Rabu, 30 September 2015

Pesawat Kertas Terakhir



Dear lelakiku,

Sudah 100 surat yang kuterbangkan berisi setiap harap untuk seluruh waktu yang akan kita lewatkan di masa depan. Seberapa pun singkat atau panjangnya ia kelak.

Dan ini adalah surat ke 101 yang ingin kutuliskan panjang. Mungkin saja ini menjadi surat terakhir yang kutuliskan untukmu. Atau bisa jadi ia bukan yang terakhir. Entahlah.

Ya, setidak terduga itulah masa depan. Seperti setidak terduganya semua perjalanan yang kita tempuh hingga ada di titik ini. Kau dan aku bersatu menjadi kita bukanlah bagian dari rencana saat itu. Namun sungguh Dia-lah yang paling tahu. Rencana-Nya selalu yang terindah.

Selasa, 01 September 2015

Rewata'a: Batu Besar yang Mempersaksikan Majene


 rewata'a adalah batu besar di sisi kiri atas foto (dok. pribadi)


Bicara tentang Majene, salah satu tempat yang paling dikenal adalah Rewata’a.

Sejak kecil, salah satu tempat yang paling berkesan saat berkesempatan untuk pulang kampung adalah tempat ini. Bahkan di rumah saya ada sebuah lukisan yang menggambarkan tempat ini.

Sebuah batu besar yang berdiri tegak di atas laut dan dis sisi kiri jalan jika menempuh perjalanan dari Majene ke Mamuju. Batu besar ini teronggok megah dan dihantam ombak. Bahkan jika tengah angin barat, maka ombak yang menghempas menangtang kokohnya batu ini.

Sejak kecil Rewata’a familiar bagi saya karen ada sebuah lukisan yang diletakkan di ruang tamu rumah. Tapi sekarang saya tidak bisa menemukan di mana lukisan itu. Dan ternyata saat remaja baru saya sadari bahwa itu adalah lukisan Rewata’a. Setelah bisa mengenali tempat itu, papa sering bercerita tentang berbagai hal mistis tentang kawasan ini. Bahwa dulu di zaman papa masih remaja, orang – orang takut melewati daerah ini d malam hari. Terutama di malam jum’at. Apalagi naik sepeda motor sendiri tanpa ada yang memboncong. Biasanya katanya akan ada makhluk lain yang ikut membonceng.. Hiiiihh. Ngeri.

Tapi sesungguhnya Rewata’a adalah saksi atas berbagai hal yang terjadi di Majene. Ia telah terdokumentasi sejak masa kolonial Belanda. Saat itu Majene menjadi Afdeling Majene. Dan kini saat Majene beserta Mamuju dan Polman memisahkan diri dari Sulawesi Selatan dan membentuk Sulawesi Barat, Rewata’a menjadi saksi.

Selasa, 21 April 2015

21 April 2015

Aku sempat mendengar
Sebuah kisah dari zaman prahara
Saat negeri Indonesia belum ada,
Eksistensinya tenggelam dalam keserakahan
Tak hanya oleh mereka, manusia dari benua seberang tapi juga oleh mereka yang berbangga pada darah & harta

Saat itu,
Terlahirlah seorang gadis muda,
Belia, penuh semangat & terasah hati dan matanya
Ia berpedangkan pena,
Berpeluru kata & menyeru untuk merdeka!!!

Tak mudah jalannya
Sebab dunia memandang rendah gemulainya
Merendahkan kaumnya yang lembut & cantik

Ia memang tak maju ke medan perang
Namun semangatnya menggolakkan perjuangan

Bahkan saat jasadnya dikalahkan tanah
Jiwanya tetap hidup dalam untaian kata
Semangatnya membara bersama setiap pena yang mengatasnamakan emansipasi wanita

Ia perempuan Indonesia
Yang peduli pada kaumnya
Cinta pada negerinya
Dan hidup bersama mimpi besarnya.

