Rabu, 03 April 2013

Ngaleut Pohon bersama Manusia Pohon (part 2)



Masih di taman Balaikota dan masih dengan saudara Ipin sebagai pemateri tunggal, Aleutian kembali dijejali banyak informasi menarik. Salah satunya tentang  Babadotan atau Ageratum conyzoides. Bunga ini ternyata memiliki ukuran bunga yang sangat kecil. Apa yang selama ini saya pikir sebagai bunga dari tanaman ini ternyata adalah sekumpulan bunga ukuran mini. Karena ternyata tidak membuat dokumentasi tentang tanaman, saya lantas mencari foto dan di web yang sama (http://balittro.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=79&Itemid=38)  tertulis informasi berikut:

“Di Indonesia, Ageratum banyak digunakan untuk obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Yang telah dibuktikan secara ilmiah sebagai obat anti-infla-masi. Prof. Elin Yulinah Sukandar menemukan bahwa ekstrak babadotan yang dicampur dengan ekstrak jahe terbukti efektif mengobati radang yang disebabkan bakteri Staphylococcus aureus pada kelinci percobaan. Selain itu Ageratum juga dapat menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis, Eschericichia coli, and Pseudomonas aeruginosa. Tak hanya daun ternyata akar tanaman ini pun berguna; menurut pakar dan Ketua Himpunan Pengobatan Tra-disional dan Akupunktur Indonesia, Prof. HM Hembing Wijayakusuma, akar babadotan dapat mengatasi disentri, diare atau panas, dengan cara merebus 30 gram akar Ageratum, dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring dan diminum airnya selagi hangat.”

babadotan

Setelah itu Ipin pun beranjak ke bunga berikutnya. Ternyata bunga tersebut adalah Bunga Patra Komala (Caesalpinia pulcherrima), kembang ikon Bandung. Ternyata bunga ini bukan asli Indonesia. tapi dari kawasan tropis dan subtropis di Amerika. *eh?!* Anehkan?? Replika perunggu ini juga dipasang di stilasi yang dibuat untuk mengenang kejadian Bandung Lautan Api. Jika ada yang bertanya, “Lantas, kenapa bunga ini jadi ikon kota Bandung? Ada sejarahnya gak?”. Jawabannya adalah tidak ada history-nya (sejauh yang penulis tahu) tentang kenapa bunga ini jadi icon. Tapi pemilih bunga ini sebagai lambang kota Bandung dilakukan di masa Orde Baru karena saat itu Ibu Tien sebagai Ibu Negara menetapkan bahwa setiap kota harus memiliki ikon khas berupa flora dan fauna. Lantas dipilihlah bunga Patra Komala karena saat itu banyak tumbuh di kota Bandung.

Patra Komala

Beralih dari Bunga Patra Komala, pembahasan berpindah ke Palem ekor tupai (Wodyetia bifurcata). palem pendatang dari Australia. Tanaman ini cocok untuk tumbuh di trotoar karena meskipun akarnya tumbuh liar, tidak akan merusak tekstur tanah tempat ia tumbuh. Namun tidak benar-benar dapat menaungi pejalan kaki dari terik dan hujan.


palem ekor tupai
Kita kemudian beralih ke sisi lain Taman Balaikota. Kali ini kami mendekat ke pohon yang sangat lebat. Mungkin ini jenis pohon yang paling sering kita temui di taman-taman yang cukup luas. Yup, pohon berikutnya adalah Pohon Trembesi atau Samanea saman. Pohon ini punya banyak nama lain seperti Ki hujan atau pohon hujan. Bentuk pohon ini memang membuatnya jadi pilihan sebagai pohon peneduh, namun tidak cocok ditanam di Trotoar atau di taman tengah jalan sebagai pembatas jalan sebab akarnya dapat merusak trotoar dan jalanan. Selain itu, rantingnya kurang kokoh. Namun cukup disayangkan bahwa Pohon Trembesi ini sering kali menjadi salah satu jenis pohon yang cukup sering dipilih dalam aksi penanaman pohon hingga ke trotoar jalan padahal Trembesi tidak cocok di tanam di trotoar. Namun Pohon ini menjadi pilihan yang baik untuk di tanam di taman-taman yang cukup luas sebab Trembesi mampu menyerap CO2 di udara dengan optimal.
pohon Trembesi

