Langsung ke konten utama

Cintia



Pernahkah kau berada di saat kehilangan yang terkasih?
Bukan..bukan..kekasih hati yang sering disebut pacar. Namun yang lebih dalam dari itu yakni sahabat. Pernahkah kau merasakan kekosongan yang dalam karena kepergian dia yang kau sebut sahabat?
Malam ini aku menjadi korbannya. Malam ini tepat setahun Cintia pergi. Pergi ke tempat yang teknologi sehebat apa pun tak kan bisa menjangkaunya. Ia pergi bersama ceria-ku.

“Lusi, kamu ngapain disini sendiri, nak?” mendadak Bunda datang menyapaku. Meluruhkan hening yang tercipta di balkon rumah.
“Lusi kangen Cintia, Bunda. Lusi sedang menikmati benda langit favorit Tia,” jelasku sambil berusaha meredam tangis yang nyaris tak terbendung.
“Maaf ya Sayang, Bunda nggak bisa bantu apa-apa. Hanya kamu yang bisa menghadapinya. Rasa sedih dan kehilangan itu harus kamu hadapi sendiri,” tutur Bunda sambil mengelus lembut rambutku. “Kamu Bunda bawakan teh manis hangat yah. Biar gak kedinginan,” tawar Bunda yang kujawab dengan anggukan.
Aku kembali menatap langit yang saat itu tengah cerah. Tumben. Padahal akhir-akhir ini Bandung selalu dirundung mendung dan hujan.

“Tia, kamu pernah bilang saat aku sedih cukup menatap langit, maka aku nggak akan merasa sendirian. Tapi tetap saja, bintang paling terang pun tak bisa mengganti hadirmu”

Komentar

  1. Duuh sedihnya.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak bermaksud membuat sedih
      (-_-")

      terimakasih sudah membaca karya saya (^_^)

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…