Selasa, 23 Juli 2013

Jilbab..mengganggu pikiranku



hm..beberapa hari ini saya beberapa kali membaca tulisan "Jilbab Antem" atau "Ciput Antem". Sejak tinggal di Bandung dan jadi anak kost-kostan, saya bisa tergolong "Kudet" (Kurang Update -istilah ini pun baru saya ketahui beberapa hari lalu (-_-")). Sejak dulu menonton tv tidak pernah menjadi aktivitas yang saya gemari. Membaca majalah fashion pun saya lakukan dengan teknik membaca skimming dan sekedar melihat gambar-gambar yang menarik.

Nah istilah "Antem" ini pun baru saya ketahui setelah tanpa sengaja membacanya disebuah review buku tentang hijabers-hijabers-an. Kata Antem ternyata merujuk pada frasa "Anti Tembem". Ya, ternyata ada sejumlah muslimah yang ragu pakai jilbab karena takut terlihat semakin tembem atau chubby. Nah buku ini mencoba memberika tips-tips cara memakai jilbab agar tidak membuat pipi terlihat tembem.


Honesty, yang ingin saya soroti bukanlah tentang tips-tips yang membuat para wanita tidak ragu lagi memakai jilbab karena tidak perlu takut pipinya terlihat tembem. Tapi yang agak mengganggu saya adalah masalah keraguannya yang menurut saya tidak pada tempatnya. Jika seseorang ragu memakai jilbab karena takut susah mencari kerja menurut saya hal itu masih masuk akal, meskipun kini alasan itu menjadi tidak begitu relevan dengan semakin banyaknya usaha-usaha dengan lebel syariah.

Jika diperhatikan, alasan keragu-raguan yang terkait pipi tembem itu lebih seperti menjadkan jilbab sebagai perhiasan. Seperti kita memilih memakai kalung, cincin, atau gelang tertentu demi menambah keindahan kita dalam berbusana. Jika kalung, cincin, atau gelang itu ternyata malah membuat tampilan kita jadi aneh atau tidak sesuai tema maka kita bisa melepasnya sesuai keinginan kita. Tapi sayagnya jilbab itu bukan sebuah perhiasan. Dia bagian dari sebuah ibadah. Menggunakan jilbab adalah hal disyariatkan dalam Islam. Sudah ada aturannya dan ada dasar hukumnya.

Jilbab seharusnya menjadi pelindung bagi perempuan dari gangguan-gangguan dan bahkan melindungi perempuan dari pikiran-pikiran tidak senonoh pria. Perempuan adalah sebuah keindahan yang diciptakan Tuhan. Islam mencoba menjaga keindahan itu agar tidak menimbulkan masalah di muka bumi. Bukankah salah satu godaan bagi pria selain harta dan tahta adalah wanita?

Sekarang ini saya memang senang melihat banyak perempuan yang memilih menutupi rambutnya dengan jilbab karena jilbab adalah bagian dari aurat perempuan yang harus ditutup sesuai dengan syariat Islam. Tapi saya pun punya kesinisan tersendiri (he..he..maaf memang sinis nih..tidak sekedar skeptis) bahwa kondisi ini juga menjadi bagian dari pergeseran fungsi jilbab. Jilbab tidak lagi menjadi sebuah pakaian yang menjaga kehormatana muslimah melainkan sebaliknya sebagai salah satu media berhias yang membuat para pria tidak bisa melepaskan pandangannya. Jilbab menjadi sebuah fashion yang setiap bulan mengalami perkembangan dan terus menerus muncul mode dan model yang baru. Mulai dari bergo, pashmina, turban dan berbagai model lain yang tidak saya ketahui.

Sebenarnya berindah-indah ini tidak menjadi masalah jika yang didahulukan adalah bagaimana jilbab itu memenuhi fungsinya. Sayangnya saat ini yang saya lihat, para hijabers malah mendahulukan keindahan fashionnya daripada fungsi terssebut. Isla mengajarkan perempuan untuk tidak memamerkan bentuk tubuhnya, tapi para hijabers ini malah memakai legging (celana ketat) yang seharusnya digunakan dibalik rok sebagai celana sehari-hari, bahkan ada yang memakai legging dengan warna kulit (astagfirullah) apa bedanya dengan tidak memakai celana jika legging tersebut benar-benar mencetak bentuk tubuh perempuan tersebut? Berjilbab itu bukan sekedar menutup rambut, berpakaian lengan panjang dan bawahan yang menutupi kaki hingga pergelangan kaki. Bukan..bukan seperti itu.


Islam membuat kaidah-kaidah khusus terkait pakaian seorang muslimah. Dan menurut saya jika seorang muslimah memutuskan untuk memakai jilbab maka jangan tanggung-tanggung. Lakukan dengan sebaik-baiknya dan dengan sungguh-sungguh. Jilbab itu butuh komitmen seperti halnya menikah. Ia dipakai bukan untuk dilepas pasang sesuai kehendak hati kita. Ia butuh kesungguhan dan daya tahan dari hal-hal sekitar yang mencoba mengganggu komitmen itu.

Dan jika sebuah jilbab menjadi mode atau fashion maka yang terjadi adalah ketika jilbab tidak lagi menjadi fashion maka berbondong-bondong para perempuan itu melepaskan jilbab mereka. Memilih menggunakan perhiasan lain yang lebih menarik dan lebih nge-tren. Naudzubillah.

Itulah kenapa saya tidak terlalu tertarik mendorong orang untuk memakai jilbab dengan cara mempengaruhi mereka. Jilbab itu butuh komitmen besar. Biarkan ia yang memulainya dan mengambil keputusan. Saya hanya akan membantu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dan kebingungan-kebingungan mereka.
Satu hal yang saya harapkan dari para hijabers saat ini, belajar lebih banyak tentang jilbab yang kalian pakai. Jangan hanya sekedar memakai tanpa belajar. Itu seperti shalat tanpa tahu gerakan-gerakan shalat yang benar. Jilbab itu bukan bagian dari kesenangan. Jilbab itu adalah ibadah yang menyenangkan (jika kita tahu cara menikmatinya). (^_^)v

P.S: saya pribadi juga belumlah menjadi muslimah yang baik. Tapi menurut saya salah satu ibadah yang paling mudah bagi seorang muslimah adalah berjilbab atau berhijab. Tidak ada yang sulit dengan berjilbab, jika niatnya ibadah insyaAllah akan dimudahkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)