Langsung ke konten utama

Curhat "Tukang Sampah" di Berbagai Sosial Media

Selamat sore.
Selamat datang hujan.
Selamat menjelang langit gelap yang berteman bintang.

Sudah lama juga tidak menulis dengan rutin di blog ini.
Bukan..bukan karena saya berhenti menulis. Melainkan saya menyebarkan tulisan dalam berbagai media. Memanfaatkan berbagai kemudahan teknologi yang semakin mendukung para penulis untuk terus "nyampah" dan berserapah (mungkin?? ^_^)


Terhitung saya memiliki 3 blog di blogger yakni
1) www.filosofilandak.blogspot.com
yang merupakan tulisan-tulisan pribadi dengan gaya menulis yang cenderung personal dan lebih bertujuan untuk "menumpahkan" semua isi kepala yang saya rasa mengganggu.

 2) www.atriadanbuku.blogspot.com
ini adalah blog khusus saya yang berisi berbagai review pribadi tentang buku-buku yang saya baca. Mungkin untuk saat ini, blog inilah yang paling produktif mengingat jumlah postingan perbulan cukup banyak.

3) www.tokobukudewisartika.blogspot.com
ya, blog ini adalah toko buku online yang baru saya rintis di awal November ini. Umurnya bahkan baru seminggu (saat saya menulis ini). Semoga ini bisa membantu saya menyelesaikan masalah keuangan sekaligus membantu memudahkan teman-teman saya untuk bisa mengakses berbagai buku. Mengingat jumlah buku yang beredar di Jawa jauh lebih banyak dan lebih update dibandingkan di Sulawesi dan Kalimantan.

selain akun blogger itu, saya pun memiliki akun tumblr.
4) www.atriasartika89.tumblr.com
akun ini lebih banyak berisi postingan-postingan pendek yangberisi pikiran-pikiran yang cukup lama mengendap di kepala namun belum menggugah saya menulis panjang kali lebar. Akun ini juga saya manfaatkan untuk "mencatat" hal-hal penting dan singkat yang belum sempat saya eksplorasi dari apa yang saya lihat atau baca.

Selain itu, saya pun punya 3 tempat sampah di medsos lain yaitu 

Akun twitter @atriasartika yang menjadi tempat cerita dan bahkan menjadi media "sms cara baru" dengan teman-teman yang juga cukup aktif di twitter. Serta menjadi sumber info2 pendek yang banyak berseliweran di timeline.

Selain itu ada juga akun @puisiatria yang merupakan tempat sejumlah puisi mini saya tercecer tanpa berhasil saya bukukan. (^_^) Akun ini sudah cukup lama tidak saya update. Mungkin karena moment galaunya sudah berlalu..ha..ha.. *alasan yang tidak beralasan (^_^)*

Dan terakhir akun Facebook dengan nama Atria Dewi Sartika yang merupakan akun terlama yang saya miliki dengan notes yang sudah jarang terupdate.

Semua akun ini seharusnya membuat saya produktif menulis baik sekedar menulis status. Sayangnya akun-akun ini juga bisa menjadi ancaman bagi produktifitas saya menulis karena kesulitan menghindari godaan untuk mengintip kabar terakhir teman-teman. Ada yang sudah menimang anak pertamanya, ada yang menanti anak kedua, dan ada juga yang sedang menanti acara bahagia yakni pernikahan *trus giliran kamu kapan, Atria?? Eaaa..galau lagi*

Tapi dengan semua akun itu, tetap saja keputusan untuk konsisten menulis tidaklah mudah untuk dipenuhi. Butuh tekad baja untuk melepaskan pandangan dari buku dan kemudian menulis sesuatu; butuh semangat membara untuk terus melanjutkan tulisan yang baru satu paragraf di tengah godaan pesan whatsapp, email costumer, dan segala godaan lain; dan perlu keteguhan hati untuk memulai kata pertama di tengah segala alasan untuk menundanya.

Selamat berjuang teman-teman yang juga sedang berjuang untuk ikut mengembangkan budaya menulis. Karena kita tidak akan pernah tahu apa jejak yang kita ukir akan bermakna dan berguna untuk generasi kita berikutnya. Mungkin bukan sekarang, mungkin 10 tahun hingga 100 tahun kemudian.

Belajar dari seorang Kartini yang meninggalkan tulisan untuk generasi penerus bangsanya. Yang saya yakini bahwa Kartini tidak pernah menduga bahwa dampak tulisannya itu akan sangat besar dan benar-benar menjadi salah satu "senjata" perjuangan dalam nasionalisme dan feminisme.

Selamat "menyampah" meski terus menuai serapah. Terus membaca agar semakin banyak yang bisa ditulis. Dan terus menulis agar ada yang selalu bisa dibaca. Semangat untuk terus bersemangat menulis setiap hari (^_^)v

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…