Selasa, 29 Oktober 2013

Sumpah Pemuda dan Semangat Muda?! Tidak Perlu Hebat

Semangat pagi!!!

Numpang nge-share kebingungan..

Kemarin2 saya sibuk nonton berita tentang berbagai aksi ceremonia Sumpah Pemuda. Mulai dari anak-anak di sekolah yang berada di dekat lokasi prostitusi "diarahkan" untuk membuat Sumpah "Bertanah air satu, tanah air bebas prostitusi" usianya aja masih 13 tahun, memangnya dia paham? Sampai aksi di jalanan.

Jujur saya bingung, bagian mananya semangat Sumpah Pemuda yang ingin ditanamkan kembali? Dan kenapa harus muluk-muluk sih.

Saya membayangkan semua pemuda-pemudi Indonesia (termasuk yg sudah tdk masuk kelompok itu namun tetap berjiwa muda) mau berjanji pada diri sendiri untuk selalu menepati janji, maka akan banyak perubahan baik di Indonesia ini.

"Ok, kita ketemu jam 8 di kampus", itu janji simple. Maknanya bukan pada kita sekedar ketemu, tapi juga datang sesuai waktu yang dijanjikan. Yup, "tepat waktu" belum jadi budaya di Indonesia. Semua org seolah tidak mengharagai waktu (bahkan waktu org lain yang dia buat menunggu). Tapi ketika dia mulai merasa kehabisan waktu, maka ia melanggar hak-hak org disekitarnya dengan:
(1) ngebut di jalan sampai ngotot mengejar lampu hijau hingga membahayakan pejalan kaki karena takut terlambat
(2)memotong antrian orang lain karena merasa ada urusan penting yang lebih mendesak
(3) pengendara motor menggunakan hak pejalan kaki, trotoar, demi menembus kemacetan

Bayangkan jika pemuda-pemudi ini mau ontime. Maka mereka akan belajar untuk disiplin dan memanage waktu sehingga tidak ada lagi yang namanya "terburu-buru" dalam bertindak.

Janji sesimple itu jika dikerjakan dengan tekun dan dengan teguh hati serta penuh dedikasi bisa membawa perubahan baik untuk negeri ini.

Ada yang mencoba melakukan hal ini namun menyerah karena org2 di sekitarnya masih menolak untuk tepat waktu dan tepat janji, maka saya mungkin bisa menjawab bahwa "itulah tantangan dari janji kita. Tantangan para pemuda dulu adalah bertaruh nyawa demi mewujudkan Sumpah mereka. Tapi kita?? Kita hanya "diuji" dalam hal keteguh hati. Bukan darah apalagi nyawa"

Lagipula memang kebaikan yang berat itu bukanlah kebaikan yang besar, melainkan kebaikan "kecil" namun konsisten. Yang beragama Islama mungkin pernah dengar bahwa sebaik2 sunnah adalah yang ringan namun konsisten. Itu karena Allah dan RasulNya tahu bahwa jadi orang yang konsisten amat sulit.

Hm..itu sedikit ribut2 saya. Semoga bisa jadi renungan dan kemudian jadi tindakan untuk saya dan pemuda serta orang-orang yang masih berjiwa muda (^_^)
Itu saja kegalauan saya pagi ini. Permisi.
Selamat beraktivitas. Selamat memulai untuk menepati janji (^_^)
 
 
 P.S:

Maafkan kegalauan ini.
Saya hanya ingin belajar dari sosok Kartini yang galau pada kondisi lingkungannya, pada adat yang dianggapnya perlu diubah, pada hidup rakyat di tanah yang ia cintai.

Ia mungkin berumur pendek tapi tulisa "galau"nya membuat dia "berumur panjang".
Semoga pemuda Indonesia pun bisa mencontoh ini dari beliau. Kita tidak pernah tahu dampak sebuah tulisan, seperti Kartini yang tidak akan pernah tau perubahan apa yang telah dibawa oleh tulisannya.
Bangkit Indonesiaku. Bangkit pemuda Indonesia. Kritis dalam berfikir dan bertindak. Termasuk keritis pada keputusan kita sendiri (^_^)
*maaf saya memang bakat jadi provokator..jadi mohon maaf jika tulisan2 saya dianggap terlalu berapi-api..silahkan membayangkan saya bicara ..aslinya......lebih berapi2..sampai2 hampir semua dosen saya disini suka menyambar penutup saya dengan teriaka "Merdeka!"..ha..ha..*
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)