Langsung ke konten utama

Ketika Dunia Menghadirkanmu Tuk Sempurnakanku

"Tiara!!" ku dengar seseorang menyebut namaku. Lebih tepat meneriakkannya
Saat aku berbalik kutemukan bahwa seorang gadis berekor kuda sedang berjalan dengan tergesa kepadaku. Senyum terkembang darinya. Membuatku membalasnya demi kesopanan meski dalam hati sibuk menggerutu "kenapa dia yang muncul sih?!"

"Kamu apa kabar? Sibuk banget sekarang?" dengan antusias ia menyapaku. Dan sambil kembali melangkah aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Gadis itu kemudian mensejajari langkahku.
"Kok diam aja, Ra?" nampak ia kebingungan dengan responku.
"Aku rada sibuk sama skripsi sih, Rina. Gimana kabar anak-anak yang lain?" jawabku berbasi-basi, mempraktekkan ajaran kedua orang tuaku sejak kecil tentang kesopanan.

"Oh, sibuk nyeskripsi toh. Aku pikir kenapa. Soalnya akhir-akhir ini aku ngerasa kamu jadi menjauh gitu dari kita. Padahal gak lama lagi kita semua akan sibuk karena skripsi dan nyari kerja," Rani terus berceloteh yang lebih sering kutimpali dengan senyum.
"Eh, Tiara udah dengar soal Wisnu dan Flo? Mereka berdua jadian lho. Gila cara Wisnu nembak keren banget," Rani masih sibuk berceloteh sendiri. Sedangkan kali ini aku hanya sibuk menggerutu dalam hati. "Bagaimana aku nggak tahu kalo semua ide itu muncul dariku?"
***
 "Tiara, kamu tahu gak lagu kesukaan Flo?" tanya Wisnu hari itu. Hari itu dia sedang menemaniku berbelanja buku di Rumah Buku, salah satu toko buku Favoritku di Bandung ini.
"Ada apa, Nu? Kok penasaran gitu?" tanyaku dengan menyelidik. Aku berusaha berfokus pada sinopsis buku yang aku pegang, namun pertanyaan mulai berkelebat di kepala.
"Aku pengen ngungkapin perasaan aku ke Flo, Ra," jawab Wisnu dengan santai sambil ikut mengambil sebuah buku karya Agatha Christie dengan cover baru itu.
Jawabannya seketika membuatku gelagapan. Tak disadarinya aku yang seketika tertegun. Aku berusaha menata hatiku. Menutupi perasaan yang selama ini kubiarkan tumbuh subur dihatiku.
***
"Tiara. Kamu melamun? Kamu gak tahu yah soal Flo dan Wisnu?" kembali Rina mengulang pertanyaannya. Karena aku tidak kunjung menjawabnya.
"Aku tahu kok. Wisnu udah cerita?"
"Oh, iya ya. Kamu dan Wisnu kan dekat banget. Aku malah berfikir bahwa kalian berdua yang sedang pedekate. Ternyata Wisnu naksirnya sama Flo. Wajar sih, Flo cantik gitu," Rina lagi-lagi sibuk berceloteh sendiri.
Andai engkau tahu. Betapa kumencinta.
Ku dengar lagu itu berkumandang dari tasku. Ah, menyelamatkan ku dari pembicaraan Rina yang mulai membuatku terganggu. Mengusik hatiku. Amat sangat.
 "Halo, Juna. Ada apa?" tanyaku langsung saat membaca nama penelponnya.
"Kamu jadikan ke panti?" tanya suara di ujung sana.
"InsyaAllah. Ini sedeng menuju kesana. Ada bahan lagi yang harus kulengkapi? Oh sudah semua? Sip, insyaAllah 10 menit lagi aku nyampe ya?!" segera kuakhiri telpon itu.
"Sorry, aku harus segera pergi, Na. Udah ada janji" kataku segera setelah menyimpan handphone mungilku.
"Cie. Siapa tuh Juna? pacar baru? Pantes lama gak ngumpul," goda Rina yang lagi-lagi kujawab dengan senyum.
"Duluan yah," kau pun meninggalkan Rani sambil sibuk memasang headset dan memutar lagu yang direkomendasikan oleh Juna  beberapa hari lalu.


"And it takes no time to fall in love
But it takes you years to know what love is
It takes some fears to make you trust
It takes those tears to make it rust
It takes the dust to have it polished"

-Life is Wonderful-

Aku menatap jalan di depankuku dengan tersenyum
"Mungkin butuh sebuah moment patah hati untuk menemukan hal lain yang bisa membuatku jatuh hati. Ah, tak sabar bertemu dengan adik-adik di Panti Asuhan" pikirku sambil tersenyum dan menyapa salah seorang tukang ojek dan menyebutkan tujuanku ke Hagermanah.
Ya, saat aku sibuk menata hati yang seketika pecah berkeping-keping. Tuhan membuatku memilih terjun dengan berbagai komunitas. Salah satunya adalah sebuah komunitas yang melakukan kegiatannya berupa pembinaan adik-adik di Panti Asuhan.
Dan bersama mereka aku merasa punya arti. Merasa malu untuk sibuk patah hati. Sebab aku bahkan tidak kehilangan hal yang paling berharga dihidupku yaitu sebuah keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…