Ia tiada di usia muda
Namun namanya tak pernah menua
Hari ini nanya kembali dipekikkan
Dalam semangat penuh harapan

Semoga perempuan Indonesia memakmurkan negeri
Membanggakan ibu pertiwi
Meneruskan perjuangan Kartini

Pambong, 21 April 2015

Minggu, 22 Februari 2015

Bukan Surat Cinta Terakhir



Dear Kak Nail Authar,
 
Ini memang bukan surat cinta pertama dariku untukmu, Kak. Dan sepertinya tidak akan jadi yang terakhir. Semoga masih ada waktu yang panjang dan banyak hal yang bisa kita rayakan bersama yang mendorongku untuk menulis surat-surat cinta lainnya. Liburan pertama bersama, hari kelahiranmu yang kita rayakan bersama, atau waktu-waktu yang lain akan kita rayakan dengan kehangatan yang membuncah di dada, atau di saat aku terlalu sulit menggambarkan perasaanku dihadapanmu. Mungkin di saat itu akan kau dapati lagi surat cinta dariku. Entah terselip di bawah laptopmu, di bawah bantalmu, atau kuletakkan begitu saja di meja makan agar segera kau baca.

Saat surat ini kutuliskan kita masih terus berkawan dengan jarak. Masih dipisahkan oleh lautan. Belum bertatap muka untuk yang kedua kalinya. Tapi bersamaan dengan itu, keluarga kita tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan. 

Beberapa hari lalu aku sempat menelponmu dan berdiskusi tentang undangan. Sepele sih masalahnya, tapi membuatku cukup frustasi karena bagiku ini masalah sensitif. Kamu kemudian berkata,”Ya ikut saja keinginan orang tua. Lagi pula sejak awal kita setuju mengikuti keinginan orang tua tentang resepsi. Jadi ya sudah tidak perlu bingung. Ikuti saja. Kalau masalah seperti ini saja Ika sudah pusing bagaimana hal yang lainnya?”

Jawaban itu benar-benar khas dirimu. Menjauhi konfrontasi. Bersikap cuek. Berkebalikan dengan karakterku. Mendengar jawaban itu awalnya aku kesal hingga segera mengakhiri pembicaraan. Namun jawabanmu masuk ke benakku dan pada akhirnya aku pun membenarkannya.

Kak, tetaplah begitu. Menjadi second opinion-ku

Tetap jadi orang yang mampu mengingatkanku untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Mengingatkanku untuk tidak membuat masalah kecil terasa besar seburuk apapun keadaanku.

Bagi perempuan yang sering dianggap terlalu mandiri, aku sering kali mengambil keputusan sendiri. Mengambilnya dengan cepat dan meyakininya sebagai yang paling tepat. Sayangnya aku sering lupa, aku sendiri pun memiliki batasan kemampuan. Maka kehadiran seseorang yang menjadi pemberi saran sekaligus memahami karakterku sangat kubutuhkan. 

Be my 2nd fighter. Be my 2nd opinion. Aku nggak akan minta Kak Nail maju dan menggantikanku dalam perangku sendiri. Aku hanya berharap kakak bisa menjadi pendukungku. Penasihatku. Penghidup semangatku.

***

Seperti yang selama ini kita bicarakan dan sadari. Kita memiliki karakter yang berbeda. Kakak bukanlah orang yang senang menyampaikan perasaan dalam kata. Kakak malas menghabiskan energi dengan berbicara. Kakak lebih memilih menghabiskannya dalam tawa.

Sayangnya, tidak semua hal terjawab dengan tawa. Terkadang ada hal-hal yang memang harus dijawab dengan kata. Itu sebabnya, rasa kesal sedikit terpercik dari hatimu saat teman-teman di sekelilingmu sibuk menanyai tentang hubungan kita. “Kakak malas menjawab. Lagi pula kalau pun kakak jelaskan mereka tetap sibuk dengan spekulasinya sendiri. Jadi biarkan saja.” Ada kesan tidak peduli di sana. Namun ada nada kekesalan di dalamnya.

