Selasa, 02 Desember 2014

[Flash Fiction] Titip Rindu untuk Mama



“Nak, jadi perempuan itu tidak mudah,” ucapan itu terlontar dari bibir Mama saat kami sedang berdua di dapur. Tangannya dengan cekatan menggoreng potongan-potongan tempe yang kuserahkan padanya.

“Maksud Mama?” tidak biasanya Mama berbicara seperti itu.


“Begini, kan Mama itu ibu rumah tangga yang juga bekerja. Padahal di keluarga kita perempuan-perempuannya sebagian besar jadi ibu rumah tangga full time. Nah, banyak yang berpikir Mama pasti menelantarkan keluarga. Padahal Mama juga selalu berusaha mengurusi semua keperluan kamu dan papamu dengan tangan mama sendiri. Mana mereka tahu bahwa setiap pagi mama harus bangun pagi-pagi sekali. Memasak dan menyiapkan bekal kalian. Menyetrika pakaian papamu dan siapkan kopinya. Hanya perkara membersihkan rumah saja yang Mama serahkan ke Bibi. Masakan untuk makan siang kalian sudah tinggal dihangatkan. Sepulang kerja Mama langsung siapkan makan malam untuk kalian” lanjut Mama sambil tangannya sibuk mengaduk-aduk tempe di wajan.

“Tapi seperti itu pun belum cukup. Mama tidak boleh terlihat kelelahan di depan papamu. Karena Mama tetap harus meladeni papamu dengan baik. Belum lagi kalau papamu ada masalah di kantor atau papamu sakit. Ndak ada kompromi,” aku masih terus terdiam mendengar penuturan Mama.

“Kita sebagai perempuan dituntut untuk bisa jadi istri, ibu, teman, dan kekasih bagi suami. Belum lagi kalau sudah punya anak, ada masanya kita harus jadi ibu, teman, guru, perawat hingga penjaga bagi anak. Jadi perempuan itu ndak mudah, Nak.”

Tanya berkelebat dibenakku. Adakah sesuatu? Adakah yang tengah merisaukan Mama? Tidak biasanya Mama berkeluh kesah seperti ini.

“Ndak ada, apa-apa nak. Cuma Mama pikir, kamu sudah dewasa. Jadi sebaiknya mulai mengerti dinamika berumah tangga. Ndak mudah nak,” Mama seolah bisa membaca pikiranku.

***

Ingatan itu kembali berkelebat di benakku. Duduk di salah satu kafe di bilangan jalan Hertasning di kota Daeng seraya menunggu hujan reda membuat pikiranku melayang. Kenangan dengan Mama sudah 2 tahun berlalu. Tidak lama setelah kejadian itu Mama meninggal. Kalah oleh penyakit ginjal yang memang telah lama dideritanya.

Kini, rindu pada Mama kian membuncah. Sebab 3 bulan lagi aku akan menyandang status sebagai istri. Sungguh hadir Mama sangat kubutuhkan. Aku tidak mungkin mengharapkan papa dan Rian, kakak lelakiku untuk mengajariku tentang tanggung jawab seorang istri. Ah, mataku memburam. Bergegas kutengadahkan kepala. Mencegah bulir air mata jatuh. 

Ku lanjutkan kembali membaca buku bertema pernikahan yang kubeli beberapa hari lalu. Tak kusadari hujan mereda dan mentari kembali mengintip. Di ujung langit sana sebuah pita cantik melengkung. Mengajak senyumku terkembang dan haru kembali menyeruak.

“Mama selalu suka dengan pelangi. Seperti kado indah setelah kesedihan datang,”  bisik Mama saat aku menyupirinya menuju praktek dokter November tahun lalu.

Pelangi, titip rindu untuk Mama. Sampaikan, kenangannya akan selalu ada meski ingatanku kian memudar. Mama, mohon restumu diijabku nanti.

Prompt #73: Pelangi. Terinspirasi oleh Puisi Mbak Carolina dalam Senin Berpuisi.
Puisinya sebagai berikut:
Carolina Ratri
Hei Pelangi, mau ke manakah siang begini?
Mengapa kau tak tanya kabarku hari ini?
Apakah aku sebegitu tak menarik untukmu?
Meski hanya untuk sebuah sapamu.
Jangan keburu pergi, temani dulu aku di sini.
Aku ingin lihat ibuku menurunimu sebagai bidadari.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)