Jumat, 28 Juni 2013

Wajah Makassar Hari Ini

Setelah cukup lama tidak menginjakkan kaki di kota Daeng, maka saya jadi sedikit lebih sensitif tentang apa yang terjadi dengan kota itu. Makassar sejak dulu memang terkenal sebagai kota yang panas, mengingat posisinya yang terletak di pinggir pantai, maka hal itu menjadi hal yang wajar. Namun kedatangan saya setelah merantau ke tanah Sunda, dan hidup dalam kondisi yang lebih sejuk dan dingin, membuat saya menjadi semakin sensitif di Makassar.

Dulu saat masih tinggal di Makassar, maka hawa panasnya menjadi hal yang biasa. Terjebak di angkot selama satu jam lebih demi mencapai Kampus Unhas pun saya jalani dengan biasa saja, meski rasanya saya bak ikan kering yang dijemur. Namun sejak tahun lalu, saat berlibur dari kepenatan kuliah, saya mulai lebih perasa atas panas matahari di Makassar. Saat harus menjelaskannya, saya akan berkata, "Panas di Makassar sekarang benar-benar terik. Rasanya seperti ditusuk-tusuk di bagian kulit yang tidak terlindung oleh kain pakaian".
Ya, benar. Dulu saya hanya akan berkata, ya Makassar panas seperti biasa. Tapi kini membandingkannya dengan saat Bandung sedang terik-teriknya hingga membuat penduduknya berpeluh dan berkesah pun tetap masih lebih panas kota Makassar.

Dan kini, saat dua hari lalu saya melihat jalanan di Pettarani, maka saya hanya bisa beristigfar sambil menggelengkan kepala. Taman yang terletak di tengah jalan yang menjadi pemisah jalan, hancur dilindas oleh Bulldozer. Benar-benar hancur dan rata bersama tanah. Saya kemudian sempat membaca sekilas di salah satu harian di Makassar bahwa keputusan itu diambil karena pertimbangan ekonomi. Perluasan jalan dibutuhkan untuk mengurangi kemacetan Makassar yang saya yakin lebih parah daripada Bandung. Namun dana untuk pembebesan lahan di pinggir jalan utama tersebut sangat besar jumlah, hingga akhirnya diputuskanlah untuk mengorbankan partisi jalan yang hijau tersebut.

Membaca hal itu saya lantas berkomentar di hadapan teman-teman saya, "Mereka ini seperti orang bodoh saja. Sibuk berbicara solusi tapi tutup mata terhada penyebabnya. Kemacetan di Makassar itu efek jumlah pengendara mobil dan motor. Ya coba batasi penggunaan kendaraan bermotor entah dengan pajak kendaraan yang dinaikkan atau hal lainnya," gerutuku. Lantas seorang teman berkata, "Ah ko itu kaya' tidak tau saja siapa pemilik usaha dealer mobil terbesar di sini". Benar juga, siapa yang tidak tahun usaha "Hadji Kalla" yang merupakan perusahaan penyalur mobil terbesar dan ternama di Sulawesi Selatan.

Tapi otak saya terus berfikir, orang-orang berbondong2 ingin memiliki kendaraan pribadi karena kondisi jalanan di kota Makassar tidak rama untuk pejalan kaki. Contoh:
1. Di jalan-jalan utama di Kota Makassar masih minim trotoar, terutama yang berada di area ruko-ruko.
2. Minimnya pohon-pohon yang terletak di pinggir jalan untuk meneduhkan para pejalan kaki.
3. Di jalan yang lebar seperti Pettarani sangat sedikit jumlah jembatan penyebrangan, sehingga sangat sulit dan berbahaya bagi pejalan kaki untuk menyebrang.

Bayangkan jika pejalan kaki berkurang karena kondisi jalanan yang ramah, maka untuk menempuh tujuan yang tidak terlalu jauh mereka bisa memilih menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki. Tapi dengan kondisi sekarang, sekedar dari lampu merah Pettarani-Hertasning menuju Ramayana Pettarani saja, orang akan lebih suka naik motor atau mobil pribadi.

Kemacetan Makassar sejujurnya bagi saya adalah bentuk kegagalan pemerintah kota Makassar dalam memanage masalah transportasi di kota ini. Luas jalan Pettarani itu, 3 kali lebih luas dari jalan Dago yang ada di Bandung atau sedikit lebih luas dari jalan Soekarno-Hatta. Namun, pemerintah kota Bandung masih lebih siap menghadapi kemacetan yang terjadi terutama saat weekend. Bandung itu macet pada waktu weekend oleh pendatang yang berasal dari luar kota untuk berlibur atau jalan-jalan di Bandung. Sedangkan di Makassar, kemacetan itu terjadi setiap hari dan berasal dari orang Makassar itu sendiri. Maka wajar jika saya mempertanyakan kegagalan pemerintah.

Inilah wajah Makassar saat ini. Kota yang "baru" menjadi metropolitan namun belum siap menghadi resiko dalam menyandang status tersebut. Benahi kota ini, jangan hanya berfokus pada ekonomi namun juga pada ekosistem dan lingkungan hidup. Jangan ulangi "dosa" Jakarta dan kemudian berbangga bahwa kemacetan dan banjir menjadi bukti bahwa Makassar pun sebuah kota besar dan maju seperti Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)