Aku pun menanggapinya dengan berkata, “Lain kali bilang saja untuk menanyakannya ke Ika. Atau baca tulisan-tulisan ika saja. Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mereka ada di sana, kok.” Aku tertawa sebelum mengatakannya. Menyadari bahwa ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu.

Aku akan jadi juru bicaramu, kak. Menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin kau jawab.

He..he.. untuk hal yang satu ini aku bisa melakukannya, untukmu. Dalam batasan yang kau terima tentu saja. Dan paling penting atas seizinmu, kak.

***

Beberapa hari lalu kakak mengirimiku BBM yang berisi informasi tentang event menulis. Aku tersenyum membacanya. Informasi itu tanpa didahului atau diikuti oleh kalimat apapun. Tapi aku tahu itu bukan pesan broadcast yang kau kirimkan ke orang lain. Dan hal ini bukan kali ini saja kau lakukan.

Kakak pasti tahu kenapa aku tersenyum? Karena aku tahu ada kepedulian yang kau berikan. Ada perhatian yang kau sampaikan. Kau seolah berkata,

“Lakukanlah. Kejar mimpimu. Aku selalu mendukungmu.”

Terima kasih. Terima kasih untuk perhatian yang tidak kau ucapkan itu.

Tahukah kakak bahwa keyakinan kakak pada kemampuanku, dukungan kakak atas mimpiku, membuatku kian yakin mengejarnya. Satu per satu hal baik terjadi. Salah satunya karyaku akhirnya termuat di sebuah antologi yang beredar di toko buku nasional. Sebuah pencapaian yang ingin kubagi bersamamu.

Semoga nanti, akan ada pencapaian lain yang bisa kuberikan sebagai balasan atas dukunganmu. Jadi, tetaplah menjadi pendukung mimpi-mimpiku.

Dan untuk mimpimu? Aku bingung menjawabnya. Setiap aku bertanya apa impian kakak? Jawaban kakak adalah “Ika jadi dosen. Ika jadi penulis. Ika sehat. Itu saja.” Manis. Tapi rasanya gemas juga. Bagiku ini seperti kakak tidak ingin berbagi denganku. Namun lama kelamaan mimpi-mimpimu kau bagikan padaku. Mimpi-mimpinya yang sudah lama kau rencanakan dan tengah kau usahakan. Dan kali ini kau ceritakan sambil menyelipkan hadirku di dalamnya dengan kalimat, “Nanti Ika jadi ... Nanti Ika yang ....”

Terima kasih kak. Terima kasih karena mau memberiku ruang dalam mimpimu. Dan semoga aku bisa menjadi pendukung terbaikmu.
***
Sebagai penutup surat cinta kali ini aku ingin berkata.

Tetaplah yakin dengan “kita”. Seperti keyakinan kita memilih untuk bersama.

Perasaan yakin yang kita miliki untuk melangkah menuju hubungan yang lebih  jauh membuahkan banyak tanya . Dari kerabat, sahabat, atau kenalan. Saat bertanya, “Kalian sudah kenal berapa lama?” dan aku menjawab “lima bulan,” orang-orang akan berkata, “wah, masih baru ya.”

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah “Trus bagaimana akhirnya kalian memutuskan untuk menikah?” Ya aku pun bercerita tentang pertemuan kita yang baru sekali, tentang keinginanmu mengenalku lebih dekat, jawabanku tentang keengganan berpacaran dan memintamu datang ke orang tuaku, dan kini berlanjut sampai akhirnya Sabtu, 14 Februari lalu keluargamu datang ke rumah melamarku.

Tanggapan orang-orang ini umumnya berbeda. Namun intinya sama. “Bagaimana bisa? Tidak takut? Kok kamu seyakin itu? Nggak takut salah pilih? Bagaimana dengan cinta?”

Jawabannya hanya, “Karena dia yakin. Aku yakin. Dan dia selalu bisa meyakinkanku.”


