Minggu, 31 Agustus 2014

Litaq Mandar, Saya Jatuh Cinta (lagi!)

Dalam 1 tahun ada 365 hari. Setiap harinya punya keunikan dan kenangan tersendiri. Bahkan ada yang nyaris tanpa makna. Terlupakan dalam sehari. Namun ada pula hari yang terkenang selama berhari-hari namun kemudian terlupakan sebab tak dituliskan. Hal ini yang sering saya alami.

Hidup saya selama sebulan terakhir di Pulau Celebes khususya di litaq (tanah) Mandar. Setiap hari informasi baru melimpahi saya. Entah tentang keindahan berbagai tempat di negeri ini, atau pun keragaman budayanya. Juga ke’heboh’an yang dibagikan oleh sejumlah kenalan baru saya di tanah Mandar.

Salah satu hal yang tidak akan (tidak mau) saya lupakan adalah hari kemarin. Sabtu, 30 Agustus 2014. Di hari ini saya mendapatkan banyak hal. Terutama informasi dan pengetahuan serta kesadaran pribadi tentang keindahan kampung halaman saya serta apa konsekuensi kecintaan ini.

Pagi kemarin, saya mendapat kunjungan dari 2 orang kawan. Mereka datang ke Dapur Mandar, rumah makan milik papa saya. Kedua orang ini datang dari kota sebelah yakni Polman (Polewali Mandar). Awalnya untuk membicarakan tentang rencana diskusi buku Pakkacaping Mandar karya Asmadi Alimuddin yang akan dihelat 6 Septmber 2014 nanti di Dapur Mandar. Diskusi ini kemudian berpindah ke pembicaraan tentan pariwisata di Mandar. Papa yang saat itu ikut ngobrol bersama lantas berbagi banyak ide-ide tentan membangun Mandar. Ide-ide yang dilandasi kecintaan yang besar Mandar. Bukan berarti papa saya rasis. Namun papa percara bahwa Mandar ini punya banyak potensi menjadi besar. Keindahan alam, kemudian kekayaan budaya, serta kekayaan hasil laut Mandar seharusnya menjadi kekuatan yang besar.

Buku Pakkacaping Mandar dan Pantai Pamboang (Foto : Atria Dewi Sartika)
Salah seorang kawan saya yang juga membangun sebuah komunitas budaya di Polman menjadi bersemangat. Di sini saya melihat bagaimana passion dan kecintaan menyatu dan menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan sesuatu. Keinginan untuk memberi sesuatu pada negeri Mandar mendorong kawan saya membuat komunitas budaya; keinginan dan kecintaan yang sama membuat papa saya membangun Dapur Mandar yang ia harapkan tidak hanya jadi dapur makanan namun juga dapur budaya; serta hal itu yang mendorong saya dan teman-teman menggagas Mandar Culture & Writers Festival.

Semoga kecintaan ini kelak membuahkan sesuatu. Bisa ikut menjadi tonggak berkembangnya tanah Mandar.
Malam hari, ba’da maghrib, Dapur Mandar kembali mendapat kunjungan. Kali ini dari “Tim Bango Ekspedisi Kuliner Barat Timur Nusantara”. Kedatangan mereka atas rekomendasi akun @Tommuane_Mandar yang berinteraksi dengan @NegeriID yang merupakan anggota tim tersebut. Malam itu saya melihat bagaimana kecintaan papa pada Mandar berhasil membuahkan rasa tertarik pada pihak-pihak di luar Mandar. Papa bercerita bahwa papa sengaja menyediakan menu Bau Tappi, Baupeapi, dan Cumi Masak sebagai cara papa memperkenalkan & melestarikan kuliner Mandar ke pengunjung. Pemandangan Pantai Pamboang yang  bersih juga menjadi bisa dinikmati oleh pengunjung. Ini sekaligus menunjukkan kepada banyak pihak bahwa Mandar, khususnya Majene memiliki potensi wisata yang besar selama mampu dikelola dengan baik.

Berfoto bersama Tim kuliner Bango Nusantara (Foto : Atria Dewi Sartika)
Terakhir, saya mendapat limpahan ilmu dari telepon seorang kawan baru. Waktu 1 jam 20 menit yang saya habiskan di telepon semalam bagi saya termasuk waktu produktif. Bagaimana mungkin? Darinya saya belajar sedikit tentang kehidupan laut. Saya jadi tahu tentang kehidup penyu, yang jika saya harus cari tahu sendiri, saya harus menghabiskan waktu dengan googling dan searching berbagai informasi tentang penyu.

Kawan yang secara usia dan pengalaman lebih matang dari saya ini, membagi banyak pengetahuannya tanpa segan-segan. Darinya saya tahu bahwa penyu itu ketika akan bertelur akan mencari tempat yang gelap dan tenang. Kemudian tukik (anak penyu) yang baru lahir, saat kembali ke laut berjalan mundur. Ini karena tukik merekam ingatan tentang tempat ia dilahirkan. Kelak ia akan kembali ke sana. Namun jika tempat itu berubah ia akan bingung dan akhirnya tidak jadi kembali ke tempat kelahirannya. Kawan saya juga bercerita bahwa penyu betina itu gampang stress. Pada saat ia akan bertelur, sebisa mungkin kita harus tenang agar tidak mengganggunya. Katanya di luar negeri saat orang menjadikan penyu sebagai salah satu potensi wisatanya, guide akan mengingatkan para wisatawan akan berbagai hal yang diperhatikan jika ingin melihat penyu bertelur. Diantaranya adalah tidak boleh menggunakan pencahayaan, tidak ribut, berjalan mengendap-endap (untuk 15 menit maksimal jarak yang boleh ditempuh hanya 10 meter).

Malam itu, saya mendengar kekaguman kawan saya ini pada Majene. Ia juga bercerita kegemasannya karena banyak orang Majene tidak menyadari potensi daerahnya sendiri. Bahkan banyak yang tidak tahu bahwa di pantai di Majene, kita juga bisa melihat sunrise. Tidak hanya sunset. Jika datang ke Pamboang atau rewata’a atau Dato, kita bisa melihat pemandangan sunset yang indah. Namun jika ingin memotret sunrise, maka datanglah ke Pantai Barane. Ah, indahnya tanah Mandar.

Sunset di RM Dapur Mandar Pantai Pamboang (Foto : Atria Dewi Sartika)
Malam ini saya benar-benar bangga menjadi anak Mandar. Meski tidak lahir di tanah ini, namun tanah inilah yang saya sebut kampung halaman. Tempat kedua-orang tua saya mengakar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)