Langsung ke konten utama

Lilin Kecil Sahabat Bosscha

Rabu, 2 Oktober 2013, jam 5 sore saya sudah sampai di Observatorium Bosscha bersama dua orang teman. Di tengah jalan, kami sempat bertemu gerimis. Namun syukurlah sesampainya kami di Bosscha yang ada hanya awan mendung. Saya segera menyapa Pak Mahasena, Kepala Observatorium Bosscha, yang tampak asyik berkumpul dengan staff Observatorium Bosscha. Saya pun kemudian menyapa Pak Eka Budianta yang sedang menjalani sesi wawancara dengan seorang wartawan. Tak lama kemudian Pak Eka mengajak saya melihat pohon yang ditanam oleh Sahabat Bosscha yakni sebuah Pohon Ketapang Kencana dan Pohon Cemara Lilin.
Waktu pun berlalu, pukul 19.00 langit kota Lembang nampak masih diselimuti awan. Hawa dingin semakin terasa memaksa saya merapatkan jaket. Tampak oleh saya sejumlah orang tengah bercengkrama di teras Wisma Kerkhoven. Nampak di sebuah meja panjang berjajar jagung bakar, bajigur, bandrek, ketan bakar, dan ubi cilembu yang siap santap. Saya pun mengambil segelas bandrek untuk menghangatkan badan.

Saat waktu menunjukkan pukul 19.20, saya, sejumlah staff observatorium Bosscha, dan teman-teman dari Komunitas Aleut melangkah menuju Kupel Bosscha, tempat Teropong Zeiss terpasang kokoh. Saat di dalam  Kupel, saya dan temank-teman lain dijelaskan sedikit tentang Sejarah Observatorium Bosscha. Observatorium Bosscha mulai di bangun pada 1 Januari 1923 dengan teropong pertamanya adalah Teropong Zeiss ini. Kubah Kupel ini sendiri memiliki rancangan yang bahkan membuat saya dan teman-teman Aleut kagum. Ya, Kubah Kupel bisa berputar dan ada bagian yang dapat dibuka tutup sehingga dapat memudahkan peneropongan sekaligus melindungi teropong dari air hujan. Kubah ini dirancang oleh Schoemaker yang juga guru Ir.Soekarno.

Setelah mendapat penjelasan sebentar dan melihat kubah yang diputar, saya dan teman-teman diarahkan untuk berkumpul di halaman depan Kupel. Di sana setiap orang diserahkan sebuah lilin. Suasana gelap di sekitar Kupel diterangi oleh sejumlah nyala liin. Remang-remang, namun menambahkan ke khidmatan. Saat itu, pak Eka Budianta bercerita tentang Friends of Bosscha atau Sahabat Bosscha.

 

Sahabat Bosscha adalah sebuah komunitas yang didirikan bersama oleh Observatorium Bosscha, BPPI, dan sejumlah undangan yang hadir di Wisma Kerkhoven Observatorium Bosscha pada 17 Agustus 2013 yang lalu. Komunitas ini muncul sebagai wadah untuk semakin membumikan Observatorium Bosscha ke dalam masyarakat Indonesia sekaligus menghimpun orang-orang yang mencintai Observatorim Bosscha ini.

Pak Eka kemudian menyampaikan cerita tentang sosok seorang Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha. KAR Bosscha adalah orang yang paling berjasa dalam pendirian Observatorium Bosscha. Kiprah KAR Bosscha tidak hanya sampai di sana. Bosscha juga membangun sekolah untuk anak-anak pribumi. KAR Bosscha juga ikut membantu pendirian Technische Hoogeschool yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pak Mahasena, Kepala Observatorium Bosscha, juga ikut angkat bicara. Beliau bercerita tentang pentingnya keberadaan Observatorium Bosscha. Juga tentang jumlah Astronom Indonesia yang 1: 1.000.000 orang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Ini berarti 1 Astronom harus bisa membagi ilmunya pada 1 juta orang Indonesia. Ini jelas tugas yang berat. Beliau berharap kehadiran Sahabat Bosscha bisa membantu mempermudah tugas tersebut. 

Setelah itu, saya mewakili teman-teman Komunitas Aleut! menyatakan dukungan kepada Sahabat Bosscha. Karena kami berharap bahwa Sahabat Bosscha akan jadi wadah berkumpulnya orang-orang yang mencintai negeri Indonesia, mencintai ilmu pengetahuan dan mencintai sesama manusia. Sebab itu pula yang dilakukan KAR Bosscha.

Setelah itu saya dan semua yang hadir diajak oleh Pak Eka untuk mengheningkan cipta sejenak yang dilanjutkan denan menyanyikan Lagu Lilin Kecil bersama-sama. Lagu ini juga sebuah bentuk do’a agar Sahabat Bosscha bisa menjadi lilin kecil yang ikut menerangi sekitar. Membawa masa depan yang lebih terang untuk Indonesia dan ilmu pengetahuan.

Acara kemudian berlanjut dengan kegiatan peneropongan bintang. Kami menggunakan satu teropong portable dan Teropong Bamberg. Saya terlebih dahulu mencoba menggunakan Teropong Bamberg dan ikut melihat bintang. Saya kemudian menyadari bahwa sebenarnya melihat dengan teropong tetap saja bintangnya berukuran kecil, namun kerlipnya terlihat lebih jelas. Bahkan saat melihat dengan teropong portable, saya melihat bintangnya berwarna biru dan orange. 

Obrolan tentang astronomi berlanjut di beberapa titik terpisah. Ada yang tetap asyik mengelilingi teropong portable. Ada yang asyik bertanya tentang galaksi, nebula, dan tentang Teleskop Radio. Obrolan kemudian berlanjut dengan makan malam bersama. Banyak obrolan yang berkembang. Persiapan acara keesokan hari pun ikut jadi bahan pembicaraan. Ya, sahabat Bosscha akan melakukan Ziarah Makam Bosscha.

Oiya, sekedar info kini Sahabat Bosscha bisa diakses melalui Fan Page di Facebook Friends of Bosscha dan twitter @FoBosscha

Sumber Foto:
Ibu Myke Jeanneta
Bang Ridwan Hutagalung

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…