Langsung ke konten utama

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Biarkan Aku Mengenangmu Hari Ini

Kabar duka datang.
Hari ini jam 9 Wita engkau berpulang. Perempuan yang bagi aku dan saudara-saudaraku sudah kami anggap nenek.
Saat menjadi perantau di Kota Tarakan, lebaran tidak akan mampu kami rayakan dengan keluarga.
Maka hadirmu menjadi obat bagi rindu hangat pelukan sanak famili.

Aku selalu memanggilmu Mama Aji. Dan bahkan hingga kini tidak pernah ku ketahui nama aslimu.

Ah, selalu senang memelukmu. Tubuhmu yang berisi dan tawamu yang selalu terdengar selalu menularkan ceria. Songko' haji berbahan beludru, baju berlengan 3/4, dan gemerincing gelang di tangan adalah khasmu.

Ah, kapan terakhir kali aku menatapmu? 5 tahun yang lalu. Ya,  tepat 5 tahun lalu. Bulan Februari 2010 Mama Aji berbaik hati mengirimkan tiket agar aku bisa kembali menjejaki Kota Tarakan. Menghabiskan waktu liburan di Pantai Amal. Piknik beramai-ramai di sana. Saat aku diam di rumah dan menemanimu dan Papa' Aji makan, akan banyak cerita dibagi. Banyak mimpiku digali dan kemudian di do'akan.

Salahku yang berkali-kali menolak ajakan untuk langsung terbang ke Tarakan dengan alasan kesibukan. Dan kini, berkurang lagi alasan bagiku untuk merindukan kata "kata pulang ke Tarakan". Ya, karena saat mendefinisikan Pulang ke Tarakan, maka rumahmulah yang kutuju.

Kini, hanya do'a yang bisa ku kirimkan. Maaf karena untuk hadir di pemakamanmu pun aku tak bisa.

Selamat jalan Mama Aji. Semoga Allah melapangkan kuburmu. Semoga Dia memberi tempat terbaik bagimu di sisiNya.

Terima kasih untuk setiap kenangan penuh cinta. Tanpamu mungkin tak kan ku kenali indahnya cinta seorang nenek. Tak perlu terikat darah, sebab kasih sayangmu telah mengeratkan

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…