Jadi, tetap jaga keyakinan itu, kak. Yakinkan aku jika suatu hari keraguan muncul. Dan aku pun berusaha agar tidak ada keraguan yang menyelusup di benakmu.


Maaf jika surat ini tidak seindah surat cinta yang ditulis seorang perempuan untuk calon suaminya dalam sebuah artikel yang kita bicarakan.

Hanya ini surat cinta yang bisa kutuliskan untukmu, calon imamku.  Surat yang kutuliskan agar kelak menjadi pengingat dalam kebersamaan kita di masa depan. Surat yang mungkin akan jadi kisah yang akan kita bagikan untuk anak-cucu. Surat yang kuharapkan akan membuahkan doa-doa baik yang melangit untuk kita. Amin. InsyaAllah.

Baik-baiklah di sana. Semoga perjumpaan kedua kita bisa segera terjadi agar aku tak lupa bagaimana rupamu. Agar aku bisa merekam ekspresi tawamu.
With Love

Atria Dewi Sartika
Calon Istrimu

Sabtu, 21 Februari 2015

Rinduku Padamu, Litaq Mandar



Pernahkah kau merasa terlambat jatuh cinta?

Merutuki diri sendiri dengan perkataan semacam, “Kenapa baru sadar sekarang? Kenapa baru sukanya sekarang?”

Aku kini merasainya. Ada sebuah penyesalan yang menumpuk di sudut hati. Sebab baru menyadari betapa mudahnya jatuh cinta padanya. Betapa banyak hal yang dimilikinya hingga mampu membuatku terpesona.

Aku jatuh cinta pada kampung halamanku, Litaq Mandar (Tanah Mandar). Tanah yang membentang di pesisi barat Sulawesi; dari Polewali hingga Mamuju; dari Paku hingga Suremana; di sepanjang Provinsi Sulawesi Barat. Tanah yang sejak kecil kutinggalkan karena ikut merantau bersama kedua orang tua.

Aku terlambat jatuh cinta. Butuh 25 tahun hingga akhirnya aku dibuatnya terpesona. Bahkan tahun lalu untuk pertama kalinya aku diberikan kesempatan merayakan peringatan hari kelahiranku sendiri di tepi pantainya. Menghadiahi diriku dengan pesona pantai yang tenang dan hutan Bakau di Gonda. 

Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta? Bagaimana aku tidak merindunya pada saat raga ini ada di tanah rantau?

Aku merindu sebab kini aku memahami indahnya Teluk Mandar. Aku tak bisa berhenti menatap pemandangan senja sewarna lembayungnya. Menatapnya perlahan ditelan lautan. Aku suka mengabadikannya dengan kamera, namun aku pun tidak bisa berhenti mengabadikannya dalam hati dan benakku. 

Seorang pria pernah berkata padaku saat kami menatap senja bersama,”Tidak perlu kamera untuk mengabadikan saat ini. Cukup di sini dan di sini,” katanya sambil menunjuk keningnya kemudian dadanya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Sebab, kamera tidak akan mampu merekam dengan tepat perasaan yang dirasakan sekarang.”

Aku bungkam. Tepat apa yang dikatakannya. Kadang kenangan tidak akan terasa persis sama ketika ditatap dalam selembar foto. Sejak obrolan itu, aku dan pria itu jadi akrab. Bukan kekasih. Tetap kami tahu kami saling peduli.

Senja di Teluk Mandar, tepi Pantai Pamboang di Kota Majene, menyimpan banyak kenangan. Dan satu yang paling membekas adalah sesi obrolan dengan filsuf dalam hidupku, papaku. Ia selalu senang menganalogikan kehidupan dengan senja.

“Lihatlah, hari ini mataharinya bulat sempurna. Bukankah kemarin tertutup awan mendung? Seperti itulah kehidupan. Hidup itu seperti menanti senja. Jika beruntung kita akan berkesempatan melihat matahari yang bulat sempurna tenggelam. Namun jika tidak beruntung maka pandangan kita akan terhalang awan. Seperti itulah hidup. Tidak terduga. Dan jika awan datang menghalangi pandangan, maka belajarlah menerima keadaan. Karena pemandangan langit setelah matahari tenggelampun masih indah, nak. Masih ada Bulan dan Bintang yang akan menggantung di langit.”

