” Manis. Tapi rasanya gemas juga. Bagiku ini seperti kakak tidak ingin berbagi denganku. Namun lama kelamaan mimpi-mimpimu kau bagikan padaku. Mimpi-mimpinya yang sudah lama kau rencanakan dan tengah kau usahakan. Dan kali ini kau ceritakan sambil menyelipkan hadirku di dalamnya dengan kalimat, “Nanti Ika jadi ... Nanti Ika yang ....”

Terima kasih kak. Terima kasih karena mau memberiku ruang dalam mimpimu. Dan semoga aku bisa menjadi pendukung terbaikmu.
***
Sebagai penutup surat cinta kali ini aku ingin berkata.

Tetaplah yakin dengan “kita”. Seperti keyakinan kita memilih untuk bersama.

Perasaan yakin yang kita miliki untuk melangkah menuju hubungan yang lebih  jauh membuahkan banyak tanya . Dari kerabat, sahabat, atau kenalan. Saat bertanya, “Kalian sudah kenal berapa lama?” dan aku menjawab “lima bulan,” orang-orang akan berkata, “wah, masih baru ya.”

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah “Trus bagaimana akhirnya kalian memutuskan untuk menikah?” Ya aku pun bercerita tentang pertemuan kita yang baru sekali, tentang keinginanmu mengenalku lebih dekat, jawabanku tentang keengganan berpacaran dan memintamu datang ke orang tuaku, dan kini berlanjut sampai akhirnya Sabtu, 14 Februari lalu keluargamu datang ke rumah melamarku.

Tanggapan orang-orang ini umumnya berbeda. Namun intinya sama. “Bagaimana bisa? Tidak takut? Kok kamu seyakin itu? Nggak takut salah pilih? Bagaimana dengan cinta?”

Jawabannya hanya, “Karena dia yakin. Aku yakin. Dan dia selalu bisa meyakinkanku.”


Jadi, tetap jaga keyakinan itu, kak. Yakinkan aku jika suatu hari keraguan muncul. Dan aku pun berusaha agar tidak ada keraguan yang menyelusup di benakmu.


Maaf jika surat ini tidak seindah surat cinta yang ditulis seorang perempuan untuk calon suaminya dalam sebuah artikel yang kita bicarakan.

Hanya ini surat cinta yang bisa kutuliskan untukmu, calon imamku.  Surat yang kutuliskan agar kelak menjadi pengingat dalam kebersamaan kita di masa depan. Surat yang mungkin akan jadi kisah yang akan kita bagikan untuk anak-cucu. Surat yang kuharapkan akan membuahkan doa-doa baik yang melangit untuk kita. Amin. InsyaAllah.

Baik-baiklah di sana. Semoga perjumpaan kedua kita bisa segera terjadi agar aku tak lupa bagaimana rupamu. Agar aku bisa merekam ekspresi tawamu.
With Love

Atria Dewi Sartika
Calon Istrimu

1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)