Langsung ke konten utama

Nyonya Besar

"Taniaaaa!!"
Begitu mendengar suara yang memanggil namaku itu seketika mood-ku hancur lebur. Tidak menyangka harus berurusan dengan wanita satu ini di pagi ini.
Bukan. Dia bukan nona kunti yang senang berkeliaran dengan rambut panjang dan baju putih.
Tapi dia tidak kalah menyeramkan dari nona satu itu.
Bedanya yang satu ini tidak suka memakai warna putih kecuali seragam sekolah. Dia sangat senang menggunakan warna pink. Dia segala kondisi. Bahkan saat satu sekolah tamasya ke Kebun Binatang di Tamansari Bandung, dia datang dengan warna pink dari ujung rambut sampai ujung kaki.



"Tania, kamu kok gak nyahut aku panggil," dia berusaha menjajari langkahku di koridor.
"Aku baru mau nyahut kok. Ada apa Riri? Tumben pagi-pagi kamu datang," jawabku sekedarnya.
"Iya nih. Tadi pagi papa sama mama mendadak harus ke Jakarta. Jadi daripada harus naik angkot aku minta dianterin dulu ke sekolah," gadis dengan perawakan sedikit tambun ini nampak sibuk mengunyah snack berupa wafer coklat dan sekotak susu coklat.
"Eh, kamu bawa mobil kan hari ini?" tanyanya.
"Iya. Kenapa, Ri?"
"Aku nebeng yah. Kan kita searah. Please, seingat aku hari ini kamu nggak ada kursus kan?"
Ah, seperti dugaanku pasti dia punya maksud tertentu dengan menyapaku sepagi ini.

"Aduh, aku ada rapat ekskul mading," jawabku berusaha menghindar.
"Lho bukannya, Laila ketua ekskul kalian lagi ke Jakarta buat lomba?" dengan lugas ia menampik usaha ngeles-ku. Dan semua itu dia lakukan sambil menghabiskan cemilan pagi hari dia tanpa menawarkannnya sedikitpun padaku. Bukan berarti aku mengharapkannya.
"Aduh, aku harus ke rumah nenek aku," jawabku lagi. Masih berusaha cari selamat.
"Lho bukannya bulan lalu nenek kamu meninggal?" Ah, tidak dia bahkan ingat dengan baik setiap upayaku untuk menghindari usaha dia untuk nebeng.
"Ih, kamu tuh ya, Tania. Pelit banget sih. Ngomong aja kalo kamu nggak mau aku nebeng. Susah amat sih. Aku juga selama ini gak pernah keberatan ngajakin kamu nebeng mobil aku karena kita searah" akhirnya Riri menandaskan upaya aku untuk menolak memberi dia tumpangan.
Ah, padahal hari ini aku mau jalan-jalan sendiri.
"Tania. Kamu jangan keseringan nebeng orang kalo nggak mau ditebengin," kalimat penutup Riri tadi menjadi penutup percakapan kami. Dan aku ditinggalkannya diam membisu menahan malu.

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…