Rabu, 03 April 2013

Cintia



Pernahkah kau berada di saat kehilangan yang terkasih?
Bukan..bukan..kekasih hati yang sering disebut pacar. Namun yang lebih dalam dari itu yakni sahabat. Pernahkah kau merasakan kekosongan yang dalam karena kepergian dia yang kau sebut sahabat?
Malam ini aku menjadi korbannya. Malam ini tepat setahun Cintia pergi. Pergi ke tempat yang teknologi sehebat apa pun tak kan bisa menjangkaunya. Ia pergi bersama ceria-ku.

“Lusi, kamu ngapain disini sendiri, nak?” mendadak Bunda datang menyapaku. Meluruhkan hening yang tercipta di balkon rumah.
“Lusi kangen Cintia, Bunda. Lusi sedang menikmati benda langit favorit Tia,” jelasku sambil berusaha meredam tangis yang nyaris tak terbendung.
“Maaf ya Sayang, Bunda nggak bisa bantu apa-apa. Hanya kamu yang bisa menghadapinya. Rasa sedih dan kehilangan itu harus kamu hadapi sendiri,” tutur Bunda sambil mengelus lembut rambutku. “Kamu Bunda bawakan teh manis hangat yah. Biar gak kedinginan,” tawar Bunda yang kujawab dengan anggukan.
Aku kembali menatap langit yang saat itu tengah cerah. Tumben. Padahal akhir-akhir ini Bandung selalu dirundung mendung dan hujan.

“Tia, kamu pernah bilang saat aku sedih cukup menatap langit, maka aku nggak akan merasa sendirian. Tapi tetap saja, bintang paling terang pun tak bisa mengganti hadirmu”

2 komentar:

  1. Balasan
    1. tidak bermaksud membuat sedih
      (-_-")

      terimakasih sudah membaca karya saya (^_^)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)