Selasa, 03 Februari 2015

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Day 5: Untukmu Kawanku Berbagi Mimpi



Teruntukmu saudariku, kawan berbagi mimpiku

Saat mengingat nama Diena Rifa’ah, maka yang paling pertama terlintas adalah sosok berkacamata dengan talenta menulis. Mengenalmu dalam kebersamaan di Mushallah Al-Iqra saat kita masih memakai seragam putih abu-abu adalah sebuah cerita yang menarik dalam hidupku. 

Ingatkah bahwa kita pernah berbagi mimpi yang sama? Mimpi untuk menjadi penulis. Mimpi yang kini berhasil kau wujudkan dengan terbitnya buku yang engkau tulis. Ingatkah moment saat pertama dan terakhir kalinya kita mengikut lomba yang sama? Kamu menjadi pemenang pertama. Sedangkan aku? Tetap bukan siapa-siapa.

Ha..ha.. hingga kini pun aku masih digigit iri saat mengetahui pencapaianmu. Tapi aku pun tahu bahwa engkau memang layak untuk semua pencapaian itu.

Kini di dunia yang kita akrabi bersama, engkau sudah berada di bawah lampu sorot bersama penulis-penulis lain yang kukenal karyanya. Sedangkan aku? Aku tetap saja hanya menjadi pemeran pembantu bagi sosok-sosok itu. Tapi tenang saja, aku senang dengan yang kujalani sekarang. Menjadi blogger buku, dan ikut memberi kontribusi bagi dunia buku Indonesia. Menjadi pendukung bagi penulis-penulis sepertimu. Mengajak orang lain membaca karyamu dan karya penulis Indonesia lainnya.

Salah satu moment saat kita benar-benar dekat adalah saat kita berada di divisi Dakwah dalam kepengurusana rohis. Kita berbagi tugas bersama menulis buletin bulanan yang hanya selembar namun perjuangannya tidak mudah bagi penulis dan layouter pemula seperti kita. Dan konyolnya, sesi kerja untuk menyelesaikan buletin itu lebih banyak kita habiskan dengan berbagi kisah.Ha..ha.. *event akhwat pun tetap saja senang ngobrol*

Aku selalu iri pada kecintaan keluargamu pada buku. Hal yang tidak kutemui di keluargaku. Namun saat mendengar curhatmu, aku menemukan sebuah kesamaan. Aku bisa memahami perasaan sebagai “makhluk aneh” dengan tampilan kita yang berbeda dan minta yang cukup berbeda dengan remaja-remaja seusia kita saat itu. Semua hal itu yang membentuk kita kini. Semua hal itu juga yang menjadi perekat bagi hati kita.

Banyak hal yang membuatku iri padamu selain pencapaianmu dalam dunia menulis. Aku iri pada kemampuanmu untuk istiqamah di jalan dakwah. Keberanianmu mempertahankan apa yang menjadi prinsipmu. Sedangkan aku? Aku kalah di sejumlah pertempuran itu.

Saudariku, perempuan yang selalu kuajak berbagi mimpi. Teruslah istiqamah dalam medan dakwah. Do’akan aku yang tidak lagi bergabung di barisan itu. Do’akan kelak Allah masih mau mengamanahiku lagi.

Saudariku, aku mencintaimu karena Allah. Dan aku mensyukuri rencanaNya yang memberiku kesempatan mengenalmu dan belajar banyak dari keteguhan dan talentamu.

Kukirim surat ini bersama kecup sayang dariku. Semoga suatu hari kita bertemu kembali dan bisa kembali berbagi cerita tentang mimpi-mimpi kita. :*
With Love,

Atria


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)