Rabu, 26 November 2014

[Flash Fiction] Putri yang Lain



Sepi.
Kosong.
Seorang gadis kecil dengan dress hijau selutut tengah meringkuk diam di sebuah tempat tidur singel di sudut kamar. Warna pink yang memenuhi seluruh ruangan membuat kehadiran gadis kecil itu bak sebuah daun yang jatud di antara tumpukan kelopak mawar pink.

Sayup-sayup terdengar suara napas tertahan.

“Janji. Putri nggak akan nakal lagi. Janji,” bisik gadis itu pelan. Matanya terpejam. Mimpi burukkah ia?

Kekosongan yang hening itu membuat kamar yang jelas dirancang untuk mengundang ceria seketik muram. Suram. Menjadi tempat hantu-hantu yang menghisap ketakutan berkerumun.

***
“Iya, jeung. Ini putri saya. Dia sudah kelas lima,” seorang perempuan dengan pakaian ala hijabers gaul tampak mendorong seorang gadis kecil yang sedari tadi sibuk menunduk memandangi sepatunya.

“Ayo Putri, salim ke tantenya,” desak ibu tersebut kepada gadis kecil tersebut. Putri pun kemudian mendongakkan kepalanya. Hidung mancung dan mata besar dengan bulu mata lentik miliknya pun terlihat. Membuahkan senyum di wajah perempuan yang disebut “tante” oleh ibunya.

“Wah, anaknya cantik ya.”

“Pintar juga lho. Putri selalu peringkat satu di sekolahnya,” lanjut sang ibu dengan bangga.

“Wah, pasti cepat ya nanti kemajuannya. Putri sudah pernah main Piano?” dengan segera perempuan yang disebut “tante” itu menanyakan beberapa hal pada Putri. Putri hanya bisa mengangguk atau sekedar menggeleng.

***

Di kolong meja Putri bersembunyi ditemani sebuah buku dongeng karya Andersen. Dengan mengandalkan sinar lampu yang menerobos ke kolong meja, Putri memasuki dunia yang berbeda.  Meninggalkan dunia yang ingin ia lupakan. Namun seketika sebuah tangan menarik paksa gadis kecil. Perasaan kaget menyergapnya. Diikuti oleh rasa takut.

“Kamu ngapain sih, Putri. Kan setengah jam lagi kamu harus berangkat kursus matematika,” suara itu sangat menakutkan bagi Putri sebab ia tahu bahwa sesaat lagi akan ada warna biru yang ditinggalkan oleh pemilik suara itu di pahanya.

“Tapi, Putri capek, Ma. Putri...,” belum sempat Putri menyelesaikan kalimatnya, cubitan menghinggapi pahanya. “Kamu pikir kursus kamu murah? Sudah jangan banyak alasan.”

***
“Maaf, Bu. Anak ibu harus dirawat inap karena kondisinya harus terus diobservasi. Panasnya masih tinggi,” jelas dokter yang menangani pasien kecil yang terbaring di salah satu tempat tidur di UGD.

“Mama mau sampai kapan memaksa Putri mengejar mimpi-mimpi mama dulu? Lihat, sekarang Putri sakit. Papa yakin itu karena kelelahan,” suara tajam itu datang dari pria yang duduk di sebelah Mama Putri.

“Sudah, Papa jangan sibuk menyalahkan mama. Papa sendiri cuma tahu meninggalkan Putri di rumah. Sibuk dengan pekerjaan dan sekertaris papa.”

Dokter yang sempat mendengar obrolan kedua orang tua Putri hanya bisa menggeleng. “Entah akan berapa banyak Putri-Putri lain yang harus datang ke sini karena kondisi seperti ini,” bisik dokter yang kepalanya ditutup oleh sebuah hijab. Seketika ia mengelus perutnya. Berdoa semoga ia bisa menjadi orang tua yang lebih baik.

Dibuat dalam rangka Prompt #72 Monday Flash Fiction

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)