Rabu, 03 April 2013

Pilihan



“Kelak semua akan memaksamu memilih. Ketika saat itu datang, aku lebih suka kamu memilih untuk mengikuti kehendak orang tuamu,” kalimat itu dilontarkannya saat aku bercerita tentang rencana perjodohan yang ditetapkan oleh orang tuaku.

Ia Krisna, sosok yang menemani hari-hariku dalam 1 tahun ini. Pria yang acap kali mengomeliku tentang kecenderunganku untuk mendebat banyak hal.
“Sayang, tidak semua hal harus kamu debati. Terkadang lebih baik diam,” itu salah satu tegurannya saat ia mendapatiku telah mendebat pembicaraan seseorang. Dia tidak akan menegurku di depan umum. Ketika kami telah berdua atau sedang ngobrol via gelombang yang diperantarai oleh handphone maka ia akan mencoba mengingatkanku tentang kebiasaan burukkku yang satu itu.

Aku kini terjebak antara Rian dan Krisna. Ya, Rian adalah pria yang dipilihkan orang tuaku untuk menjadi pendamping hidupku. Aku berupaya keras untuk menolaknya sekeras upaya orang tuaku untuk memaksaku memutuskan hubungan dengan Krisna. Satu hal yang selalu menjadi alasan orang tuaku yakni bahwa Krisna tidak punya pekerjaan tetap. Berbeda dengan Rian yang merupakan seorang pegawai bank dengan posisi yang sudah cukup tinggi. Usianya 6 tahun lebih tua dariku.

“Kania, cobalah mengenal Rian. Mungkin dia memang baik untukmu,” saran Krisna padaku sekitar 2 bulan lalu.

“Oh, jadi kamu mau aku setuju dengan perjodohan itu?” kataku dengan sinis. Aku kesal mendengar penuturan Krisna.

“Bukan, aku hanya ingin kamu adil, Sayang. Dia berhak kamu beri kesempatan,” kata Krisna yang kujawab dengan diam panjang, tanda bahwa aku kesal dengan pembicaraan itu dan padanya. Dan seperti biasa dia selalu berhasil membuatku tertawa dengan godaannya dan membuatku tidak bisa marah padanya.

Dan karena permintaan Krisna, aku pun mulai membuka diri pada Rian. Mulai menerima ajakannya untuk berwisata kuliner ke berbagai tempat dan berburu buku-buku tua yang keren di loakan. Tanpa kusadari Rian berhasil mengalihkan perhatianku padanya. Dan kini Krisna datang untuk meneguhkan posisi.
“Kania, bagaimana hubungan kamu dengan Rian?”
“Sejujurnya, aku bingung. Aku tak pernah berfikir bahwa Rian akan berhasil menyelusup ke hatiku. Aku membuka pintu untuknya atas permintaanmu. Dan sekarang aku bingung,” Jawabku lemah. Krisna pun terdiam sambil memandangi cincin di jari manis kanan-ku yang sibuk kumainkan.
“Krisna, aku rasa aku harus memilih sekarang. Harus aku akui bahwa aku masih sayang sama kamu. Tapi aku pun mencoba realistis karena semakin aku mengenal Rian semakin aku tidak punya alasan untuk menolaknya,” jawabku akhirnya setelah terdiam sesaat.
“Aku memilih untuk bersama Rian, karena itu pilihan yang paling mudah. Maafkan kepengecutanku, Krisna,” jelasku dan dijawab dengan kebisuan oleh Krisna. Tak lama Krisna pun bangkit dan meraih  jaket yang ia sampirkan di kursi dan mengecup keningku sesaat seraya berkata, “Berbahagialah. Aku yakin dia yang paling baik untukmu”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)