Langsung ke konten utama

Litaq Mandar, Saya Jatuh Cinta (lagi!)

Dalam 1 tahun ada 365 hari. Setiap harinya punya keunikan dan kenangan tersendiri. Bahkan ada yang nyaris tanpa makna. Terlupakan dalam sehari. Namun ada pula hari yang terkenang selama berhari-hari namun kemudian terlupakan sebab tak dituliskan. Hal ini yang sering saya alami.

Hidup saya selama sebulan terakhir di Pulau Celebes khususya di litaq (tanah) Mandar. Setiap hari informasi baru melimpahi saya. Entah tentang keindahan berbagai tempat di negeri ini, atau pun keragaman budayanya. Juga ke’heboh’an yang dibagikan oleh sejumlah kenalan baru saya di tanah Mandar.

Salah satu hal yang tidak akan (tidak mau) saya lupakan adalah hari kemarin. Sabtu, 30 Agustus 2014. Di hari ini saya mendapatkan banyak hal. Terutama informasi dan pengetahuan serta kesadaran pribadi tentang keindahan kampung halaman saya serta apa konsekuensi kecintaan ini.

Pagi kemarin, saya mendapat kunjungan dari 2 orang kawan. Mereka datang ke Dapur Mandar, rumah makan milik papa saya. Kedua orang ini datang dari kota sebelah yakni Polman (Polewali Mandar). Awalnya untuk membicarakan tentang rencana diskusi buku Pakkacaping Mandar karya Asmadi Alimuddin yang akan dihelat 6 Septmber 2014 nanti di Dapur Mandar. Diskusi ini kemudian berpindah ke pembicaraan tentan pariwisata di Mandar. Papa yang saat itu ikut ngobrol bersama lantas berbagi banyak ide-ide tentan membangun Mandar. Ide-ide yang dilandasi kecintaan yang besar Mandar. Bukan berarti papa saya rasis. Namun papa percara bahwa Mandar ini punya banyak potensi menjadi besar. Keindahan alam, kemudian kekayaan budaya, serta kekayaan hasil laut Mandar seharusnya menjadi kekuatan yang besar.

Buku Pakkacaping Mandar dan Pantai Pamboang (Foto : Atria Dewi Sartika)
Salah seorang kawan saya yang juga membangun sebuah komunitas budaya di Polman menjadi bersemangat. Di sini saya melihat bagaimana passion dan kecintaan menyatu dan menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan sesuatu. Keinginan untuk memberi sesuatu pada negeri Mandar mendorong kawan saya membuat komunitas budaya; keinginan dan kecintaan yang sama membuat papa saya membangun Dapur Mandar yang ia harapkan tidak hanya jadi dapur makanan namun juga dapur budaya; serta hal itu yang mendorong saya dan teman-teman menggagas Mandar Culture & Writers Festival.

Semoga kecintaan ini kelak membuahkan sesuatu. Bisa ikut menjadi tonggak berkembangnya tanah Mandar.
Malam hari, ba’da maghrib, Dapur Mandar kembali mendapat kunjungan. Kali ini dari “Tim Bango Ekspedisi Kuliner Barat Timur Nusantara”. Kedatangan mereka atas rekomendasi akun @Tommuane_Mandar yang berinteraksi dengan @NegeriID yang merupakan anggota tim tersebut. Malam itu saya melihat bagaimana kecintaan papa pada Mandar berhasil membuahkan rasa tertarik pada pihak-pihak di luar Mandar. Papa bercerita bahwa papa sengaja menyediakan menu Bau Tappi, Baupeapi, dan Cumi Masak sebagai cara papa memperkenalkan & melestarikan kuliner Mandar ke pengunjung. Pemandangan Pantai Pamboang yang  bersih juga menjadi bisa dinikmati oleh pengunjung. Ini sekaligus menunjukkan kepada banyak pihak bahwa Mandar, khususnya Majene memiliki potensi wisata yang besar selama mampu dikelola dengan baik.

Berfoto bersama Tim kuliner Bango Nusantara (Foto : Atria Dewi Sartika)
Terakhir, saya mendapat limpahan ilmu dari telepon seorang kawan baru. Waktu 1 jam 20 menit yang saya habiskan di telepon semalam bagi saya termasuk waktu produktif. Bagaimana mungkin? Darinya saya belajar sedikit tentang kehidupan laut. Saya jadi tahu tentang kehidup penyu, yang jika saya harus cari tahu sendiri, saya harus menghabiskan waktu dengan googling dan searching berbagai informasi tentang penyu.

Kawan yang secara usia dan pengalaman lebih matang dari saya ini, membagi banyak pengetahuannya tanpa segan-segan. Darinya saya tahu bahwa penyu itu ketika akan bertelur akan mencari tempat yang gelap dan tenang. Kemudian tukik (anak penyu) yang baru lahir, saat kembali ke laut berjalan mundur. Ini karena tukik merekam ingatan tentang tempat ia dilahirkan. Kelak ia akan kembali ke sana. Namun jika tempat itu berubah ia akan bingung dan akhirnya tidak jadi kembali ke tempat kelahirannya. Kawan saya juga bercerita bahwa penyu betina itu gampang stress. Pada saat ia akan bertelur, sebisa mungkin kita harus tenang agar tidak mengganggunya. Katanya di luar negeri saat orang menjadikan penyu sebagai salah satu potensi wisatanya, guide akan mengingatkan para wisatawan akan berbagai hal yang diperhatikan jika ingin melihat penyu bertelur. Diantaranya adalah tidak boleh menggunakan pencahayaan, tidak ribut, berjalan mengendap-endap (untuk 15 menit maksimal jarak yang boleh ditempuh hanya 10 meter).

Malam itu, saya mendengar kekaguman kawan saya ini pada Majene. Ia juga bercerita kegemasannya karena banyak orang Majene tidak menyadari potensi daerahnya sendiri. Bahkan banyak yang tidak tahu bahwa di pantai di Majene, kita juga bisa melihat sunrise. Tidak hanya sunset. Jika datang ke Pamboang atau rewata’a atau Dato, kita bisa melihat pemandangan sunset yang indah. Namun jika ingin memotret sunrise, maka datanglah ke Pantai Barane. Ah, indahnya tanah Mandar.

Sunset di RM Dapur Mandar Pantai Pamboang (Foto : Atria Dewi Sartika)
Malam ini saya benar-benar bangga menjadi anak Mandar. Meski tidak lahir di tanah ini, namun tanah inilah yang saya sebut kampung halaman. Tempat kedua-orang tua saya mengakar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…