Rabu, 13 Maret 2013

Moment Pagi itu

Pagi itu aku terbangun lebih awal. Dingin yang menggigit yang menyelusup dari jendela kamarku yang selalu kubiarkan terbuka. Jendela itu mengarah ke kolam ikan dalam rumah yang juga tepat berada di sisi ruang makan. Saat berbalik menghadap ke jendela kulihat sebuah siluet.
Ah, mama dan papa bangun sepagi ini. Ngobrolin apa yah?

Kuperhatikan bahasa tubuh keduanya. Tampak mama dan papa saling bercerita berdua. Kuarahkan pandanganku ke jam dinding di kamarku. Baru pukul 4 dini hari. Tiba-tiba sebuah pertanyaan singgah di kepalaku,"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa harus seserius itu? Ada masalahkah?"

Aku pun beranjak ke luar kamar. Masih dengan wajah mengantuk tentu saja. Aku pun bergegas menghampiri papa dan mama. Saat melihatku, seketika keduanya memasang wajah penuh senyum. Aku lantas melihat sesuatu yang selama ini selalu kulihat dikedua mata mereka. Sinar itu menguapkan segala pertanyaan yang tadi sempat menghantuiku.

Ya, itu sinar cinta. Pancaran yang sesekali  muncul saat melihat papa yang sibuk membujuk mama yang sedang kesal karena kebiasaan papa yang suka menyembunyikan daster lama kesayangan mama. "Nanti orang berfikir papa nggak bisa beliin mama daster baru," jawab papa saat mama menanyakan alasan papa membuang daster mama. Setelah itu, mereka akan pergi berbelanja dan memintaku mengawalnya. Oh, dan moment itu selalu menjadi moment dimana aku merasa menjadi obat nyamuk untuk sesi ngedate papa dan mama.

Sinar itu juga yang sesekali ku temukan diwajah mama yang sendu. Saat mama terbaring sakit dan tidak bisa menghidangkan makanan kesukaan papa di hari ulang tahun papa. "Mama mau memasak makanan spesial untuk papa," itu kata mama yang kemudian dicegah olehku dan papa. Ah, cinta yang membuatku selalu memimpikan cinta yang seperti yang mereka miliki.

Dan pagi ini tampaknya aku mengganggu sesi obrolan pagi mereka. Sesi obrolan yang akan mencharge semangat papa untuk menghadapi hari ini. Sesi yang selalu berhasil membuat mama tersenyum cerah di pagi hari.
"Kamu kok sudah bangun, nak?" kata papa sambil mengusap rambutku.
"Mau mama bikinin teh? Tunggu yah?" mama pun segera beranjak dari kursinya. Dan aku sempat menangkap moment ketika keduanya bersisi tatap dan saling tersenyum.
Ah, Tuhan. Anugerahi aku cinta seperti yang mereka miliki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)