Itu salah satu pemikiran papa yang selalu kuingat tentang senja dan kehidupan. Dan papa adalah alasan lain kenapa aku merindukan Litaq Mandar. Papa memilih menghabiskan masa tua di tanah kelahirannya. Membangun kehidupan yang diimpikannya.

“Papa membuat Dapur Mandar, agar anak-anak papa tidak lupa akarnya. Agar mereka tahu bahwa selalu ada tempat untuk pulang. Di sini. Di kampung kita sendiri.”

Kekhawatiran papa ini jelas beralasan. Papa telah membawa kami, anak-anaknya, merantau ke berbagai negeri. Aku bahkan sampai saat ini masih hidup di negeri rantau. Mengembangkan diri, menggapai impian, dan meniti kehidupan. Dulu aku selalu bingung dengan kata “Pulang”. Kemana? Apakah ke Makassar, ke Bandung, ke Tarakan, atau ke Majene? Dan kini aku sudah tahu, saat berkata Pulang maka itu berarti adalah melangkah kembali ke Litaq Mandar.

Selain senjanya yang tersimpan diingatan, Litaq Mandar juga punye pesona lain. Ia memiliki gunung dengan pemandangan yang indah. Bagaimana tidak indah jika saat mendaki kau akan mendapati sungai yang jernih?! Bagaimana tidak indah jika di titik tertentu kau akan melihat tanah yang hijau berdampingan dengan lautan yang biru?! Bagaimana tidak indah jika di sepanjang perjalanan kau akan bertemu orang-orang tangguh?! Orang-orang yang demi bersekolah, harus berjalan kaki menuruni gunung dan menempuh 10-15 km. Jalan yang mereka tempuh jelas tidak mudah, terutama jika hujan besar datang. Sungai-sungai menjadi deras dan mereka jelas harus rela kuyup. (>_<) Ah, masih bisakah aku berkata hidupku berat?

Dan kini bertambah lagi hal yang membuatku ingin segera pulang. Aku ingin menikmati matahari terbit bersama seorang lelaki yang telah melamarku. Kami tengah menunggu tanggal bahagia. Sama-sama menghitung purnama. Sama-sama berharap jarak akan terhapus dan kami bisa segera bertemu. Dia lelaki Mandar yang hanya perlu sekali berjumpa untuk memutuskan pilihannya. Menjadikanku istrinya.

Jadi, lihatlah itu baru tiga jawaban yang menjelaskan kenapa aku tidak berhenti merindukan Litaq Mandar. Dan ketiga jawaban itu berarti sangat besar dalam hidupku. Masih perlukah kusebutkan alasan lainnya?

Kamis, 19 Februari 2015

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Untukmu yang Terluka di Masa Lalu



Dear Kinanthi,

Aku tahu kadang tidak mudah mengobati luka hati. Namun apakah 15 tahun tidak terlalu lama untuk sebuah proses menerima dan memaafkan. Bukan..bukan memaafkan Satria, laki-laki yang kau jatuhi cinta untuk pertama kali. Jelas dalam hal ini, dialah yang harus meminta maaf.

Yang aku maksud adalah proses memaafkan diri sendiri. Proses merelakan yang sudah terjadi. Tidakkah kamu lelah memendam sakit hati? Tidakkah kamu merasa langkahmu diberatkan oleh penyesalan?

Rabu, 18 Februari 2015

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Untukmu Pejuang Tugas Akhir

Pertanyaan paten seumur hidup dan urutannya adalah sebagai berikut

"Kapan lulus?" - - - > "Kapan nikah?" - - - -> "Kapan punya anak?" - - - > dst

 Masih berada di bagian pertanyaan pertama biasanya dapat lebih banyak tuntutan. Dengan posisi sebagai mahasiswa abadi, nggak cuma orang tua yang sibuk menanyai. Semakin banyak lingkungan pergaulan, semakin banyak daftar penanya. Mulai dari gebetan sampai teman komunitas tiap kali bertemu kembali setelah cukup lama berpisah pasti akan bertanya, “Kapan lulus?”

