Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Sedikit Bernostalgia Pada Dunia Literasi-ku

Sudah lama rasanya saya tidak membuat curhatan pribadi di blog ini. Dari niat awal membuat blog untuk menuliskan resensi buku dan cerita jalan-jalan yang sempat beberapa kali saya lakukan, blog ini berhasil mencapai usia yang jauh lebih panjang dari blog-blog lain yang sebelumnya saya buat. Dengan tulisan yang lebih sering di update tentu saja. Nasib blog-blog lain yang saya buat dengan semangat menggebu-gebu untuk menuliskan buah pikiran saya kini benar-benar lapuk dimakan waktu. Seingat saya, blog pertama saya buat saat saya masih duduk di bangku SMA kelas 1. Berbarengan dengan membuat akun Friendster yang baru booming di Indonesia saat itu. Sayangnya sekarang saya sudah melupakan URL-nya.
Nasib blog-blog ini mengingatkan saya pada nasib diary-diary yang saya tulis sejak SD. Semuanya hanya berhasil terisi maksilam ¼ halaman. Bukan hal yang patut dibanggakan. Tapi itu bisa menjadi salah satu penanda bagi awal kesukaan saya menulis. Seingat saya, saat SD saya pernah memenuhi sebuah b…

Jilbab..mengganggu pikiranku

hm..beberapa hari ini saya beberapa kali membaca tulisan "Jilbab Antem" atau "Ciput Antem". Sejak tinggal di Bandung dan jadi anak kost-kostan, saya bisa tergolong "Kudet" (Kurang Update -istilah ini pun baru saya ketahui beberapa hari lalu (-_-")). Sejak dulu menonton tv tidak pernah menjadi aktivitas yang saya gemari. Membaca majalah fashion pun saya lakukan dengan teknik membaca skimming dan sekedar melihat gambar-gambar yang menarik.

Nah istilah "Antem" ini pun baru saya ketahui setelah tanpa sengaja membacanya disebuah review buku tentang hijabers-hijabers-an. Kata Antem ternyata merujuk pada frasa "Anti Tembem". Ya, ternyata ada sejumlah muslimah yang ragu pakai jilbab karena takut terlihat semakin tembem atau chubby. Nah buku ini mencoba memberika tips-tips cara memakai jilbab agar tidak membuat pipi terlihat tembem.

Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe)

Penulis: Haryoto Kunto Penerbit: Granesia Cetakan: Pertama 1996 Jumlah hal.: 114 halaman
Buku Ramadhan di Priangan ini adalah salah satu bacaan yang menarik untuk menghabiskan waktu menanti waktu berbuka puasa tiba. Meskipun membahas sejarah dan hal-hal berbau tempo doeloe, buku ini ditulis menggunakan bahasa tutur sehingga lebih mudah dipahami. Menyenangkan membaca suasana Ramadhan masa lalu yang pasti sudah banyak berbeda.
Masyarakat Bandung benar-benar membuat “sambutan” khusus untuk bulan Ramadhan ini. Diceritakan fenomena yang tidak mungkin lagi dirasakan oleh masyarakat Bandung masa kini. Salah satunya adalah cerita bahwa dulu bunyi kentongan Mesjid Agung Bandung bisa terdengar sampai ke wilayah Bandung Utara seperti wilayah Dago Simpang, Mentos (Jl.Siliwangi sekarnag), Terpedo (Wastukencana). Fenomena ini tidak akan lagi bisa terulang sebab meskipun kentongan sudah diganti dengan pengeras suara, tetap saja bunyi dari Masjid Agung tersebut tidak akan terdengar lagi ke wilayah Dago.…

Gelap Terang Hidup Kartini

Penulis :Tim Penulis Tempo Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Cetakan: Pertama, Juni 2013 Jumlah hal.: 148 halaman
Seorang Raden Ajeng Kartini merupakan sosok yang banyak dikenal oleh bangsa Indonesia. Mulai dari anak-anak SD sampai generasi-generasi yang lebih tua.Namun bentuk pengenalan yang diketahui masyarakat umum hanyalah sedikit. Mereka hanya akan berkata bahwa, “Kartini adalah pahlawan perempuan. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan. Menyuarakan tentang persamaan derajat perempuan dan pria,”.
Sejujurnya kalau saya ingin mendebat salah satu pernyataan tentang “Kartini adalah orang pertama yang mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi” maka ada data yang bisa dijadikan perbandingan. Seorang Raden Dewi Sartika, pahlawan perempuan dari tanah Sunda, telah lebih dulu membuat sekolah ini. Dewi Sartika tercatat telah mulai mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi sejak 1902 di halaman belakang ibunya. Sekolah itu bernama “Sakola Istri”. Sekolah y…

Apresiasi Film "Le Grand Voyage"

Siang ini Aleutian! nggak jalan-jalan menyusuri kota Bandung. Kali ini kita menyusuri kehidupan (tsaaahh) melalui apresiasi film. Ya, Le Grand Voyage adalah film yang dipilih untuk menghabiskan waktu sambil menunggu info adzan Maghrib di TimeLine Twitter (ha..ha.. generasi zaman sekarang..) Berikut profil Le Grand Voyage Directed by Ismaël Ferroukhi Produced by Humbert Balsan Written by Ismaël Ferroukhi Starring Nicolas Cazalé,
Mohamed Majd Distributed by Pyramide Distribution Release date(s) September 7, 2004Running time 108 minutes
Le Grand Voyage adalah sebuah film berbahasa Perancis tentang perjalan seorang ayah dan anaknya menuju Mekah untuk menunaikan ibadah Haji. Film ini diawali dengan kesibukan sang anak, Reda, yang tengah memperbaiki sebuah mobil. Setibanya di rumah ia mendapat kabar bahwa ia harus menggantikan kakaknya menyupiri sang ayah ke Mekah. Hal ini karena kakaknya, Khalid, ugal-ugalan di jalan sehingga SIM nya dicabut. Jadilah dengan berat hati ia menemani sang ayah menempuh perj…