Minggu, 24 November 2013

Yuk Berteman dengan Teknologi



Pagi ini Bandung cerah, rasanya berjalan-jalan keliling kota bisa menjadi salah satu alternatif menyenangkan. Berbekal sebuah smartphone maka banyak aktivitas yang bisa dilakukan termasuk mengabadikan hal-hal yang menarik untuk diceritakan kembali ke teman-teman atau saudara.

Abad 21 datang membawa teknologi yang semakin maju dan kini tumbuh dengan pesat. Benar-benar memudahkan kita berkomunikasi dengan SIAPA PUN! Dan kini era smartphone datang dan membanjiri toko serta mewarnai kehidupan manusia.

Dahulu, untuk jalan-jalan seseorang harus membawa kamera, handphone, bahkan tape recorder untuk membuat cerita yang menyeluruh tentang hal menarik yang mereka temui. Kini, berbekal sebuah smartphone semua cerita bisa kita lengkapi dengan foto dan vidoe serta siap di posting ke berbagai akun media sosial dan dikirim ke email sahabat yang ada di belahan dunia lain.

Ya, teknologi sudah berhasil memudahkan (bahkan sebenarnya memanjakan) kita. Tapi, kok rasanya ada yang berubah yah? Berubah bagiamana maksud kamu, Tria??
Iya, berubah. Berubah menjadikan kita terlalu sibuk untuk sekedar bercengkrama dengan kelurga. Tidak lagi punya waktu untuk serius mendengarkan curhat sang adik atau cerita papa tentang masa kecil beliau.

Teknologi ini dibuat untuk memudahkan manusia agar tetap smart and easy dalam berbagai kondisi. Lihat saja, saat akan ngobrol dengan gebetan yang hobi nonton film kita bisa segera googling untuk mendapatkan info terbaru tentang dunia perfilman; mulai dari film terbaru serta informasi tentang festival-festival film serta film-film keren yang diputar di sana. Atau bagi yang kuliah dan baru tahu bahwa sejam lagi ada quiz dari sang dosen killer tentang kasus di negara tertentu, waktu satu jam bisa kita manfaatkan untuk browsing kondisi, (kemungkinan) penyebab, dan pendapat sejumlah ahli tentan kasus itu. 


Sayangnya, kini kita terlalu terbuai (atau terbiasa?) menatap layar telepon genggam daripada wajah orang-orang di sekitar kita. Seharusnya manusia bisa lebih pandai menyikapi teknologi. Kitalah yang seharusnya mengatur teknologi ini bukan kita yang dikuasai teknologi. Seseorang yang smart seharusnya mampu menggunakan teknologi sebagai pendukung kreativitasnya. Bukannya malah menjadi hambatan. Teknologi seharusnya memudahkan kita berkomunikasi bukannya menjadi orang yang tidak bersosialisasi.


Saya kenal seseorang yang menghabiskan hampir semua waktunya di depan smartphone yang dia miliki. Dia memang bekerja freelance, katanya (mungkin) agar dia bisa tetap memperjuangkan dan mempertahankan idealismenya. Saat menghadiri rapat, dia memang sibuk dengan handphone tapi begitu rapat dimulai maka ia akan mengabaikan handphone-nya totally. Ya, ternyata dia memanfaatkan handphonenya untuk browsing berbagai info penting untuk mengisi waktu hingga rapat dimulai. Jelas ini berbeda dengan saya yang saat itu menunggu sambil chit-chat membicarakan kota Bandung dengan cowok cakep di samping saya (ok..silahkan menuduh saya sedang pedekate). Terlihatkan siapa yang jauh lebih pintar memanage waktu? Oiya, bukan berarti dia mendadak tidak peka sama sekitar karena asyik mojok dengan smartphone. Dia selalu menanggapi obrolan semua orang dan bahkan menjawab sejumlah pertanyaan teman karena bagi kami dia sosok yang serba tahu. (bocorannya dia sering googling banyak hal dan membaca banyak hal dari hasil googling-nya itu. Mungkin ini ya yang dinamakan smart dengan dibantu teknologi?).

