Selasa, 08 Oktober 2013

Sahabat Bosscha Berziarah ke Makam Bosscha



Hari Kamis, 3 Oktober 2013, Friends of Bosscha bersama teman-teman dari Komunitas Aleut! melakukan ziarah bersama ke pengalengan. Setelah pada malam sebelumnya, saya dan teman-teman mengikuti kegiatan peneropongan  bintang sekaligus Launching bersama Friends of Bosscha (baca Lilin Kecil Sahabat Bosscha). 

Lantas, apa yang dilakukan Sahabat Bosscha di Pengalengan? Ada apa di Pengalengan? Pengalengan, tepatnya di Perkebunan Teh Malabar, adalah tempat peristirahatan terakhir KAR Bosscha. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang beberapa sumbangsih KAR Bosscha. Sedikit saya tuliskan tentang riwayat hidup Bosscha.

Makam KAR Bosscha
Karel Albert Rudolf Bosscha lahir di Den Haag pada tanggal 15 Mei 1865. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Malabar, Pangalengan, 26 November 1928. Beliau hidup dengan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Ini ada hubungannya dengan latar belakang beliau. Ayah KAR Bosscha, Johannes Bosscha, adalah seorang Guru Besar Fisika. Namun sayangnya KAR Bosscha tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya di Politeknik.
KAR Bosscha kemudian datang ke Hindia Belanda pada 1887 untuk  membantu pamannya, Edward Julius Kerkhoven, di Perkebunan Sinagar, dekat Cibadak, Sukabumi. Namun KAR Bosscha merasa kurang cocok di sana. Ia pun memutuskan membantu ekspedisi adiknya, Ir. Jan Bosscha ke Kalimantan. Namun ternyata di Kalimantan pun KAR Bosscha tidak merasa cocok. Akhirnya ia kembali ke Priangan. Akhirnya pada tahun 1896 oleh sepupu dari pihak ibunya, Edward Kerkhoven, KAR Bosscha di serahi tanggung jawab untuk mengelola perkebunan Malabar. Dari sinilah sumbangsih KAR Bosscha bermula.
Kecintaan Bosscha pada ilmu pengetahuan akhirnya tersalurkan. Bosscha membangun sebuah pembangkit listrik dengan menggunakan aliran sungai. Listrik ini digunakan untuk mengaktifkan mesin pelayu yang diciptakan oleh KAR Bosscha. Tindakan KAR Bosscha yang memanfaatkan alam dan iptek ternyata mampu mengembangkan Perkebunan Teh Malabar yang dikelolanya. Bahkan pada tahun 1910 perkebunan tersebut sempat dinyatakan sebagai perkebunan teh terbesar di dunia, sebuah prestasi yang sangat besar.
Kondisi ini juga memberi Bosscha kemapanan finansial. Namun ia tidak menikmatinya untuk dirinya sendiri. Bosscha membangun 420 bedeng-bedeng sebagai hunian untuk pekerja pribumi di perkebunannya. Kini dari 420 bedeng-bedeng tersebut, hanya tersisa 1 yang disebut bumi hideng. Sebutan bumi hideng ini muncul karena dindingnya dilapisi aspal dan minyak tanah sehingga berwarna hitam(dalam bahasa Sunda disebut hideng).
Kemurahan hati Bosscha tidak sampai di sana. Tahun 1901, Bosscha mendirikan sebuah sekolah, Vervoolog Malabar, untuk pribumi khususnya anak-anak pekerja di kebun teh yang ia kelola. Bosscha juga ikut membantu pendirian Technische Hoogeschool yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Bosscha juga memberi sumbangan materi untuk Lembaga Bisu Tuli ((Doofstommen Instituut), Lembaga Buta (Blinden Instituut), Bala Keselamatan (Lager des Heils), sejumlah rumah sakit, serta sebuah Rumah Perawatan Penderita Lepra (Pro Leproos di Jawa Tengah).
KAR Bosscha jelas sangat mencintai Hindia Belanda meskipun tanah yang ia pijak bukanlah tanah kelahirannya. Inilah yang ingin dilanjutkan oleh Sahabat Bosscha. Berharap bahwa Sahabat Bosscha akan bisa memberi sumbangsih sebesar yang diberikan KAR Bosscha baik secara individu maupun sebagai sebuah komunitas.
Hari itu, Sahabat Bosscha “melapor” ke KAR Bosscha bahwa sekarang beliau sudah memiliki sahabat. Sahabat yang akan mengikuti jejak beliau yang cinta pada ilmu pengetahuan dan sesama. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka sebagai penyemangat untuk bisa melakukan sesuatu untuk Ibu Pertiwi ini.
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Pak Eka Budianta sebagai ketua Sahabat Bosscha. Bagi beliau semoga sosok KAR Bosscha yang filantropis bisa menjadi contoh buat Sahabat Bosscha lainnya. Pak Eka pun terkagum-kagum melihat tumbuhan sekitar Makam Bosscha yang banyak ditumbuhi oleh tanaman. Bahkan di makam Bosscha ada sejumlah tanaman yang tergolong tua dan langka.
Setelah itu Pak Mahasena, Kepala Observatorium Bosscha, juga ikut memberi sedikit penyampaian. Beliau berkata bahwa kehadiran beliau bersama staff Observatorium Bosscha bisa menjadi napak tilas. Banyak yang tidak tahu bahwa peran seorang KAR Bosscha atas berdirinya Observatorium Bosscha sangatlah besar. Dan lebih banyak lagi yang tidak tahu tentang sumbangsih beliau.
ki-ka: Pak Mahasena, Atria, Bang Ridwan, Pak Eka Budianta
Setelah sambutan dari Pak Eka dan Pak Sena, seluruh rombongan yang terdiri 3 bus dan 1 mobil elf bersama-sama menyanyikan lagu Syukur sebagai penghargaan pada beliau. Setelah itu, Bang Ridwan Hutagalung dari Komunitas Aleut berbagi cerita tentang sumbangsih KAR Bosscha.  Sebagai penutup, Pak Eka Budianta mendeklamasikan sepenggal puisi "Sepasang Pohon Jambu" di samping makam KAR Bosscha. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama karena rasanya tidak lengkap jika kebersamaan ini tidak diabadikan.
Berfoto bersama di Makam KAR Bosscha

