Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Sampaikan Maafku pada Generasi Masa Depan

Aku tertunduk malu
Menatap hijau gunung di hadapanku dan mendengar debur ombak di belakangku
Tikaman rasa bersalah ini datang tanpa permis
Tiada kata "halo" mengawalinya
Dan tidak punya kesempatan mendengar kata "dimaafkan!" Sebab, ia yang tengah kumintai maafnya adalah wajah-wajah penuh amarah yang hadir 80 tahun lagi.
Wajah-wajah yang tak kenal senyum lebar saat melihat dua ekor kera berhidung merah saling mencandai.
Wajah yang tak akan ketakutan melihat Harimau Sumatera sebab hanya lorengnya ia kenali dalam bentuk permadani atau mantel bulu Mereka, generasi yang patah hati
Yang hutannya tengah kita gunduli
Yang lautnya tengah kita buat sunyi
Yang buminya tengah kita racuni Sekarang, harus kukemanakan permintaan maaf ini?
Pada kaki siapa aku harus bersimpuh? Dengan cara apa aku menebus lalaiku?
Cukupkah dengan tidak berkendara pribadi seperti hari ini?
Cukupkah dengan mematikan televisi yang sudah terlalu bingar dengan dalih mengurangi penggunaan listrik? Ci…

[Flash Fiction] Titip Rindu untuk Mama

“Nak, jadi perempuan itu tidak mudah,” ucapan itu terlontar dari bibir Mama saat kami sedang berdua di dapur. Tangannya dengan cekatan menggoreng potongan-potongan tempe yang kuserahkan padanya.
“Maksud Mama?” tidak biasanya Mama berbicara seperti itu.

Mama: Istri Ideal Panutanku

Ketika bercerita tentang istri yang baik, tidak ada contoh apa pun yang terlintas oleh saya selain kisah mama-papa di rumah. Pada mama, saya temukan contoh istri yang baik. Contoh perempuan tangguh yang ingin saya jadikan tauladan. Dari beliau saya belajar tentang pengabdian.
Ada satu kejadian yang membekas cukup dalam di hati saya.
Ketika itu, papa tengah bertugas di Palembang. Biasanya jika dipindahtugaskan, papa akan memboyong mama dan semua anak-anaknya. Namun kali ini karena kami sudah cukup besar, maka diputuskan bahwa Papa tinggal sendiri di Palembang. Mama tinggal di Makassar menemani dan mengurus kami, anak-anaknya. Papa setiap akhir pekan terbang ke Makassar demi menemui kami. (Ah, jika harus menuliskan tentang suami ideal maka saya pun akan menulis tentang papa). Mama pun setiap pekan berusaha meladeni papa sebaik mungkin. Makanan, pakaian, dan hal-hal yang disenangi papa disediakan dengan cermat oleh mama.
Hingga suatu hari mama jatuh sakit.

[Review Buku] Finally You: Ketika Dua Luka Menemukan Obatnya

“Kita hanya 2 orang kawan yang bertemu kebetulan. Di persimpangan jalan. Ingin kembali ke masa lalu yang nyaman atau sama2 menatap ke masa depan?” (hal. 91)

Finally You Penulis: Dian Mariani Editor: Herlina P Dewi Proof Reader: Weka Swasti Desain Cover: Teguh Santosa Layout Isi: Deeje Penerbit: Stiletto Book Cetakan: I, Juni 2014 Jumlah hal.: 277 halaman ISBN: 978-602-7572-28-7 Luisa dan Raka, dipersatukan oleh luka. Luisa yang patah hati setelah ditinggal Hans, memilih menghabiskan waktunya di kantor sampai malam. Bekerja tak kenal lelah. Siapa sangka, ternyata bos di kantornya juga baru putus cinta. Mereka sama-sama mencari pelarian. Mengisi waktu-waktu lengang selepas jam lembur dengan menyusuri jalan-jalan padat ibu kota. Berdua. Membagi luka dan kecewa. Antara bertahan pada kenangan, atau membiarkan waktu yang menyembuhkan. Baik Luisa ataupun Raka membiarkan hubungan mereka berjalan apa adanya. Hubungan yang dewasa tanpa ungkapan cinta. Mungkin rasa aman dan nyaman bersama kenangan, membuat …

Sebab Aku “Atria Dewi Sartika”

Bagi mereka yang percaya bahwa tidak ada hal yang kebetulan di dunia melainkan semua akan memberi konsekuensi pada hal lainnya, maka sebuah nama tidak mungkin menjadi sepele. Karena keyakinan ini, bahkan sebuah daun yang jatuh dari pohonnya pun atas sepengetahuanNya dan pasti akan mempengaruhi hal lainnya. 
Lantas, apakah sebuah nama yang terlintas di kepala orang tua saat berniat memberi kita nama adalah sebuah kebetulan yang tanpa arti? Bagiku tidak. Karena aku percaya bahwa ada sebuah alasan hingga Sang Maha Tahu mengilhamkan hal itu ke benak orang tua. Keyakinan ini yang membuatku terus mencari arti namaku. Butuh 24 tahun hingga berhasil menemukan makna nama “Atria Dewi Sartika” yang diberikan oleh orang tuaku. Nama ini jelas jauh dari kesan islami, namun saat menyadari makna sesungguhnya nama ini, seketika sebuah beban berat mendadak terpanggul di pundakku.

