Langsung ke konten utama

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Untukmu Pejuang Tugas Akhir

Pertanyaan paten seumur hidup dan urutannya adalah sebagai berikut

"Kapan lulus?" - - - > "Kapan nikah?" - - - -> "Kapan punya anak?" - - - > dst

 Masih berada di bagian pertanyaan pertama biasanya dapat lebih banyak tuntutan. Dengan posisi sebagai mahasiswa abadi, nggak cuma orang tua yang sibuk menanyai. Semakin banyak lingkungan pergaulan, semakin banyak daftar penanya. Mulai dari gebetan sampai teman komunitas tiap kali bertemu kembali setelah cukup lama berpisah pasti akan bertanya, “Kapan lulus?”

Bagimu, para pejuang tugas akhir, kamu tak sendiri. Aku pun tengah mengalami. Bukan hal mudah menahan malu (dan sesekali sakit hati) saat orang dengan wajah kaget yang bisa dibaca sebagai “Demi apa, kamu belum lulus sampai sekarang?”. Saat sibuk dengan hal lain selain tugas akhir, maka tidak jarang muncul sindirian dari mama-papa, kakak, paman, bibi dan atau calon suami. (-_-“)

Seringnya sih kondisi ini akan berujung pada rasa tertekan. Tapi kini, aku percaya itu hanya karena mereka terlalu peduli. Dan sebaiknya, untuk mengakhiri salah satu penderitaan dunia maka yang harus dilakukan memang menambah semangat untuk menyelesaikan tugas akhir.

Yah, meski setelah wisuda pun pertanyaan berikut yang muncul adalah “Kapan kawin?”, “Udah punya calon belum?”, “Kalau jomblo terus, kapan nikahnya?”

Hm..paling tidak salah satu dari daftar pertanyaan neraka itu bisa kita coret dan lebih fokus untuk menyiapkan diri menjawab pertanyaan berikutnya. Ha..ha..

Jadi, untukmu para pejuang tugas akhir. Mari membulatkan tekad untuk mengakhiri pertanyaan pertama itu.
Dan maaf untuk surat absurd dan penuh curhatan pribadi ini (^_^)v

Dengan penuh perjuangan,
Atria
Pejuang Tugas Akhir


Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…