Langsung ke konten utama

Aku dan Hujan

Klik..
Aku segera mengunci kamar kost-an. Menyambar sepatau kets dan dengan tergesa memakainya. Setelah itu mempercapat langkah kaki meninggalkan rumah kost-an. Kutengadahkan kepala.
Ah, mendung. Semoga masih keburu. Payung hilang memang menyusahkan.
Kurapatkan jaket hitam kesayanganku yang berbahan parasut. Pagi ini aku ada sejumlah urusan. Dan tampaknya harus berhadapan dengan hujan.

Tujuan pertama adalah perpusatakaan kampusku di Bukit Dago. Aku berniat mencari sejumlah buku untuk bahan tugas yang harus aku kumpulkan empat hari lagi. Akhirnya begitu sampai di depan gang aku pun langsung naik ke angkot seraya berdoa hujan tidak akan turun lebih awal.
Tiba-tiba handphone-ku mengumandangkan lagu Bring Me to Life-nya Evanescense
"Juli, kamu dimana? Jadikan ke kampus?" suara Kiki langsung memenuhi gendang telingaku.
"Iya ini juga udah di angkot. Kamu dimana?"
"Aku baru nyampe kampus".
"Hujan gak?" tanyaku dengan agak khawatir.
"Belum sih. Tapi nampaknya akan hujan deras. Kamu buruan ke sini,"
"Iya, kalo angkotnya gak sering ngetem yah," jawabku yang kemudian menutup pembicaraan dengan memutuskan sambungan.



Sepuluh menit kemudian aku pun sampailah di depan jalan dekat kampus. Aku masih harus berjalan secepat mungkin ke kampus yang jalanannya sedikit menanjak. Ah, bau tanah basah semakin dekat. Aku pun berlari-lari kecil. Tak lama kemudian sampailah aku di depan perpustakaan FISIP UNPAD Dago. Dan kulihat Kiki asyik duduk di salah satu bangku dan tampak menekuni BB-nya.
"Oi, nih bukunya. Ingat dijaga yah. Dan minggu depan balikin yah. Aku perlu juga soalnya," aku pun langsung mengangsurkan dua buku yang cukup tebal ke Kiki.
"Hatur nuhun, Juli. By the way, kamu jadi ketemuan dengan Rei hari ini?"
"Iya, tapi takutnya keburu hujan. Bisa-bisa aku ketemu dia dengan dandanan berantakan karena hujan," keluhku sambil merapikan dress bunga-bunga biru selutut yang aku padukan dengan celana kain hitam. Jilbab biru mudaku kurapikan karena sedari tadi dipermainkan angin yang sedang galak di kampus.
"Udah ah. Aku harus buru-buru nih. Takutnya keburu hujan," aku pun segera meninggalkan Kiki.
Di dalam perpustakaan dengan segera kutemukan buku-buku yang kubutuhkan. Maklum, aku cukup akrab dengan isi perpustakaan ini karena cukup sering ke sana.
Begitu menemukannya aku langsung ke petugas dan segera menyelesaikan transaksi peminjaman buku itu. Dengan cukup tergesa-gesa aku kembali berjalan ke jalan raya sambil terus berharap hujan masih berniat menunda hadirnya.
Aku pun segera naik angkot menuju perhentian berikutnya, tempat fotocopy. Perjalanan ke sana sering diwarnai usaha menunggu penumpang oleh sang supir. Jadilah butuh sekitar 15 menit yang mungkin normalnya hanya butuh 10 menit untuk sampai ke sana. Aku pun bergegas ke petugas tempat fotocopy dan menyerahkan sejumlah buku yang ingin ku fotocopy.
Dan tiba-tiba drassss.. kudengar suara air dari langit mengenai jalan, daun, dan atap.
Hujan deras yang tiba-tiba turun langsung menghentikanku. Semangatku pun menurun.
Aku pun melanjutkan transaksi. Memberi instruksi terkait buku yang ingin  ku-copy. Ketergesaanku mereda, seiring kekecewaan yang terbit di hati.
Akhirnya aku memutuskan menunggu hujan mereda yang entah akan butuh waktu berapa lama. Sebelumnya aku mengirimkan pesan singkat ke Rei menginfokan keterlambatanku yang dibalas dengan pembatalan janji darinya. Kecewaku datang bertumpuk-tumpuk. Rei adalah sosok yang kukagumi dan aku sedang dalam upaya pendekatan dengannya. Namun tampaknya kali ini rencanaku untuk ngedate dengannya harus ditunda entah hingga kapan. Dia cukup sulit untuk diajak janjian.
Akhirnya aku pun termenung menatap air hujan yang kian membanjiri jalanan di Dago ini. Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku. Aku pun menoleh ke samping dan kudapati Hadi di sampingku.
"Kamu Juli, kan?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan karena terpana. Hadi adalah kakak kelasku di kampus dan termasuk salah satu idola kampus.
"Nunggu hujan reda juga?" katanya yang kujawab kembali dengan anggukan.
Setelah itu kami pun mengobrol sambil menunggu hujan mereda. Kini aku malah berharap hujan turun lebih lama.
Selamat tinggal idola angkatan, selamat datang idola kampus. (^_^)v

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…