Bagimu, para pejuang tugas akhir, kamu tak sendiri. Aku pun tengah mengalami. Bukan hal mudah menahan malu (dan sesekali sakit hati) saat orang dengan wajah kaget yang bisa dibaca sebagai “Demi apa, kamu belum lulus sampai sekarang?”. Saat sibuk dengan hal lain selain tugas akhir, maka tidak jarang muncul sindirian dari mama-papa, kakak, paman, bibi dan atau calon suami. (-_-“)

Seringnya sih kondisi ini akan berujung pada rasa tertekan. Tapi kini, aku percaya itu hanya karena mereka terlalu peduli. Dan sebaiknya, untuk mengakhiri salah satu penderitaan dunia maka yang harus dilakukan memang menambah semangat untuk menyelesaikan tugas akhir.

Yah, meski setelah wisuda pun pertanyaan berikut yang muncul adalah “Kapan kawin?”, “Udah punya calon belum?”, “Kalau jomblo terus, kapan nikahnya?”

Hm..paling tidak salah satu dari daftar pertanyaan neraka itu bisa kita coret dan lebih fokus untuk menyiapkan diri menjawab pertanyaan berikutnya. Ha..ha..

Jadi, untukmu para pejuang tugas akhir. Mari membulatkan tekad untuk mengakhiri pertanyaan pertama itu.
Dan maaf untuk surat absurd dan penuh curhatan pribadi ini (^_^)v

Dengan penuh perjuangan,
Atria
Pejuang Tugas Akhir


[Rabu Menulis] Pilih Kalimat Pertamamu

18-2-2015 16:34

Akhirnya aku mendengar suaramu. Butuh ribuan hari bagiku untuk kembali bisa merekam tawamu dalam benakku. Padahal kau berjanji bahwa dalam 14 purnama kamu akan kembali.

Tahukah kau, sudah berapa purnama aku menunggumu? 36 purnama.
Dan tahukah kau betapa aku selalu menunggu dari purnama pertama hingga purnama ke-13 berakhir seraya berharap kau akan datang pada purnama berikutnya.

Ada dongeng tentang purnama ke-14 di sini.
Mereka menyebutnya sebagai penyempurna penantian. Ketika saat itu datang seluruh harapan yang kau titip di 13 purnama sebelumnya akan mewujud.

Tahukah kau, 2 kali aku menitipkan pinta pada 13 purnama yang datang.
Pikirku bukan kebetulan engkau memilih 14. Bukan sekedar untuk menenangkan hatiku.

"Dinda, aku harus pergi. Mengambil rezeki untuk meminangmu. Sayangnya, rezeki itu tak disimpin di sini. Kakak mendapat panggilan dari paman untuk kerja di Malaysia"

Bukan hal asing mendapati pemuda dari kampung ini pergi merantau ke negeri seberang. Ada yang tak kembali namun lebih banyak yang pulang. Aku pun hanya bisa diam dan menunduk. Mengangguk lemah. Sebab aku tahu kita tak punya pilihan lain. Ayah takkan mau mengizinkanku menikah denganmu tanpa sebidang tanah yang tidak kau miliki. Maka cara apa lagi yang kau punya untuk bisa mengumpulkan uang itu?

Sejak kau pergi, aku selalu menanti datangnya purnama. Menanti rembulan bulat sempurna. Aku menjadi cukup kenal dengannya. Mengerti indahnya yang dinodai oleh titik-titik hitam. Atau sesekali dikelilingi lingkar putih bak malaikat. Namun kau tahu, ia lebih sering tersembunyi oleh awan gelap. Biasanya saat itu harapku berubah menjadi keraguan.

