Langsung ke konten utama

[Flash Fiction] Titip Rindu untuk Mama



“Nak, jadi perempuan itu tidak mudah,” ucapan itu terlontar dari bibir Mama saat kami sedang berdua di dapur. Tangannya dengan cekatan menggoreng potongan-potongan tempe yang kuserahkan padanya.

“Maksud Mama?” tidak biasanya Mama berbicara seperti itu.


“Begini, kan Mama itu ibu rumah tangga yang juga bekerja. Padahal di keluarga kita perempuan-perempuannya sebagian besar jadi ibu rumah tangga full time. Nah, banyak yang berpikir Mama pasti menelantarkan keluarga. Padahal Mama juga selalu berusaha mengurusi semua keperluan kamu dan papamu dengan tangan mama sendiri. Mana mereka tahu bahwa setiap pagi mama harus bangun pagi-pagi sekali. Memasak dan menyiapkan bekal kalian. Menyetrika pakaian papamu dan siapkan kopinya. Hanya perkara membersihkan rumah saja yang Mama serahkan ke Bibi. Masakan untuk makan siang kalian sudah tinggal dihangatkan. Sepulang kerja Mama langsung siapkan makan malam untuk kalian” lanjut Mama sambil tangannya sibuk mengaduk-aduk tempe di wajan.

“Tapi seperti itu pun belum cukup. Mama tidak boleh terlihat kelelahan di depan papamu. Karena Mama tetap harus meladeni papamu dengan baik. Belum lagi kalau papamu ada masalah di kantor atau papamu sakit. Ndak ada kompromi,” aku masih terus terdiam mendengar penuturan Mama.

“Kita sebagai perempuan dituntut untuk bisa jadi istri, ibu, teman, dan kekasih bagi suami. Belum lagi kalau sudah punya anak, ada masanya kita harus jadi ibu, teman, guru, perawat hingga penjaga bagi anak. Jadi perempuan itu ndak mudah, Nak.”

Tanya berkelebat dibenakku. Adakah sesuatu? Adakah yang tengah merisaukan Mama? Tidak biasanya Mama berkeluh kesah seperti ini.

“Ndak ada, apa-apa nak. Cuma Mama pikir, kamu sudah dewasa. Jadi sebaiknya mulai mengerti dinamika berumah tangga. Ndak mudah nak,” Mama seolah bisa membaca pikiranku.

***

Ingatan itu kembali berkelebat di benakku. Duduk di salah satu kafe di bilangan jalan Hertasning di kota Daeng seraya menunggu hujan reda membuat pikiranku melayang. Kenangan dengan Mama sudah 2 tahun berlalu. Tidak lama setelah kejadian itu Mama meninggal. Kalah oleh penyakit ginjal yang memang telah lama dideritanya.

Kini, rindu pada Mama kian membuncah. Sebab 3 bulan lagi aku akan menyandang status sebagai istri. Sungguh hadir Mama sangat kubutuhkan. Aku tidak mungkin mengharapkan papa dan Rian, kakak lelakiku untuk mengajariku tentang tanggung jawab seorang istri. Ah, mataku memburam. Bergegas kutengadahkan kepala. Mencegah bulir air mata jatuh. 

Ku lanjutkan kembali membaca buku bertema pernikahan yang kubeli beberapa hari lalu. Tak kusadari hujan mereda dan mentari kembali mengintip. Di ujung langit sana sebuah pita cantik melengkung. Mengajak senyumku terkembang dan haru kembali menyeruak.

“Mama selalu suka dengan pelangi. Seperti kado indah setelah kesedihan datang,”  bisik Mama saat aku menyupirinya menuju praktek dokter November tahun lalu.

Pelangi, titip rindu untuk Mama. Sampaikan, kenangannya akan selalu ada meski ingatanku kian memudar. Mama, mohon restumu diijabku nanti.

Prompt #73: Pelangi. Terinspirasi oleh Puisi Mbak Carolina dalam Senin Berpuisi.
Puisinya sebagai berikut:
Carolina Ratri
Hei Pelangi, mau ke manakah siang begini?
Mengapa kau tak tanya kabarku hari ini?
Apakah aku sebegitu tak menarik untukmu?
Meski hanya untuk sebuah sapamu.
Jangan keburu pergi, temani dulu aku di sini.
Aku ingin lihat ibuku menurunimu sebagai bidadari.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…