Di dekat pohon Trembesi di taman Balaikota terdapat tanaman Hanjuang atau Cordyline fruticosa. Ternyata nama tanaman ini yang menginspirasi nama sebuah tempat di cimahi, yaitu Cihanjuang.
Berikutnya kami pindah ke sisi dekat parit yang berada di dalam taman. Berdirilah Pohon Dadap Merah (Erythrina Crista Galli). Nama Latin Crista Galli adalah nama latin bagi jengger ayam. Hal ini karena bunga dari pohon Dadap Merah ini mirip dengan jengger ayam. Aslinya tumbuhan ini tumbuh lurus, namun  karena pengaruh tekanan angin atau kecepatan angin di sekitarnya membuat tumbuhan ini tumbuh membengkok. Dan di salah satu bagian tanaman ini terdapat virus hingga membuat tonjolan cukup besar di salah satu bagian.
bunga Dadap Merah

virus di pohon dadap merah

Ada pula Pohon Gelondongan namun ternyata saya tidak menemukan dokumentasi yang layak untuk pohon ini. Disebutkan oleh Ipin bahwa jenis tanaman ini baik untuk ditanam di pinggir jalan karena tumbuh ke atas dan kanopinya melebar ke samping. Selain itu adapula pohon Ki sabun atau Filicium decipiens pohon ini mengandung sofonin yang merupakan senyawa untuk busa sabun. Saat hujan di bawah pohon ini akan muncul busa-busa seperti busa sabun. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikan pohon ini dalam bentuk foto.
Masih di Taman Balaikota kami juga menemukan Pohon Tanjung atau Mimusops elengi. Sayang saya tidak mendokumentasikan pohonnya, namun sempat mendokumentasika buahnya. Tanaman ini baik untuk ditanam dipinggir jalan karena dapat menyerap karbon monoksida dan dioksida dengan baik.

Kami kemudian beralih ke salah satu tanaman yang cukup besar dan berdiri dengan arogannya di dekat jembatan penyebrangan yang terdapat di Taman Balaikota. Penjelasan Ipin membuat saya terpukau. Tanaman itu adalah karet munding (Ficus elastica) yang getahnya dapat diolah menjadi karet. Tanaman ini termasuk tanaman “jahat” menurut saya. Menurut info dari Ipin jenis “ficus” ini berbahaya bagi tanaman lain yang ditumpanginya. Jika tanaman Ficus tumbuh di sebuah pohon, ia akan tumbuh dengan membelit pohon tersebut, membungkus dan menutupinya hingga akhirnya tanaman yang ditumpanginya tersebut tertutup sepenuhnya dan mati karena dibungkus Ficus tersebut. Tanaman ini tidak cocok ditempatkan di trotoar karena tumbuh liar dan akarnya bisa merusak. Pohon ini juga menjadi tempat hidup bagi banyak hewan mulai dari burung hingga reptil-reptilan. Di Taman Balaikota ini kita akan melihat seberapa merusak tanaman ini. Ada pagar yang membengkok, akarnya merusak lapisan dinding dan akar tanaman ini menutupi permukaan parit. Akar-akar kecil jika sampai ke tanah akan tumbuh jadi seperti sebuah batang.
pohon Karet Munding

Akhirnya pembahasan mengenai Ficus ini menjadi bahasan terakhir di Taman Balaikota. Aleutian kemudian menyebrang ke sisi jalan. Kami langsung menemukan Karet Munding yang ditanam di salah satu pot besar di pinggir jalan. Kami sampai geleng-geleng kepala melihatnya, apa mereka tidak bisa melihat hasil perbuatan tanaman ini terhadap trotoar yang ada di sisi lain jalanan ini?? Setelah sibuk mengomentari tentang buruknya perencanaan kota Bandung dalam menentukan jenis tanaman yang layak untuk dijadikan pohon peneduh jalan.

2 komentar:

  1. Wah..., babadotan mah seueur di lembur.
    Geningan aya hasiatan nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena saya belum bisa bahasa Sunda..Sempat lieur juga baca commentnya, kang (^_^)

      Iya, saya juga baru tahu bahwa babadotan banyak manfaatnya

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)