Langsung ke konten utama

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

 Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan ke Ternate. Kondisi ini membuat beliau akhirnya harus tinggal menumpang di rumah pamannya di Cicalengka.

Kemudian dia usia 18 Tahun seorang Dewi Sartika melakukan sebuah tindakan perubahan yang pada akhirnya ber-impact sangat besar bagi derajat kaum wanita hingga masa kini. Beliau membangun sebuah sekolah untuk kaum wanita. Ini bukan hal yang lumrah, karena pada saat itu pola pikir yang berkembang tentang posisi seorang wanita dalam masyarakat murni sebagai penyokong suami yang hanya akan sibuk di rumah, dapur, dan kamar, Yah kasarnya bahkan seperti sebuah properti miliki pria. Posisi mereka sebagai seorang pribadi tidak begitu dihargai.



Tahun 1904, sekolah Istri berhasil di dirikan. Dan mendapat dukungan dari pemerintah Belanda saat itu. Raden Dewi Sartika pun meminta dukungan Bupati  Bandung saat itu yakni RA Martanagara yang memiliki hubungan yang tidak begitu baik dengan keluarga Dewi Sartika mengingat skandal yang tercipta terkait ayah Dewi Sartika, Raden Rangga Somanagara, dengan Bupati tersebut. Namun karena keteguhan beliau untuk bisa melakukan sesuatu untuk kaum wanita, beliau pun tetap menemui RA Martanegara. Hasilnya, program beliau tersebut sangat di dukung oleh Bupati Bandung tersebut.

Kemudian dukungan publik terhadap sekolah yang beliau dirikan pun kian meluas hingga akhirnya pada 1911 nama "Sakola Istri" berubah menjadi "Sakola Kautamaan Istri". Sekolah ini terus berkembang jumlah murid kian bertambah dan dukungan pun kian meluas. Dewi Sartika pun mulai semakin dikenal dan sering menjadi pembicara dalam forum-forum wanita untuk menggugah semangat kaum wanita agar mau belajar dan tidak lagi membatasi diri untuk sekedar berada di wilayah dapur dan kamar. Kemudian karena mengingat jasa-jasa beliau, nama "Sakola Kautamaan Istri" pada 1929 diganti menjadi "Sekolah Raden Dewi".Selama masa penjajahan dan pergerakan hingga kemerdekaan, Sekolah ini pun merasakan gejolak dari kondisi tersebut.

Hingga akhirnya pecah berbagai peperangan yang membuat R. Dewi Sartika harus ikut mengungsi. Akhirnya pada 11 September 1947 beliau meninggal di Desa Cineam, saat mengungsi akibat terjadinya Agresi Militer. 
Beliau kemudian ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional. Penganugerahan ini gelar ini ditetapkan melalui Kepres no. 252 pada Desember 1966.

Buku ini juga mengutip beberapa buah pikiran beliau yang menarik. Yang jika kita telaah lebih jauh akan membuat kita memagumi kemajuan berfikir beliau.
Para aktivis wanita seharusnya mengenal sosok beliau lebih dalam. Sebab apa yang saat ini digembar-gemborkan oleh mereka tentang persamaan hak wanita dilingkungan kerja telah lebih dulu dituangkan oleh Dewi Sartika dalam tulisan-tulisannya.
Beliau pun berhasil mengalahkan sebuah tradisi tentang perjodohan saat dimana masalah seperti ini masih dianut dengan cukup ketat oleh masyarakat di zaman beliau.
Jika ingin melihat seorang wanita yang teguh dan berani mengambil tindakan untuk sebuah perubahan, maka lihatlah sosok seorang Dewi Sartika.

Buku ini akan memandu anda dengan tutur bahasa yang ringan dan menarik. :)

Komentar

  1. Buku yang positif... Terima kasih sudah membuat reviewnya... :D
    Terus semangat ngeblog! :D

    BalasHapus
  2. bukunya skrg masih bisa didapat di toko buku nggak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah susah. Coba cari di loakan. Tapi harus tekun nyarinya :)
      Dan seperti yang saya katakan.
      mencari tulisan-tulisan tentang Dewi Sartika bukan perkara mudah (entah mengapa)

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…