Rabu, 06 Maret 2013

Ngaleut di Dataran Tinggi (part 1)



Sore (23/2) itu, kegiatan Aleut! Kembali dilakukan di hari Sabtu. Ya ini karena pada hari Ahad esoknya digelar pesta demokrasi yakni pemilihan Gubernur Jawa Barat sehingga tidak diperkenankan diadakannya kegiatan yang mencolok. Mengingat jumlah aleutian setiap pekannya bisa mencapai 30 hingga bahkan 80 orang maka digeserlah kegiatan kita sore itu.

Kali ini sesi ngaleut sedikit romantis. Ya, kita akan melihat kota Bandung dari perbukitan. Diinfokan untuk berkumpul di markas Aluet! Pada pukul 15.30 dengan tujuan kali ini adalah Dago Pakar. Ya, salah satu daerah tinggi di Bandung adalah kawasan Dago ini. Akhirnya sekitar jam 16.20 kita melakukan sesi perkenalan yang selalu menjadi pembuka kegiatan ngaleut.

Setelah perkenalan sebentar, kita kemudian diarahkan untuk naik angkot dan berkumpul di terminal dago. Ini agak berbeda karena biasanya akan dicharter sebuah angkot untuk menuju titik pertama. Pertimbangannya mungkin karena akses angkot  tergolong mudah dari jl.Sumur Bandung ke dago. Akhirnya setelah berkumpul di depan terminal dago, dimulailah perjalanan ngaleut kita.

See..lahan hijau berubah jadi pemukiman
ada kata Dago. Namun kini ada yang mengartikan Dago sebagai “menunggu”. Menurut salah satu sumber kata Dago ini punya cerita sendiri. Kemunculannya terkait dengan kondisi Dago di zaman dulu. Dulunya  hingga akhir 1800-an daerah dari Simpang dago hingga dago pakar adalah hutan yang sangat lebat yang bahkan dikatakan bahwa hanya jurig (hantu) yang berani lewat. Meskipun saat itu Dago masih berupa hutan lebat, sudah ada perkampungan di daerah tersebut. Kampung tersebut ada karena dilintasi oleh jalan tradisional sejak zaman kerajaan. Nah, orang-orang kampung ini akan “Padago-dago” diterjemahkan sebagai saling tunggu-tungguan untuk pulang bersama-sama menyusuri hutan Dago setelah menyelesaikan keperluan mereka di daerah kota Bandung. Sebelumnya kita sharing pengetahuan terkait daerah Dago. Sebenarnya dalam bahasa Sunda tidak

Selain itu, diceritakan tentang keberadaan dua prasasti  yang di buat oleh Raja Thailand di lereng tebing dekat Curug Dago. Prasasti pertama adalah dari Raja Chulalongkorn atau Rama V (1853-1910) dengan angka tahun Thailand yang sama dengan 1902 M. Awalnya prasasti ini tidak diketahui keberadaannya. Namun ada sebuah sumber yang menceritakan bahwa saat datang ke Bandung Raja Rama V yang menginad di hotel Homann sering menghilang ditengah malam. Ternyata kemudian diketahui bahwa menghilangnya Raja tersebut terkait dengan ritual yang ia lakukan di lereng tersebut. Ada desas desus itu karena ia mendapat penglihatan bahwa ada arwah gajah putih di sana namun ada juga yang berkata bahwa itu adalah hubungannya dengan kesakralan hutan Dago pada saat itu. Terlepas dari alasannya, saat melakukan ritual inilah Raja Rama V meninggalkan prasasti di tempat tersebut.

http://equatrialresources.blogspot.com/2011/03/curug-dago.html
sumber: http://equatrialresources.blogspot.com/2011/03/curug-dago.html

Apa yang dilakukan Raja Rama V ini awalnya tidak diketahui sampai akhirnya ia ceritakan ke keterununnya yang kemudian menyusuri jejak cerita ini 27 tahun kemudian. Saat itulah prasasti kedua dibuat. Prasasti kedua ini dibuat oleh Raja Rama VII dengan angka tahun sama dengan 1929 M.  Dan sampai saat ini kedua prasasti tersebut masih ada. Namun tidak kami kunjungi karena keterbatasan waktu dan pencahyaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)