Nah, di lain waktu saya tahu bahwa dia jaaauuuuuhhhh lebih produktif dari saya yang suka “nyampah” di blog dan akun media sosial. Di blog ini saya pernah bercerita tentang semua akun sosial yang saya miliki dan seberapa “produktif” saya memposting tulisan ke dalamnya (jika memposting status bisa termasuk “produktif”). Dan dalam seminggu itu saya berhasil menulis 20 halaman tugas akhir saya, memposting sekitar 5 -7 postingan di berbagai blog yang saya miliki, dan membaca sejumlah buku. Sedangkan dia, saya tahu kemudian bahwa dalam seminggu itu berhasil memposting sekitar 5 tulisan di blognya tentang sejarah kota Bandung, menyelesaikan satu buku (dia menjadi penulis dan editor utama sedangkan saya haya menyumbang satu tulisan singkat di dalamnya) tentang sejarah salah satu tokoh di Bandung, dan katanya dia juga sedang menyelesaikan 2 buku lainnya. Ya Allah, saya malu donk! Di tengah semua banjir produktifitas itu dia tetap bisa menjadi admin media sosial 2 akun umum.

Ya ampun..keren kan? Itu yang namanya smart. “Sumpah malu bangetlah dengan kemampuan orang ini memanage diri dan waktunya”.  Ada yang bilang itu karena dia lebih tua tapi saya rasa semua itu tidak ada hubungannya dengan umur. Saya kemudian menemukan bahwa ada sosok lain yang lebih tua yang ternyata jauh lebih produktif lagi dengan tingkat mobilitas tinggi. Ia seorang budayawan yang salah satu bukunya bahkan diberi komentar oleh sosok sekaliber Sapardi Djoko Damono.

Budayawan ini jelas sangat produktif di tengah berbagai kesibukannya dengan kegiatan kebudayaan, tanggung jawabnya di dewan pakar berbagai lembaga, serta posisinya sebagai ketua dalam berbagai komunitas. Di tengah itu semua dia mampu menghasilkan tulisan. Buku kecil ia terbitkan sebulan setelah pertemuan pertama saya dengan beliau dan isinya tentang sebuah komunitas yang dibentuk bersama tepat di hari pertama kali kami bertemu itu. Hebat gak? Orang yang sibuk tapi seproduktif itu? Sedangkan saya? Mahasiswa yang sibuk dengan tugas akhir malah lebih banyak menulis status atau tweet tidak terlalu penting. Huwaaaa malu. Padahal kalau bicara teknologi mungkin saya sedikit lebih tahu, dan harusnya bisa sedikit lebih pintar.

Saya berfikir kenapa teknologi berhasil memperdayai saya? Saya yang lebih muda dan (mungkin) lebih terbiasa dengan teknologi terutama smartphone kok tidak bisa memanfaatkan itu semua dengan lebih smart? Saya bisa menulis kapan saja di handphone karena ada fitur wordnya. Tidak nyaman? Ya seharusnya dibiasakan saja, lama-lama akan nyaman. Saya bisa googling dan membaca banyak hal dan bahkan menyimpannya di handphone saya untuk sewaktu-waktu dibaca saat dibutuhkan. Wah seharusnya saya bisa lebih produktif lagi donk.

Sekarang saya bertekad untuk lebih lebih cerdas manfaatkan teknologi. Akun sosmed memang perlu tapi bukan kebutuhan primer. Dan satu hal yang saya pelajari dari mereka yaitu etika dalam menggunakan teknologi. Yakni serius menghadapi orang lain saat berbicara (terutama masalah penting) dan menyimpan gadget di waktu-waktu tertentu. Budayawan itu saja bisa tidak menengok handphonenya setiap waktu padahal saya bisa menduga seberapa sibuk beliau.

Sudah waktunya untuk kita tidak lagi menjadi budak teknologi melainkan memperbudak teknoologi. Wuih, keren tuh kalau semua anak muda mau seperti ini. Indonesia akan jauh lebih maju tidak lagi menjadi masyarakat konsumtif dan jadi lebih produktif (harapan yang terlalu muluk? Ah, biarkan saya terus berharap yang terbaik untuk negeri ini)

“Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel”


http://www.emakgaoel.blogspot.com/

1 komentar:

  1. Haloo, Emak Gaoel mampir ngecek-ngecek peserta.
    Terima kasih ya sudah ikut meramaikan Ultah Blog Emak Gaoel.
    Good luck! ^_^

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)