Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Pesawat Kertas Terakhir

Dear lelakiku,
Sudah 100 surat yang kuterbangkan berisi setiap harap untuk seluruh waktu yang akan kita lewatkan di masa depan. Seberapa pun singkat atau panjangnya ia kelak.
Dan ini adalah surat ke 101 yang ingin kutuliskan panjang. Mungkin saja ini menjadi surat terakhir yang kutuliskan untukmu. Atau bisa jadi ia bukan yang terakhir. Entahlah.
Ya, setidak terduga itulah masa depan. Seperti setidak terduganya semua perjalanan yang kita tempuh hingga ada di titik ini. Kau dan aku bersatu menjadi kita bukanlah bagian dari rencana saat itu. Namun sungguh Dia-lah yang paling tahu. Rencana-Nya selalu yang terindah.

Rewata'a: Batu Besar yang Mempersaksikan Majene

Bicara tentang Majene, salah satu tempat yang paling dikenal adalah Rewata’a.
Sejak kecil, salah satu tempat yang paling berkesan saat berkesempatan untuk pulang kampung adalah tempat ini. Bahkan di rumah saya ada sebuah lukisan yang menggambarkan tempat ini.
Sebuah batu besar yang berdiri tegak di atas laut dan dis sisi kiri jalan jika menempuh perjalanan dari Majene ke Mamuju. Batu besar ini teronggok megah dan dihantam ombak. Bahkan jika tengah angin barat, maka ombak yang menghempas menangtang kokohnya batu ini.
Sejak kecil Rewata’a familiar bagi saya karen ada sebuah lukisan yang diletakkan di ruang tamu rumah. Tapi sekarang saya tidak bisa menemukan di mana lukisan itu. Dan ternyata saat remaja baru saya sadari bahwa itu adalah lukisan Rewata’a. Setelah bisa mengenali tempat itu, papa sering bercerita tentang berbagai hal mistis tentang kawasan ini. Bahwa dulu di zaman papa masih remaja, orang – orang takut melewati daerah ini d malam hari. Terutama di malam jum’at. Apalagi naik se…

21 April 2015

Aku sempat mendengar
Sebuah kisah dari zaman prahara
Saat negeri Indonesia belum ada,
Eksistensinya tenggelam dalam keserakahan
Tak hanya oleh mereka, manusia dari benua seberang tapi juga oleh mereka yang berbangga pada darah & hartaSaat itu,
Terlahirlah seorang gadis muda,
Belia, penuh semangat & terasah hati dan matanya
Ia berpedangkan pena,
Berpeluru kata & menyeru untuk merdeka!!! Tak mudah jalannya
Sebab dunia memandang rendah gemulainya
Merendahkan kaumnya yang lembut & cantikIa memang tak maju ke medan perang
Namun semangatnya menggolakkan perjuangan Bahkan saat jasadnya dikalahkan tanah
Jiwanya tetap hidup dalam untaian kata
Semangatnya membara bersama setiap pena yang mengatasnamakan emansipasi wanitaIa perempuan Indonesia
Yang peduli pada kaumnya
Cinta pada negerinya
Dan hidup bersama mimpi besarnya. Ia tiada di usia muda
Namun namanya tak pernah menua
Hari ini nanya kembali dipekikkan
Dalam semangat penuh harapanSemoga perempuan Indonesia memakmurkan n…

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Untukmu yang Terluka di Masa Lalu

Dear Kinanthi,
Aku tahu kadang tidak mudah mengobati luka hati. Namun apakah 15 tahun tidak terlalu lama untuk sebuah proses menerima dan memaafkan. Bukan..bukan memaafkan Satria, laki-laki yang kau jatuhi cinta untuk pertama kali. Jelas dalam hal ini, dialah yang harus meminta maaf.
Yang aku maksud adalah proses memaafkan diri sendiri. Proses merelakan yang sudah terjadi. Tidakkah kamu lelah memendam sakit hati? Tidakkah kamu merasa langkahmu diberatkan oleh penyesalan?

[30 Hari Menulis Surat Cinta] Untukmu Pejuang Tugas Akhir

Pertanyaan paten seumur hidup dan urutannya adalah sebagai berikut
"Kapan lulus?" - - - > "Kapan nikah?" - - - -> "Kapan punya anak?" - - - > dst

 Masih berada di bagian pertanyaan pertama biasanya dapat lebih banyak tuntutan. Dengan posisi sebagai mahasiswa abadi, nggak cuma orang tua yang sibuk menanyai. Semakin banyak lingkungan pergaulan, semakin banyak daftar penanya. Mulai dari gebetan sampai teman komunitas tiap kali bertemu kembali setelah cukup lama berpisah pasti akan bertanya, “Kapan lulus?”
Bagimu, para pejuang tugas akhir, kamu tak sendiri. Aku pun tengah mengalami. Bukan hal mudah menahan malu (dan sesekali sakit hati) saat orang dengan wajah kaget yang bisa dibaca sebagai “Demi apa, kamu belum lulus sampai sekarang?”. Saat sibuk dengan hal lain selain tugas akhir, maka tidak jarang muncul sindirian dari mama-papa, kakak, paman, bibi dan atau calon suami. (-_-“)
Seringnya sih kondisi ini akan berujung pada rasa tertekan. Tapi kini, aku…

[Rabu Menulis] Pilih Kalimat Pertamamu

18-2-2015 16:34Akhirnya aku mendengar suaramu. Butuh ribuan hari bagiku untuk kembali bisa merekam tawamu dalam benakku. Padahal kau berjanji bahwa dalam 14 purnama kamu akan kembali.Tahukah kau, sudah berapa purnama aku menunggumu? 36 purnama.
Dan tahukah kau betapa aku selalu menunggu dari purnama pertama hingga purnama ke-13 berakhir seraya berharap kau akan datang pada purnama berikutnya.Ada dongeng tentang purnama ke-14 di sini.
Mereka menyebutnya sebagai penyempurna penantian. Ketika saat itu datang seluruh harapan yang kau titip di 13 purnama sebelumnya akan mewujud.Tahukah kau, 2 kali aku menitipkan pinta pada 13 purnama yang datang.
Pikirku bukan kebetulan engkau memilih 14. Bukan sekedar untuk menenangkan hatiku."Dinda, aku harus pergi. Mengambil rezeki untuk meminangmu. Sayangnya, rezeki itu tak disimpin di sini. Kakak mendapat panggilan dari paman untuk kerja di Malaysia"Bukan hal asing mendapati pemuda dari kampung ini pergi merantau ke negeri seberang. Ada yang…