Selasa, 02 April 2013

Ngaleut Pohon bersama Manusia Pohon (part 1)



Sudah lama saya tidak meng-update tulisan kegiatan #ngaleut bersama Komunitas Aleut. Maka malam ini saya mencoba memenuhi janji untuk terus berbagi pengalaman selama di Bandung, agar teman-teman di Makassar bisa “ikut” melihat dan merasa apa yang saya alami di Bandung ini.

Ok, memenuhi niatan tersebut saya pun menulis cerita tentang Ngaleut Pohon yang diadakan pada 10 Maret 2013. Saya mencoba menuliskannya selengkap yang saya mampu.

Perjalanan Ngaleut Pohoh dimulai di Taman Balaikota. Lagi-lagi saya memperoleh pengalaman pertama memasuki sebuah tempat dengan bantuan Komunitas Aleut. Hari itu setelah tinggal hampir 2 tahun di Bandung, saya akhirnya menginjakkan kaki ke Taman Balaikota. Saya terlambat bergabung dengan rombongan yang telah lebih dulu sampai di Taman Balaikota. Maka saya mohon maaf jika ada beberapa materi yang akhirnya hilang dan tidak sempat saya tulis.


Ketika tiba, saya langsung mendekat ke “sumber suara” yakni kepada Arifin Surya Dwipa Irsyam atau yang akrab disapa Ipin. Bunga yang sedang dibahas ketika saya datang adalah Bunga Tembaga atau Tapak Dara. Bunga yang bernama latin Catharanthus roseus (L) G.Don ini mengandung senyawa vinblastine yang dapat menghentikan pembelahan sel, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai anticancer. Tapi dilain pihak tanaman ini jika dikonsumsi dengan dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan.
Bunga Tembaga

Setelah itu pengamatan bergerombol ini secara berturut-turut pindah ke bunga-bunga berikut:

Bunga Jatropha integerrima Jacq . Ipin lupa dengan sapaan daerah untuk bunga ini. Tapi ya abaikanlah, kita masih bisa mencari lebih banyak di mbah Google (^_^)v Menurut informasi dari Ipin, si cantik yang satu ini juga beracun. Mengandung phorbol dan bagian biji mengandung senyawa racun curcin. Racun pada tanaman sebenernya adalah salah satu mekaniseme mereka untuk mempertahankan diri dari predator.
Jatropha integerrima Jacq

Setelah itu dibahas pula Pohon Alpukat atau Persea americana L yang berasal dari Amerika Selatan. Penamaan dalam bahasa Latin pohon Alpukat ini berasal dari nama Perseus dalam mitologi Yunani. Namun saya tidak mencatatnya dengan lengkap. Maaf (-_-“) Saya tambahkan sedikit informasi tentang manfaat Alpukat yg saya peroleh dari (http://id.wikipedia.org/wiki/Apokat) “Apokat memiliki banyak manfaat. Bijinya digunakan dalam industri pakaian sebagai pewarna yang tidak mudah luntur. Batang pohonnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Kulit pohonnya digunakan sebagai pewarna warna cokelat pada produk dari bahan kulit. Daging buahnya dapat dijadikan hidangan serta menjadi bahan dasar untuk beberapa produk kosmetik dan kecantikan. Selain itu, daging buah alpukat untuk mengobati sariawan dan melembabkan kulit yang kering. Daun alpukat digunakan untuk mengobati kencing batu, darah tinggi, sakit kepala, nyeri saraf, nyeri lambung, saluran napas membengkak dan menstruasi yang tidak teratur. Bijinya dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan kencing manis

Bunga Hamelia Patens
Ipin kemudian beralih ke Bunga Hamelia patens Jacq. Bunga ini adalah salah satu jenis tanaman hias yang banyak ditanam di Taman Kota di Bandung. Bunga ini masih satu famili dengan Kopi dan berasa dari Afrikan. Bunganya berbentuk tabung, sehingga penyerbukan bunga dibantu oleh kupu-kupu. Jadi jika ingin taman dipenuhi kupu-kupu, bunga ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan.

Bunga Nusa Indah
Barlanjut ke bunga berikut, Aleutian kembali bergerombol mendengarkan penjelasan Ipin tentang Bunga Nusa Indah (Mussaenda erythrophylla Schumach.) yang masih satu kerabat dgn kopi. Yang berwarna merah dibawah bunga bukanlah kelopak bunga melainkan daun. Saya baru sadar bahwa ternyata tidak semua daun berwarna berwarna hijau. Dapat ilmu baru lagi. He..he..

Setelah itu, kami beralih ke pohon Kersen (Muntingia calabura L.). Pohon ini dapat menjadi salah satu alternatif sebagai tanaman peneduh jalan karena memiliki kanopi yang tidak rata namun lebar sehingga dapat menjadi peneduh bagi pejalan kaki.

Pohon Kersen


Buni atau Wuni (Antidesma bunius L.) yang buahnya dapat dikonsumsi. Buah yang telah matang berwarna ungu tua (dan saya sempat mencicipi yang telah metang dan memang enak dan saya tidak sakit perut sesudahnya.he..he..) Tanaman ini sudah mulai jarang ditanam di pekarangan rumah. Buni masih satu famili dengan Singkong, hal ini bisa terlihat dari kemiripan karakteristik daunnya dengan daun singkong.
Buni atau wuni

Sumber foto dan data tambahan
Foto-foto berasal dari facebook Endri Sudewa dan beberapa lagi adalah hasil dokumentasi pribadi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)