Rabu, 11 Februari 2015

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Biarkan Aku Mengenangmu Hari Ini

Kabar duka datang.
Hari ini jam 9 Wita engkau berpulang. Perempuan yang bagi aku dan saudara-saudaraku sudah kami anggap nenek.
Saat menjadi perantau di Kota Tarakan, lebaran tidak akan mampu kami rayakan dengan keluarga.
Maka hadirmu menjadi obat bagi rindu hangat pelukan sanak famili.

Aku selalu memanggilmu Mama Aji. Dan bahkan hingga kini tidak pernah ku ketahui nama aslimu.

Ah, selalu senang memelukmu. Tubuhmu yang berisi dan tawamu yang selalu terdengar selalu menularkan ceria. Songko' haji berbahan beludru, baju berlengan 3/4, dan gemerincing gelang di tangan adalah khasmu.

Ah, kapan terakhir kali aku menatapmu? 5 tahun yang lalu. Ya,  tepat 5 tahun lalu. Bulan Februari 2010 Mama Aji berbaik hati mengirimkan tiket agar aku bisa kembali menjejaki Kota Tarakan. Menghabiskan waktu liburan di Pantai Amal. Piknik beramai-ramai di sana. Saat aku diam di rumah dan menemanimu dan Papa' Aji makan, akan banyak cerita dibagi. Banyak mimpiku digali dan kemudian di do'akan.

Salahku yang berkali-kali menolak ajakan untuk langsung terbang ke Tarakan dengan alasan kesibukan. Dan kini, berkurang lagi alasan bagiku untuk merindukan kata "kata pulang ke Tarakan". Ya, karena saat mendefinisikan Pulang ke Tarakan, maka rumahmulah yang kutuju.

Kini, hanya do'a yang bisa ku kirimkan. Maaf karena untuk hadir di pemakamanmu pun aku tak bisa.

Selamat jalan Mama Aji. Semoga Allah melapangkan kuburmu. Semoga Dia memberi tempat terbaik bagimu di sisiNya.

Terima kasih untuk setiap kenangan penuh cinta. Tanpamu mungkin tak kan ku kenali indahnya cinta seorang nenek. Tak perlu terikat darah, sebab kasih sayangmu telah mengeratkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)