Sabtu, 13 Desember 2014

Sampaikan Maafku pada Generasi Masa Depan

Aku tertunduk malu
Menatap hijau gunung di hadapanku dan mendengar debur ombak di belakangku
Tikaman rasa bersalah ini datang tanpa permis
Tiada kata "halo" mengawalinya
Dan tidak punya kesempatan mendengar kata "dimaafkan!"
Sebab, ia yang tengah kumintai maafnya adalah wajah-wajah penuh amarah yang hadir 80 tahun lagi.
Wajah-wajah yang tak kenal senyum lebar saat melihat dua ekor kera berhidung merah saling mencandai.
Wajah yang tak akan ketakutan melihat Harimau Sumatera sebab hanya lorengnya ia kenali dalam bentuk permadani atau mantel bulu
Mereka, generasi yang patah hati
Yang hutannya tengah kita gunduli
Yang lautnya tengah kita buat sunyi
Yang buminya tengah kita racuni
Sekarang, harus kukemanakan permintaan maaf ini?
Pada kaki siapa aku harus bersimpuh?
Dengan cara apa aku menebus lalaiku?
Cukupkah dengan tidak berkendara pribadi seperti hari ini?
Cukupkah dengan mematikan televisi yang sudah terlalu bingar dengan dalih mengurangi penggunaan listrik?
Cicitku mungkin akan berkata,
"Tidak cukup! Sebab nenek menutup mata saat orang-orang mencuri dari kami. Nenek berdiam diri. Tidak mengubah apapun! "

Mungkin ketika ia menghakimiku serupa itu aku hanya bisa berkata,"maaf untuk keberanian yang tak kunjung terbit. Maaf untuk kepapaan untuk mengubah pilihan-piliham hidup orang-orang di sekitar nenek. Tapi bisakah maafmu datang bersama setiap usaha kecil nenek untuk menjaga yang mampu nenek jaga?"
Dan kelak aku hanya bisa memaklumi ketika ia berkata, "Tidak! Tidak akan ada maaf untuk nenek dan generasi nenek. Tiada maaf untuk generasi sebelum kami!"
Sebab saat itu, ia tak lagi dapat menatap hutan sebanyak yang ku lihat hari ini. Saat itu ia telah kehilangan seluruh jenis kupu-kupu yang kukagumi hari ini. Ia kehilangan mentari yang cerah dan biru langit yang indah.

Kelak kemarahannya akan kumaklumi bersama tikaman rasa bersalah yang datang bertubi saat ia berkata, "Nenek, kembalikan hijau bumi dan lestari aneka ragam flora dan fauna itu. Kembalikan?!"
 
Dan saat itu ketika ia mengiba dengan penuh air mata amarah, aku hanya berharap bisa kembali ke masa lalu dan melalukan sesuatu.
Mengajak lebih banyak orang bersamaku untuk berkata “tidak!” atas semua ketidakpedulian itu.

Bandung, 3 Desember 2014

Teruntuk generasi masa kini. Bumi macam apa yang akan kita wariskan kelak??
Puisi terinspirasi oleh buku Dunia Anna karya Jostein Gaarder

1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)