Rabu, 20 Maret 2013

Nyonya Besar

"Taniaaaa!!"
Begitu mendengar suara yang memanggil namaku itu seketika mood-ku hancur lebur. Tidak menyangka harus berurusan dengan wanita satu ini di pagi ini.
Bukan. Dia bukan nona kunti yang senang berkeliaran dengan rambut panjang dan baju putih.
Tapi dia tidak kalah menyeramkan dari nona satu itu.
Bedanya yang satu ini tidak suka memakai warna putih kecuali seragam sekolah. Dia sangat senang menggunakan warna pink. Dia segala kondisi. Bahkan saat satu sekolah tamasya ke Kebun Binatang di Tamansari Bandung, dia datang dengan warna pink dari ujung rambut sampai ujung kaki.



"Tania, kamu kok gak nyahut aku panggil," dia berusaha menjajari langkahku di koridor.
"Aku baru mau nyahut kok. Ada apa Riri? Tumben pagi-pagi kamu datang," jawabku sekedarnya.
"Iya nih. Tadi pagi papa sama mama mendadak harus ke Jakarta. Jadi daripada harus naik angkot aku minta dianterin dulu ke sekolah," gadis dengan perawakan sedikit tambun ini nampak sibuk mengunyah snack berupa wafer coklat dan sekotak susu coklat.
"Eh, kamu bawa mobil kan hari ini?" tanyanya.
"Iya. Kenapa, Ri?"
"Aku nebeng yah. Kan kita searah. Please, seingat aku hari ini kamu nggak ada kursus kan?"
Ah, seperti dugaanku pasti dia punya maksud tertentu dengan menyapaku sepagi ini.

"Aduh, aku ada rapat ekskul mading," jawabku berusaha menghindar.
"Lho bukannya, Laila ketua ekskul kalian lagi ke Jakarta buat lomba?" dengan lugas ia menampik usaha ngeles-ku. Dan semua itu dia lakukan sambil menghabiskan cemilan pagi hari dia tanpa menawarkannnya sedikitpun padaku. Bukan berarti aku mengharapkannya.
"Aduh, aku harus ke rumah nenek aku," jawabku lagi. Masih berusaha cari selamat.
"Lho bukannya bulan lalu nenek kamu meninggal?" Ah, tidak dia bahkan ingat dengan baik setiap upayaku untuk menghindari usaha dia untuk nebeng.
"Ih, kamu tuh ya, Tania. Pelit banget sih. Ngomong aja kalo kamu nggak mau aku nebeng. Susah amat sih. Aku juga selama ini gak pernah keberatan ngajakin kamu nebeng mobil aku karena kita searah" akhirnya Riri menandaskan upaya aku untuk menolak memberi dia tumpangan.
Ah, padahal hari ini aku mau jalan-jalan sendiri.
"Tania. Kamu jangan keseringan nebeng orang kalo nggak mau ditebengin," kalimat penutup Riri tadi menjadi penutup percakapan kami. Dan aku ditinggalkannya diam membisu menahan malu.

1 komentar:

  1. teteh kependekan nih, ayo dilanjutkan, aku mau baca :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)