Sabtu, 16 Agustus 2014

Pria Petualang dan Ratte



Hai Pembaca,

Malam ini saya ingin bercerita tentang pria yang akrab disapa Papa’ Ari. Seorang pria di usia yang menjelang senja namun semangatnya selalu muda. Ia bukan seorang saudagar kaya, apa lagi artis televisi. Ia hanyalah seorang pahlawan bagi 5 anak-anaknya. Pria yang kini menjalani masa purnabakti memilih kembali ke Litaq Mandar. Setelah puluhan tahun merantau.

Puluhan tahun bekerja di belakang meja tidak menurunkan staminanya atau mematikan jiwa petualangnya. Terbukti, pagi itu, Senin, 11 Agustus 2014 ia tanpa ragu melangkahkan kaki menuju Dusun Ratte. Dusun tersebut adalah salah satu Dusun yang terdapat di Desa Banua Adolang, Kec. Pamboang, Kab. Majene, Sulawesi Barat.

Perjalannya ia mulai dari wilayah Taduang. Dari tepi jalan raya, lelaki yang akrab di sapa Papa’ Ari itu menjejak jalan cor-an. Jalanan mulus itu hanya sekitar 500 meter. Hanya sampai sebuah pusat instalasi PDAM bercat biru. Sisanya? Jalanan berbatu yang tidak rata. 

Dengan celana jeans biru muda dan sebuah topi pet, Papa’ Ari melangkah dengan tenang melalui jalan yang semakin lama semakin mendaki. Ia sempat berhenti sebentar memandangi suguhan ciptaan-Nya. Pemandangan laut dan gunung yang berdampingan. Hijau dan biru. Langit dan bumi. Semuanya tengah menyapa ramah pria itu. Menyuguhinya pemandangan yang tidak akan ia temui di perkotaan.
pemandangan di jalan menuju Ratte

Saat melanjutkan perjalanan, otak lelaki berusia 57 tahun ini ternyata terus berputar. Membaca setiap potensi wisata dari daerah yang ia lewati. Saat melihat sebuah kebun nanas yang entah milik siapa, terbesit pemikiran bahwa jika jalur ini bisa menjadi jalur wisata maka tempat itu bisa menjadi tempat peristirahatan yang menyediakan jus nanas sebagai menu andalannya.

Setelah itu, ia melangkah menyusuri tepi sungai yang debit airnya sangat kecil. Ia lantas membayangkan bahwa jika debit air sungainya cukup banyak, betapa banyak orang yang akan senang mengunjungi tempat itu. Dengan pepohonan yang meneduhkan jalan setapak yang dilalui. Air sungai yang jernih dan bebatuan berbagai ukuran di dalamnya jelas akan mengikat mata wisatawan terutama mereka yang tinggal di kota.

Kian lama jalanan yang dilaluinya kian terjal. Namun ia sama sekali tak nampak ngos-ngosan. Ia masih bisa tersenyum dan bahkan menggoda putrinya yang ia jadikan kawan perjalanan hari itu.

Perjalanan menuju Dusun Ratte ternyata harus ditempuh selama lebih kurang 3 jam. Sepanjang perjalanan ia menunjuk berbagai hal yang ia yakini masih asing bagi putrinya. Anak-anaknya lebih banyak menghabiskan waktu di perkotaan dikarenakan mengikuti dirinya yang kerja berpindah-pindah kota. Dan kini ia merasa harus melengkapi pengetahuan anak-anaknya dengan memperkenalkannya dengan negeri tempatnya dilahirkan.

salah satu sungai yang kami lewati
 “Jangan bicara sembarangan di tempat ini,” tegurnya dengan nada suara rendah. Mereka tengah menyeberangi jalur sungai yang saat itu debitnya kecil karena kemarau dan pipa PDAM yang menyedot kehidupan sungai itu. Di tempat itu banyak bebatuan besar dan juga sedikit lebih gelap dari tempat lainnya karena rimbunan pohon-pohon besar di sekitarnya.

Sesampainya di Dusun Ratte, pria ini mengantarkan putrinya untuk melihat pembuatan gula merah mandar yang dibuat dari manyan (bahasa mandar untuk air yang mereka ambil dari pohon aren). Ia sendiri meminum manyan yang masih segar yang baru saja dibawakan oleh seorang pemuda kenalannya yang juga warga di Dusun tersebut.

Tak lama ia nampak sibuk bercakap-cakap dengan seorang bapak menggunakan bahasa Mandar. Mereka membicarakan tentang banyak hal. Tentang Ratte yang dulunya bisa dijadikan tempat berladang. Tentang potensi-potensi Ratte yang ternyata menghasilkan cukup banyak buah-buahan seperti langsat, rambutan, sukun, kemiri, dan cokelat. Warga Ratte juga selain mengolah manyan menjadi gula merah, mereka juga memproduksi kunyit bubuk yang mereka olah sendiri dari kunyit yang mereka kumpulkan di kebun atau di alam sekitar mereka.
manyan dan gula merah
Ada satu lagi potensi Ratte yakni Bambu Pettung. Bambu ini pada umumnya digunakan untuk membuat rumah baik sebagai dinding maupun lantai oleh warga Ratte. Papa’ Ari memanfaatkan Bambu Pettung sebagai bahan untuk membuat gazebo-gazebo di rumah makan yang didirikannya di tepi Pantai Pamboang.
Puas melihat banyak hal di Ratte, ia pun mengajak putrinya pulang. Namun kali ini mereka memalui jalur yang berbeda. Mereka menuju Dusun Timbogading, Desa Betteng.  Jalanan yang dilaluinya kali ini berbeda. Jika sebelumnya mereka dipayungi oleh pepohonan dan menapak di atas batu-batu alam. Maka kali ini ia lebih banyak dipapar matahari. Jalanannya berpasir dan angin kencang menerpa langsung tubuhnya.

Setelah melalui jalanan yang mendaki dan berpasir dengan pemandangan bukit-bukit di sekitarnya, 30 menit kemudian ia menemukan jalan cor yang dibuat oleh pemda Majene. Sayangnya jalanan ini terlalu curam. Perjalanan yang kini adalah penurunan terasa berat dilalui. Lutut mendapat cobaan berat.

“Lebih enak memang jalan di tempat yang masih alami. Perjalanan jadi tidak terasa berat,” gumamnya saat terus menapaki jalan bercor yang memang tidak ramah untuk pejalan kaki. Ia pun sempat membayangkan resiko mengendarai mobil di jalanan securam itu. Bisa-bisa mobil yang tidak kuat mendaki akan mengalami celaka.

Sore sekita jam 4, perjalanannya berakhir. Ia pun melangkahkan kaki kembali ke kediamannya yang juga menjadi tempatnya menjalankan usaha rumah makan dan penginapan. Ia tidak merasa lelah. Ia bahkan sempat berfikir untuk berenang di laut. Sayangnya telepon dari kawan lamanya yang bermaksud mampir menemuinya mengurungkan niat itu.

Hm..hari itu membuktikan sekali lagi performa pria yang berasal dari Pamboang ini. Tentang usia yang tidak menjadi tolak ukur daya tahan. Tentang pikiran visioner dengan ide-ide yang mengalir deras menilai potensi berbagai hal yang ia temui. Dan paling penting, perjalanan ini menjadi salah satu pembuktian bahwa laki-laki yang terlahir dengan nama Abd. Rasyid Djamil ini memang seorang petualang. (^_^)v

Sang Pria Petualang

Salam,
Putri Sang Petualang

P.S:  Sekali lagi saya diyakinkan bahwa saya tidak salah memilih idola. My Father is my hero. (^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)