Selasa, 08 Oktober 2013

Lilin Kecil Sahabat Bosscha

Rabu, 2 Oktober 2013, jam 5 sore saya sudah sampai di Observatorium Bosscha bersama dua orang teman. Di tengah jalan, kami sempat bertemu gerimis. Namun syukurlah sesampainya kami di Bosscha yang ada hanya awan mendung. Saya segera menyapa Pak Mahasena, Kepala Observatorium Bosscha, yang tampak asyik berkumpul dengan staff Observatorium Bosscha. Saya pun kemudian menyapa Pak Eka Budianta yang sedang menjalani sesi wawancara dengan seorang wartawan. Tak lama kemudian Pak Eka mengajak saya melihat pohon yang ditanam oleh Sahabat Bosscha yakni sebuah Pohon Ketapang Kencana dan Pohon Cemara Lilin.
Waktu pun berlalu, pukul 19.00 langit kota Lembang nampak masih diselimuti awan. Hawa dingin semakin terasa memaksa saya merapatkan jaket. Tampak oleh saya sejumlah orang tengah bercengkrama di teras Wisma Kerkhoven. Nampak di sebuah meja panjang berjajar jagung bakar, bajigur, bandrek, ketan bakar, dan ubi cilembu yang siap santap. Saya pun mengambil segelas bandrek untuk menghangatkan badan.

Saat waktu menunjukkan pukul 19.20, saya, sejumlah staff observatorium Bosscha, dan teman-teman dari Komunitas Aleut melangkah menuju Kupel Bosscha, tempat Teropong Zeiss terpasang kokoh. Saat di dalam  Kupel, saya dan temank-teman lain dijelaskan sedikit tentang Sejarah Observatorium Bosscha. Observatorium Bosscha mulai di bangun pada 1 Januari 1923 dengan teropong pertamanya adalah Teropong Zeiss ini. Kubah Kupel ini sendiri memiliki rancangan yang bahkan membuat saya dan teman-teman Aleut kagum. Ya, Kubah Kupel bisa berputar dan ada bagian yang dapat dibuka tutup sehingga dapat memudahkan peneropongan sekaligus melindungi teropong dari air hujan. Kubah ini dirancang oleh Schoemaker yang juga guru Ir.Soekarno.

Setelah mendapat penjelasan sebentar dan melihat kubah yang diputar, saya dan teman-teman diarahkan untuk berkumpul di halaman depan Kupel. Di sana setiap orang diserahkan sebuah lilin. Suasana gelap di sekitar Kupel diterangi oleh sejumlah nyala liin. Remang-remang, namun menambahkan ke khidmatan. Saat itu, pak Eka Budianta bercerita tentang Friends of Bosscha atau Sahabat Bosscha.

 

Sahabat Bosscha adalah sebuah komunitas yang didirikan bersama oleh Observatorium Bosscha, BPPI, dan sejumlah undangan yang hadir di Wisma Kerkhoven Observatorium Bosscha pada 17 Agustus 2013 yang lalu. Komunitas ini muncul sebagai wadah untuk semakin membumikan Observatorium Bosscha ke dalam masyarakat Indonesia sekaligus menghimpun orang-orang yang mencintai Observatorim Bosscha ini.

Pak Eka kemudian menyampaikan cerita tentang sosok seorang Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha. KAR Bosscha adalah orang yang paling berjasa dalam pendirian Observatorium Bosscha. Kiprah KAR Bosscha tidak hanya sampai di sana. Bosscha juga membangun sekolah untuk anak-anak pribumi. KAR Bosscha juga ikut membantu pendirian Technische Hoogeschool yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pak Mahasena, Kepala Observatorium Bosscha, juga ikut angkat bicara. Beliau bercerita tentang pentingnya keberadaan Observatorium Bosscha. Juga tentang jumlah Astronom Indonesia yang 1: 1.000.000 orang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Ini berarti 1 Astronom harus bisa membagi ilmunya pada 1 juta orang Indonesia. Ini jelas tugas yang berat. Beliau berharap kehadiran Sahabat Bosscha bisa membantu mempermudah tugas tersebut. 

Setelah itu, saya mewakili teman-teman Komunitas Aleut! menyatakan dukungan kepada Sahabat Bosscha. Karena kami berharap bahwa Sahabat Bosscha akan jadi wadah berkumpulnya orang-orang yang mencintai negeri Indonesia, mencintai ilmu pengetahuan dan mencintai sesama manusia. Sebab itu pula yang dilakukan KAR Bosscha.

Setelah itu saya dan semua yang hadir diajak oleh Pak Eka untuk mengheningkan cipta sejenak yang dilanjutkan denan menyanyikan Lagu Lilin Kecil bersama-sama. Lagu ini juga sebuah bentuk do’a agar Sahabat Bosscha bisa menjadi lilin kecil yang ikut menerangi sekitar. Membawa masa depan yang lebih terang untuk Indonesia dan ilmu pengetahuan.

Acara kemudian berlanjut dengan kegiatan peneropongan bintang. Kami menggunakan satu teropong portable dan Teropong Bamberg. Saya terlebih dahulu mencoba menggunakan Teropong Bamberg dan ikut melihat bintang. Saya kemudian menyadari bahwa sebenarnya melihat dengan teropong tetap saja bintangnya berukuran kecil, namun kerlipnya terlihat lebih jelas. Bahkan saat melihat dengan teropong portable, saya melihat bintangnya berwarna biru dan orange. 

Obrolan tentang astronomi berlanjut di beberapa titik terpisah. Ada yang tetap asyik mengelilingi teropong portable. Ada yang asyik bertanya tentang galaksi, nebula, dan tentang Teleskop Radio. Obrolan kemudian berlanjut dengan makan malam bersama. Banyak obrolan yang berkembang. Persiapan acara keesokan hari pun ikut jadi bahan pembicaraan. Ya, sahabat Bosscha akan melakukan Ziarah Makam Bosscha.

Oiya, sekedar info kini Sahabat Bosscha bisa diakses melalui Fan Page di Facebook Friends of Bosscha dan twitter @FoBosscha

Sumber Foto:
Ibu Myke Jeanneta
Bang Ridwan Hutagalung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)