Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2013

Kutipan "Perpustakaan Bibbi Bokken"

"Ini pemikiran yang penting, Nils. Maksudku, fantasi tak berbeda dengan kebohongan. Terkadang fantasi adalah kebohongan itu sendiri.""Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan pembohong yang paling antusias. Maksudku mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli kebohongan mereka.""Aku rasa, beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi. Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar yang didalamnya kebohongan berkumpul berbaris-baris, dan kita menyebutnya sebagai perpustakaan. Kita pun dapat menjulukinya sebagai "laboratorium kebohongan" atau yang paling mirip2 itu. Mungkin paling baik kita menamai perpustakaan dengan "tempat penyimpanan lelucon dan fakta""

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Ngaleut Pohon bersama Manusia Pohon (part 3 - selesai)

Kami kemudian singgah ke halaman Sekolah Dasar di seberang Taman Balaikota (maaf saya lupa mencatat nama sekolahnya), kami langsung bertemu dengan Biola Cantik atau Ficus lyrata. Seperti yang terlihatdalam nama latinnya, tanaman ini masih satu famili dengan Karet Munding. Biola Cantik pun memiliki akar liar seperti Karet Munding. Tanaman ini berasal dari India. Bunga butun (Barringtonia asiatica) yang sudah rontok. Pohon yang ini biasa hidup di kawasan pantai namun kini nampak sudah banyak menghiasi jalan di Kota Bandung. Ada kandungan tanaman ini yang bagus untuk diet, sayang saya lupa mencatatnya.

Ngaleut Pohon bersama Manusia Pohon (part 2)

Masih di taman Balaikota dan masih dengan saudara Ipin sebagai pemateri tunggal, Aleutian kembali dijejali banyak informasi menarik. Salah satunya tentangBabadotan atau Ageratum conyzoides. Bunga ini ternyata memiliki ukuran bunga yang sangat kecil. Apa yang selama ini saya pikir sebagai bunga dari tanaman ini ternyata adalah sekumpulan bunga ukuran mini. Karena ternyata tidak membuat dokumentasi tentang tanaman, saya lantas mencari foto dan di web yang sama (http://balittro.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=79&Itemid=38) tertulis informasi berikut:
“Di Indonesia, Ageratum banyak digunakan untuk obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Yang telah dibuktikan secara ilmiah sebagai obat anti-infla-masi. Prof. Elin Yulinah Sukandar menemukan bahwa ekstrak babadotan yang dicampur dengan ekstrak jahe terbukti efektif mengobati radang yang disebabkan bakteri Staphylococcus aureus pada kelinci percobaan. Selain itu Ageratum juga dapat meng…

Ngaleut Pohon bersama Manusia Pohon (part 1)

Sudah lama saya tidak meng-update tulisan kegiatan #ngaleut bersama Komunitas Aleut. Maka malam ini saya mencoba memenuhi janji untuk terus berbagi pengalaman selama di Bandung, agar teman-teman di Makassar bisa “ikut” melihat dan merasa apa yang saya alami di Bandung ini.
Ok, memenuhi niatan tersebut saya pun menulis cerita tentang Ngaleut Pohon yang diadakan pada 10 Maret 2013. Saya mencoba menuliskannya selengkap yang saya mampu.
Perjalanan Ngaleut Pohoh dimulai di Taman Balaikota. Lagi-lagi saya memperoleh pengalaman pertama memasuki sebuah tempat dengan bantuan Komunitas Aleut. Hari itu setelah tinggal hampir 2 tahun di Bandung, saya akhirnya menginjakkan kaki ke Taman Balaikota. Saya terlambat bergabung dengan rombongan yang telah lebih dulu sampai di Taman Balaikota. Maka saya mohon maaf jika ada beberapa materi yang akhirnya hilang dan tidak sempat saya tulis.