Langsung ke konten utama

Moment Pagi itu

Pagi itu aku terbangun lebih awal. Dingin yang menggigit yang menyelusup dari jendela kamarku yang selalu kubiarkan terbuka. Jendela itu mengarah ke kolam ikan dalam rumah yang juga tepat berada di sisi ruang makan. Saat berbalik menghadap ke jendela kulihat sebuah siluet.
Ah, mama dan papa bangun sepagi ini. Ngobrolin apa yah?

Kuperhatikan bahasa tubuh keduanya. Tampak mama dan papa saling bercerita berdua. Kuarahkan pandanganku ke jam dinding di kamarku. Baru pukul 4 dini hari. Tiba-tiba sebuah pertanyaan singgah di kepalaku,"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa harus seserius itu? Ada masalahkah?"

Aku pun beranjak ke luar kamar. Masih dengan wajah mengantuk tentu saja. Aku pun bergegas menghampiri papa dan mama. Saat melihatku, seketika keduanya memasang wajah penuh senyum. Aku lantas melihat sesuatu yang selama ini selalu kulihat dikedua mata mereka. Sinar itu menguapkan segala pertanyaan yang tadi sempat menghantuiku.

Ya, itu sinar cinta. Pancaran yang sesekali  muncul saat melihat papa yang sibuk membujuk mama yang sedang kesal karena kebiasaan papa yang suka menyembunyikan daster lama kesayangan mama. "Nanti orang berfikir papa nggak bisa beliin mama daster baru," jawab papa saat mama menanyakan alasan papa membuang daster mama. Setelah itu, mereka akan pergi berbelanja dan memintaku mengawalnya. Oh, dan moment itu selalu menjadi moment dimana aku merasa menjadi obat nyamuk untuk sesi ngedate papa dan mama.

Sinar itu juga yang sesekali ku temukan diwajah mama yang sendu. Saat mama terbaring sakit dan tidak bisa menghidangkan makanan kesukaan papa di hari ulang tahun papa. "Mama mau memasak makanan spesial untuk papa," itu kata mama yang kemudian dicegah olehku dan papa. Ah, cinta yang membuatku selalu memimpikan cinta yang seperti yang mereka miliki.

Dan pagi ini tampaknya aku mengganggu sesi obrolan pagi mereka. Sesi obrolan yang akan mencharge semangat papa untuk menghadapi hari ini. Sesi yang selalu berhasil membuat mama tersenyum cerah di pagi hari.
"Kamu kok sudah bangun, nak?" kata papa sambil mengusap rambutku.
"Mau mama bikinin teh? Tunggu yah?" mama pun segera beranjak dari kursinya. Dan aku sempat menangkap moment ketika keduanya bersisi tatap dan saling tersenyum.
Ah, Tuhan. Anugerahi aku cinta seperti yang mereka miliki

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…