Langsung ke konten utama

To Semarang with Love


Hai, sayang.
Kamu pasti tidak menyangka akan menerima surat ini.
He..he.. aku hanya ingin memberi sedikit kejutan.
Sudah 6 bulan kita tak bertemu.
Dan selama kamu nggak di sini aku benar-benar merindukanmu.
Aku rindu berbagi cerita tentang teman-teman kita. Tentang Dio yang akhirnya berhasil mendapatkan hati Kania. Tentang Lia-Eko yang selalu bertengkar tapi langsung mesra lagi.
Aku rindu bermain dengan Kei, keponakanmu yang lucu. Melihatmu mengganggunya dan menodongnya untuk memberimu pelukan untuk dihadiahi sebutir permen yang memang sejak awal akan kamu  berikan, dengan atau tanpa ciuman darinya.
Aku merindukamu, sayang.
Merindukan caramu menjagaku dari hujan. Membiarkan sebelah sisi tubuhmu basah agar aku aman dalam payung kecil yang kita pakai berdua.
Merindukanmu yang selalu mengomeliku yang sering lupa memakai jaket dan akhirnya mengikhlaskan jaketmu untukku saat melihatku mulai kedinginan.
Aku merindukanmu.. merindukan pelukan yang selalu berhasil menghentikan tangisku saat hatiku dilukai oleh mereka atau dunia.
Cepat pulang, sayang. Dan.
Aku rindu.
From Bandung with Love
Dianita
***
Setelah membaca surat itu, Rian pun segera mengingat Dian. Kekasih yang ia tinggalkan di Bandung. Ia yang tengah menantang beratnya hidup di Semarang sendirian demi mencari masa depan, mendadak merasa bersalah. Sudah 6 bulan dia tidak pulang ke Bandung mengunjungi keluarga dan kekasihnya. Semarang yang dulu tampak tidak menarik di matanya kini berhasil membuatnya betah. Bukan, bukan Semarang yang membuatnya bertahan melainkan Sinta, perempuan yang ia kenal di sebuah kafe.

Sinta, perempuan ayu dan manis yang mengenalkannya pada keindahan kota Semarang. Membuatnya bertahan menghadapi gerahnya udara di sini yang berbeda jauh dengan Bandung yang sejuk. Menyantap Ikan Bakar Cianjur sambil menatap wajah Sinta membuatnya lupa waktu.

Membaca surat Dian membuatnya mmenyadari, sudah 3 bulan terakhir ia mulai jarang menghubungi kekasihnya itu. Sejak dekat dengan Sinta, Rian lebih menikmati waktu-waktu yang ia habiskan saat bertemu dan berkomunikasi dengan Sinta.  Mendadak notifikasi whatsapp di ponsel pintar Rian berbunyi:

Mas,  besok kita jadi ke Candi Gedong Songo kan? Kalau jadi, Sinta mau buat bekal untuk kita bawa besok.

Dengan segera dijawab oleh Rian.  Jadi kok, Sayang. Besok jam 7 aku jemput ya.
***

 “Kapan rencananya kamu ketemu Rian, Di?” tanya Lena, sahabat Dian yang tinggal di Semarang.  “Mungkin besok, Len. Soalnya aku cuma tahu alamat kantornya.”
“Kalo gitu, hari ini kita gabung yuk dengan teman-teman aku yang mau main ke Candi Gedong Sango. Kamu nggak capek kan?”
“Wah, boleh tuh. Aku nggak capek kok. ”
Seteleh itu Lena dan Dian segera meninggalkan parkiran Stasiun Tawang menuju tempat pertemuan teman-teman Lena.
***
Aku bisa menempuh ribuan kilometer untuk menuntaskan rindu ini, jika memang hatimu masih untukku. Tapi aku tidak akan sanggup melangkah satu centimeter pun jika hanya untuk mendapati namaku sudah tergantikan oleh orang lain.

Dengan air mata yang terus mengalir, Dian mengirim sms itu. Pemandangan yang ia lihat siang tadi menguatkannya. Tak lama kemudian sebuah balasanpun datang.

Maaf.

Seketika tangis Dian menderas. 

Tulisan ini diikutkan untuk Prompt #38: A Thousand Miles yang digagas oleh Monday FlashFiction

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…