Muhasabah Malam ini

Rabb-ku sedang sayang padaku. DiberikanNya sakit agar aku bisa mengistirahatkan tubuh ini.
Raga yang mulai protes karena haknya tidak kutunaikan dengan baik.Saat ini kucoba menghitung jejak kesehatan yang diberikanNya yang kemudian ku lalaikan.Sering kali kudorong tubuh ini bekerja melebihi batasnya tanpa memenuhi haknya.Dan kini Sang Maha Pengasih mengambil alih agar tak lagi kulanjutkan kedzolimanku pada tubuh yang direzekikanNya untukku.Karena cintaNya-lah hingga kini ku dapat merebahkan diri.
Tanpa beban. Tanpa tergesa. Tanpa rasa bersalah.Tak ada lagi kata yang kuucapkan untuk menunda istirahat.
Tak ada lagi alasan untuk membiarkan perut kosong sedikiiiit lebih lama.Maaf untuk amanah yang terpaksa kulalaikan.Maaf pada tubuhku yang kulalaikanSemoga ini jadi moment muhasabah yang baik :)Bekasi, 5 Oktober 2014

Litaq Mandar, Saya Jatuh Cinta (lagi!)

Dalam 1 tahun ada 365 hari. Setiap harinya punya keunikan dan kenangan tersendiri. Bahkan ada yang nyaris tanpa makna. Terlupakan dalam sehari. Namun ada pula hari yang terkenang selama berhari-hari namun kemudian terlupakan sebab tak dituliskan. Hal ini yang sering saya alami.
Hidup saya selama sebulan terakhir di Pulau Celebes khususya di litaq (tanah) Mandar. Setiap hari informasi baru melimpahi saya. Entah tentang keindahan berbagai tempat di negeri ini, atau pun keragaman budayanya. Juga ke’heboh’an yang dibagikan oleh sejumlah kenalan baru saya di tanah Mandar.
Salah satu hal yang tidak akan (tidak mau) saya lupakan adalah hari kemarin. Sabtu, 30 Agustus 2014. Di hari ini saya mendapatkan banyak hal. Terutama informasi dan pengetahuan serta kesadaran pribadi tentang keindahan kampung halaman saya serta apa konsekuensi kecintaan ini.
Pagi kemarin, saya mendapat kunjungan dari 2 orang kawan. Mereka datang ke Dapur Mandar, rumah makan milik papa saya. Kedua orang ini datang dari kota…

Cara Kami Merayakan 69 Tahun Indonesia Merdeka

Pukul 10.00 hari itu tepat 69 tahun Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Dari berbagai informasi di sekitar saya, ada banyak cara setiap orang merayakan dirgahayu negeri ini. Teman-teman di Kompa Dansa Mandar menghabiskan malam penuh kebersamaan dan kesyukuran di Buttu Pallayangan, Kec. Binuang, Kab.Polman. Mungkin mereka tidak akan pernah melupakan moment melihat matahari terbit pada 17 Agustus hari itu.

Di tempat lain, tepatnya di Mamuju, dua kawan dari Kompa Dansa Mandar dan Kak Ridwan Alimuddin menjadi saksi sejarah saat ibu kota Sulawesi Barat itu berhasil memecahkan rekor MURI dengan membentangkan Merah Putih terpanjang di bawah laut. Tepatnya di perairan Pulau Karampuang, Teluk Mamuju. Kain sepanjang 29 meter itu membuat Mamuju menjadi buah bibir sesaat di pemberitaan nasional.

Melihat update-an teman-teman tentang kegiatan-kegiatan itu membuat saya iri. Saya yang sedang tidak di Litaq Mandar pun harus memendam iri. Hingga akhirnya terbesitlah ide itu. Saya d…

R.I.N.D.U

Aku sedang dipeluk rindu
Adakah kau merasakan dinginnya?
Menggigil karena sunyi tanpa hadirmu
Membeku tanpa hangat pelukanmuAku sedang ingin berkeluh
Tentang wangimu yang ingin kuhidu
Tentang wajahmu yang ingin kusentuh
Dan tentang tanganmu yang ingin kugenggam

Isi Kepalaku

Dari mana datangnya pikiran yang liar?
Pikiran yang mencoba mengetuk pintu langit
Pikiran yang menyelam ke dasar samudra
Pikiran yang mengembara ke perut bumi.Ia datang dari tubuh yang terbelenggu
Yang diikat oleh teriakan kemarahan
Yang dibelenggu oleh caci maki
Yang dipasung oleh pengabaian
Yang terluka oleh setumpuk kata "jangan"

Pria Petualang dan Ratte

Hape Pertama: Saya dan Z200

Hm..kalau semua orang bertanya apa judul buku pertama milik saya? Maka saya akan butuh waktu yang cukup lama untuk berfikir. Dan menjawab dengan ragu. “Hm.. komik Kungfu Boy. eh..nggak..nggak. Kayaknya Dragon Ball Z deh. Ah intinya komik deh,” jawab saya sambil mengangkat bahu.
Tapi kalau saat ditanya tentang hp pertama saya, maka saya akan bisa langsung menjawabnya. Hape pertama saya adalah Sony Ericsson Z200. Yup hp imut yang sangat bernuansa feminim. Dengan warna dasar putih, Sony Ericsson menyediakan dua cover yang bisa diganti-ganti yakni putih dan merah. Favorit saya tentu saja yang merah. Modelnya yang kecil dan flip menguatkan kesan elegan dan imut. Kado ini dihadiahkan di ulang tahun saya pada 2004. Sebenarnya ini menuai protes dari semua saudara laki-laki saya yang belum punya hape pribadi. Ini karena sebelumnya kami menggunakan 1 hp bersama. Mereka merasa karena saya anak perempuan satu-satunya jadi dimanjakan oleh papa. *Hug my lovely father*.