Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Sumpah Pemuda dan Semangat Muda?! Tidak Perlu Hebat

Semangat pagi!!!

Numpang nge-share kebingungan..

Kemarin2 saya sibuk nonton berita tentang berbagai aksi ceremonia Sumpah Pemuda. Mulai dari anak-anak di sekolah yang berada di dekat lokasi prostitusi "diarahkan" untuk membuat Sumpah "Bertanah air satu, tanah air bebas prostitusi" usianya aja masih 13 tahun, memangnya dia paham? Sampai aksi di jalanan.

Jujur saya bingung, bagian mananya semangat Sumpah Pemuda yang ingin ditanamkan kembali? Dan kenapa harus muluk-muluk sih.

Saya membayangkan semua pemuda-pemudi Indonesia (termasuk yg sudah tdk masuk kelompok itu namun tetap berjiwa muda) mau berjanji pada diri sendiri untuk selalu menepati janji, maka akan banyak perubahan baik di Indonesia ini.

"Ok, kita ketemu jam 8 di kampus", itu janji simple. Maknanya bukan pada kita sekedar ketemu, tapi juga datang sesuai waktu yang dijanjikan. Yup, "tepat waktu" belum jadi budaya di Indonesia.

Sahabat Bosscha Berziarah ke Makam Bosscha

Hari Kamis, 3 Oktober 2013, Friends of Bosscha bersama teman-teman dari Komunitas Aleut! melakukan ziarah bersama ke pengalengan. Setelah pada malam sebelumnya, saya dan teman-teman mengikuti kegiatan peneropongan  bintang sekaligus Launching bersama Friends of Bosscha (baca Lilin Kecil Sahabat Bosscha). 
Lantas, apa yang dilakukan Sahabat Bosscha di Pengalengan? Ada apa di Pengalengan? Pengalengan, tepatnya di Perkebunan Teh Malabar, adalah tempat peristirahatan terakhir KAR Bosscha. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang beberapa sumbangsih KAR Bosscha. Sedikit saya tuliskan tentang riwayat hidup Bosscha.
Karel Albert Rudolf Bosscha lahir di Den Haag pada tanggal 15 Mei 1865. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Malabar, Pangalengan, 26 November 1928. Beliau hidup dengan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Ini ada hubungannya dengan latar belakang beliau. Ayah KAR Bosscha, Johannes Bosscha, adalah seorang Guru Besar Fisika. Namun sayangnya KAR Bosscha tidak berh…

Lilin Kecil Sahabat Bosscha

Rabu, 2 Oktober 2013, jam 5 sore saya sudah sampai di Observatorium Bosscha bersama dua orang teman. Di tengah jalan, kami sempat bertemu gerimis. Namun syukurlah sesampainya kami di Bosscha yang ada hanya awan mendung. Saya segera menyapa Pak Mahasena, Kepala Observatorium Bosscha, yang tampak asyik berkumpul dengan staff Observatorium Bosscha. Saya pun kemudian menyapa Pak Eka Budianta yang sedang menjalani sesi wawancara dengan seorang wartawan. Tak lama kemudian Pak Eka mengajak saya melihat pohon yang ditanam oleh Sahabat Bosscha yakni sebuah Pohon Ketapang Kencana dan Pohon Cemara Lilin.
Waktu pun berlalu, pukul 19.00 langit kota Lembang nampak masih diselimuti awan. Hawa dingin semakin terasa memaksa saya merapatkan jaket. Tampak oleh saya sejumlah orang tengah bercengkrama di teras Wisma Kerkhoven. Nampak di sebuah meja panjang berjajar jagung bakar, bajigur, bandrek, ketan bakar, dan ubi cilembu yang siap santap. Saya pun mengambil segelas bandrek untuk menghangatkan badan.