Rabu, 20 Maret 2013

Aku dan Hujan

Klik..
Aku segera mengunci kamar kost-an. Menyambar sepatau kets dan dengan tergesa memakainya. Setelah itu mempercapat langkah kaki meninggalkan rumah kost-an. Kutengadahkan kepala.
Ah, mendung. Semoga masih keburu. Payung hilang memang menyusahkan.
Kurapatkan jaket hitam kesayanganku yang berbahan parasut. Pagi ini aku ada sejumlah urusan. Dan tampaknya harus berhadapan dengan hujan.

Tujuan pertama adalah perpusatakaan kampusku di Bukit Dago. Aku berniat mencari sejumlah buku untuk bahan tugas yang harus aku kumpulkan empat hari lagi. Akhirnya begitu sampai di depan gang aku pun langsung naik ke angkot seraya berdoa hujan tidak akan turun lebih awal.
Tiba-tiba handphone-ku mengumandangkan lagu Bring Me to Life-nya Evanescense
"Juli, kamu dimana? Jadikan ke kampus?" suara Kiki langsung memenuhi gendang telingaku.
"Iya ini juga udah di angkot. Kamu dimana?"
"Aku baru nyampe kampus".
"Hujan gak?" tanyaku dengan agak khawatir.
"Belum sih. Tapi nampaknya akan hujan deras. Kamu buruan ke sini,"
"Iya, kalo angkotnya gak sering ngetem yah," jawabku yang kemudian menutup pembicaraan dengan memutuskan sambungan.



Sepuluh menit kemudian aku pun sampailah di depan jalan dekat kampus. Aku masih harus berjalan secepat mungkin ke kampus yang jalanannya sedikit menanjak. Ah, bau tanah basah semakin dekat. Aku pun berlari-lari kecil. Tak lama kemudian sampailah aku di depan perpustakaan FISIP UNPAD Dago. Dan kulihat Kiki asyik duduk di salah satu bangku dan tampak menekuni BB-nya.
"Oi, nih bukunya. Ingat dijaga yah. Dan minggu depan balikin yah. Aku perlu juga soalnya," aku pun langsung mengangsurkan dua buku yang cukup tebal ke Kiki.
"Hatur nuhun, Juli. By the way, kamu jadi ketemuan dengan Rei hari ini?"
"Iya, tapi takutnya keburu hujan. Bisa-bisa aku ketemu dia dengan dandanan berantakan karena hujan," keluhku sambil merapikan dress bunga-bunga biru selutut yang aku padukan dengan celana kain hitam. Jilbab biru mudaku kurapikan karena sedari tadi dipermainkan angin yang sedang galak di kampus.
"Udah ah. Aku harus buru-buru nih. Takutnya keburu hujan," aku pun segera meninggalkan Kiki.
Di dalam perpustakaan dengan segera kutemukan buku-buku yang kubutuhkan. Maklum, aku cukup akrab dengan isi perpustakaan ini karena cukup sering ke sana.
Begitu menemukannya aku langsung ke petugas dan segera menyelesaikan transaksi peminjaman buku itu. Dengan cukup tergesa-gesa aku kembali berjalan ke jalan raya sambil terus berharap hujan masih berniat menunda hadirnya.
Aku pun segera naik angkot menuju perhentian berikutnya, tempat fotocopy. Perjalanan ke sana sering diwarnai usaha menunggu penumpang oleh sang supir. Jadilah butuh sekitar 15 menit yang mungkin normalnya hanya butuh 10 menit untuk sampai ke sana. Aku pun bergegas ke petugas tempat fotocopy dan menyerahkan sejumlah buku yang ingin ku fotocopy.
Dan tiba-tiba drassss.. kudengar suara air dari langit mengenai jalan, daun, dan atap.
Hujan deras yang tiba-tiba turun langsung menghentikanku. Semangatku pun menurun.
Aku pun melanjutkan transaksi. Memberi instruksi terkait buku yang ingin  ku-copy. Ketergesaanku mereda, seiring kekecewaan yang terbit di hati.
Akhirnya aku memutuskan menunggu hujan mereda yang entah akan butuh waktu berapa lama. Sebelumnya aku mengirimkan pesan singkat ke Rei menginfokan keterlambatanku yang dibalas dengan pembatalan janji darinya. Kecewaku datang bertumpuk-tumpuk. Rei adalah sosok yang kukagumi dan aku sedang dalam upaya pendekatan dengannya. Namun tampaknya kali ini rencanaku untuk ngedate dengannya harus ditunda entah hingga kapan. Dia cukup sulit untuk diajak janjian.
Akhirnya aku pun termenung menatap air hujan yang kian membanjiri jalanan di Dago ini. Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku. Aku pun menoleh ke samping dan kudapati Hadi di sampingku.
"Kamu Juli, kan?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan karena terpana. Hadi adalah kakak kelasku di kampus dan termasuk salah satu idola kampus.
"Nunggu hujan reda juga?" katanya yang kujawab kembali dengan anggukan.
Setelah itu kami pun mengobrol sambil menunggu hujan mereda. Kini aku malah berharap hujan turun lebih lama.
Selamat tinggal idola angkatan, selamat datang idola kampus. (^_^)v

6 komentar:

  1. Balasan
    1. fiksi sih. Tapi mengadaptasi kondisi nyata dibagian2 tertentu :D

      Hapus
  2. haloo...
    saya suka deh sama cerita kamu, berasa nulisnya dari hati.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. he..he..
      alhamdulillah kalo suka. :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)