Kini, saat aku menanti purnama ke-14 untuk yang ketiga kalinya, engkau datang. Seketika hatiku bergemuruh. Dengan sengaja aku mendatangi Karmila, sepupumu yang juga tetanggamu. Karmila, gadis yang sebaya denganku. Sama sepertiku, belum menikah. Jika aku memilih sendiri karena menunggumu, maka ia menjomblo karena tidak lagi percaya cinta.

Ah, hatiku menghangat mendengar tawamu. Malam ini purnama ke-36. Rinduku padamu terbayar. Namun janjimu tak lagi tertepati. Kau datang tidak sendiri. Di sisimu seorang perempuan cantik berkulit putih dengan kerudung biru. Seorang bocah laki-laki kau pangku dengan penuh bangga. Bajunya kotak-kotak cerah. Aku yakin itu baju baru.

Apakah hanya aku yang ingat tentang janji malam itu? Kemana kau buang ingatan itu? Seharusnya aku percaya kata Ayah, "Ia memilihmu karena dia ingin derajatnya terangkat di kampung ini. Menikahi kepala desa tentu bisa memenuhi keinginannya. Berhentilah menunggunya. Sebab ketika ia sudah punya kekayaan, dia tidak akan membutuhkanmu lagi"

18-02-2015 16:49

Minggu, 15 Februari 2015

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Untukmu Para Perekah Senyum



Ah, suratku hari ini lebih spesial. Spesial penuh cinta yang membuncah dan menghangatkan hati.

Aku mau ngucapin HAPPY MILLAD PERTAMA BERUANG MATAHARI MAKASSAR...

Terima kasih untuk satu tahun penuh keceriaan yang dibagikan ke adik-adik Panti Asuhan yang ada di Makassar. Maaf selama ini hanya ikut serta di awal saja. Membantu dari seberang lautan. Semoga nanti bisa segera turun tangan langsung ya. Sungguh rasanya senang melihat foto-foto yang kalian share di aplikasi chat. Wajah-wajah ceria adik-adik. Hirup pikuk persiapan yang mengundang senyum karena kalian masih bisa saling menggoda dan mencandai.

Sungguh aku rindu bertemu pandang. Banyak wajah-wajah baru yang datang dengan malu-malu menyumbangkan segala yang bisa mereka bantu. Utamanya tenaga, senyum, dan kepedulian mereka. Maaf belum bisa menyalami kalian satu-satu. Tapi percayalah doa sering kali ku titipkan padaNya untuk semua upaya kalian.

Aku berharap akan selalu ada senyum yang bisa kalian rekahkan. Lebih lebar dan menular. Jangan risau dengan jumlah volunteer yang masih sedikit. InsyaAllah malaikatNya ada di balik setiap langkah gegas kalian. Ada di setiap hela lelah yang buru-buru kalian ubah menjadi singgungan senyum sayang untuk adik-adik panti. Ah, semoga kebaikan kalian di balas oleh Allah.

Teruslah berbuat. Aku pun di sini pernah merasakan bagaimana semua lelah dan terkadang rasa kalah yang melintas akhirnya terobati dengan senyum dan tawa adik-adik Panti. Seberapa sering kita bertanya, “Masih pantaskah aku merasa sedih jika mereka yang tidak memiliki memiliki rumah dengan kehangatan ibu-bapak masih mampu menggemakan tawa yang menghangatkan hati?” Sungguh ini pengingat yang hebat tentang betapa banyak hal yang bisa kita syukuri.

Sekali lagi, terima kasih untuk satu tahun yang hebat ini. Semoga tahun-tahun ke depannya lebih berkah dan manfaat ya.

I love you, guys. Keep calm and donate. *peluk beruang*
Salam Sayang,
Penggiatmu yang ada di seberang lautan

P.S: Untuk teman-teman yang berdomisili di Makassar jangan segan-segan untuk ikut bantu kegiatan Beruang Matahari Makassar ya (^_^)
Bisa dengan follow akun twitternya di @sunbears_mks