Rabu, 26 November 2014

Mama: Istri Ideal Panutanku



Ketika bercerita tentang istri yang baik, tidak ada contoh apa pun yang terlintas oleh saya selain kisah mama-papa di rumah. Pada mama, saya temukan contoh istri yang baik. Contoh perempuan tangguh yang ingin saya jadikan tauladan. Dari beliau saya belajar tentang pengabdian.

Ada satu kejadian yang membekas cukup dalam di hati saya.

Ketika itu, papa tengah bertugas di Palembang. Biasanya jika dipindahtugaskan, papa akan memboyong mama dan semua anak-anaknya. Namun kali ini karena kami sudah cukup besar, maka diputuskan bahwa Papa tinggal sendiri di Palembang. Mama tinggal di Makassar menemani dan mengurus kami, anak-anaknya. Papa setiap akhir pekan terbang ke Makassar demi menemui kami. (Ah, jika harus menuliskan tentang suami ideal maka saya pun akan menulis tentang papa). Mama pun setiap pekan berusaha meladeni papa sebaik mungkin. Makanan, pakaian, dan hal-hal yang disenangi papa disediakan dengan cermat oleh mama.

Hingga suatu hari mama jatuh sakit.
Mama tidak sanggup bangun dari pembaringan. Mama memilih tidur di sofa bed yang ada di ruang keluarga agar kami anak-anaknya bisa lebih mudah merawat dan mengecek kondisi mama. Kemudian akhir pekan datang. Papa tiba dari Palembang di tengah malam. Papa yang memahami kondisi mama tidak banyak bicara. Hingga akhirnya siang hari datang. Saya yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga dipanggil mama. Saya melihat mata mama berkaca-kaca. Tidak lama mama membisiki, “Nak, bikin telur dadar untuk papa. Suruh adikmu beli makanan.” Saya memahami instruksi ini dengan cukup jelas. Namun tetap saja bingung. Ada apa? Kenapa mama menangis? Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya. Jawabannya membuat saya dan papa terdiam.

“Mama sedih, Nak. Mama ndak bisa masakkan makanan untuk papamu. Padahal papa sudah datang jauh-jauh dari Palembang. Selama papa di Palembang mama ndak bisa urusi papa. Sekarang, bahkan bikinkan kopi untuk papa, mama ndak bisa,” mama berucap ini sambil menusap air matanya. Papa lantas datang mengusap-usap lengan mama sambil berkata,”tidak apa-apa, Ma. Tidak apa-apa.” Setelah itu saya beranjak menuju dapur sambil menahan haru. Ya Rabb, pengabdian mama selama ini tertuang dengan sederhana namun dalam. Mama menyimpan rasa bersalah karena tidak bisa mengurusi papa di Palembang. Padahal di Makassar, Mama bahkan jarang berjalan-jalan. Hanya sibuk di warung dan di dapur. Dan sakitnya membuat beliau semakin patah hati karena tidak bisa meladeni papa.

Setelah itu, bayangan tentang mama yang selalu menunggu papa pulang dan menemani papa makan malam di meja makan, semalam apapun itu terputar kembali di kepala saya. Teringat pula, kalimat teman sekantor Papa, “Pakaian Pak Rasyid itu selalu rapi. Tidak ada bekas kusut sedikit pun,” yang sebenarnya merupakan pujian untuk usaha mama yang tiap pagi menyetrika pakaian papa dengan tekun. Bahkan untuk secangkir kopi untuk papa, mama selalu memastikan tidak ditangani oleh orang lain selain mama atau saya.

Saya tahu, sebagai seorang muslimah sebaik-baik contoh dan panutan adalah istri dan anak Rasulullah serta sahabat-sahabat beliau yang sempat mengenyam ilmu di “madrasah Rasulullah”. Namun sungguh teladan yang dekat secara fisik dan psikologis akan lebih mudah diserap dan diterima. Untuk itu saya bersyukur atas karunia Allah yang menampilkan langsung sosok Istri Ideal di dalam kehidupan saya. Dari mama saya dipahamkan tentang pengabdian seorang istri. Dari papa saya belajar tentang pengabdian dan pengertian seorang suami.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)