Sesi foto bersama telah selesai, tapi bukan berarti kegiatan kami selesai. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan mengunjungi Rumah Bosscha. Di sekitar rumah tersebut dibangun beberapa pondok penginapan yang bisa disewa pengunjung. Rombongan pun masuk melihat-lihat furniture di dalam rumah. Ada sebuah piano yang terletak di sudut ruang depan yang usianya cukup tua. Sayang saat itu kami tidak bisa melihat kamar tidur dan kamar kerja Bosscha.
Makan siang bersama
Akhirnya saat waktu menunjukkan jam 12 siang, seluruh rombongan makan siang bersama di teras salah satu bangunan baru yang ada di lingkungan Rumah Bosscha. Ada pula yang duduk di bawah pohon. Setelah makan, Bang Ridwan dan Pak Eka pun berbagi cerita tentang sejarah teh di Bandung. Bahkan diceritakan bahwa dulu Bosscha perlu 2-3 hari untuk bisa datang ke Observatorium Bosscha, padahal pada saat ini hanya dibutuhkan waktu tempuh sekitar 3-4 jam. 
Bang Ridwan dan Pak Eka berbagi cerita
Setelah sesi cerita berakhir, berakhirlah acara hari itu. Tapi semoga semangat KAR Bosscha bisa tertanam di hati semua Sahabat Bosscha. Semoga sikap dermawan KAR Bosscha bisa menjadi contoh bagi Sahabat Bosscha. Dan semoga kehadiran Sahabat Bosscha bisa ikut menjaga apa yang ditinggalkan oleh KAR Bosscha.
 
Berfoto bersama di depan Rumah Bosscha
 Sumber Foto: 
Ibu Myke Jeanneta

Bang Ridwan Hutagalung
Beyhaqi, Penggiat Aleut
Fan Page Observatorium Bosscha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)