Jumat, 15 Februari 2013

NGALEUT PEMERINTAHAN



Pagi itu (3 Feb’13)  saya tidak bermaksud untuk menghadiri kegiatan Komunitas Aleut karena ada urusan keluarga yang harus lebih diprioritaskan. Namun akhirnya karena rindu dengan kegiatan jalan-jalan itu saya pun memutuskan untuk menyusul rombongan yang telah berangkat. Pekan sebelumnya karena urusan keluarga saya tidak bisa ikut Ngaleut transportasi. Akhirnya saya kian membulatkan tekad untuk menyusul. Segera saja saya menghubungi salah seorang penggiat Komunitas Aleut yang menginfokan saya untuk datang ke Pendopo Alun-Alun.


“Pendopo Alun-Alun”?? itu masih asing bagi saya yang seorang pendatang di Bumi Parahyangan ini. Alun-alun sih saya masih tahu. Tapi pendopo?? Ok seberapa pun asingnya karena diberi petunjuk angkot yang sangat jelas, saya pun meneguhkan hati. Macet di Dago karena Car Free Day yang diberlakukan sesekali membuat ragu sedikit menyelusup. “Ah, paling kamu hanya akan ikut pos terakhir. Lebih baik batalkan saja niat itu”, bisik si skeptis kepadaku. “Jangan. Nanti kamu menyesal lho. Bukankah ikut ngaleut selalu memberimu pengalaman baru? Sudah, tidak ada salahnya mencoba kan. Kalau pada saat sampai di Alun-alun ternyata rombongan sudah pergi kamu masih bisa lanjut jalan-jalan ke Kings” lawan si Optimis. Ok, karena pagi ini hariku diawali dengan perasaan menyenangkan akhirnya si Skeptis berhasil dibungkam oleh si Optimis.

Singkat cerita dengan sedikit diwarnai rasa was-was akan kesulitan menemukan Pendopo Alun-Alun sampailah saya di depan gerbangnya. Untuk sampai di depan Gerbang yang melengkung itu saya harus bertanya beberapa kali ke pedagang sekitar Alun-alun. Saya mendapati gerbang yang tertutup dan dengan bingung dan agak malu sibuk mengintip ke dalam Pendopo. Mungkin karena kasihan melihat saya, seorang pembersih jalan mendekati saya sambil menarik serta tempat sampah plastik berwarna orange. Beliau kemudian membantu saya membuka gerbangnya. Berkat bantuannya saya akhirnya berhasil masuk dan bertemu dengan rombongan Komunitas Aleut yang sudah sibuk berfoto. Ah saya melewatkan sesi mendongeng di tempat itu. Saya hanya sempat berfoto sebentar dan kemudian ikut rombongan yang melangkah meninggalkan pendopo.
Sedih sih karena saya yakin cerita mengenai Pendopo ini cukup banyak. Saya pun mecoba menggali informasi terkait cerita yang dibagi dan berhasil dapat secuil yakni terkait lonceng yang terdapat di halaman pendopo. Ada lonceng kembar yang berdiri di halaman pendopo. Katanya ada sebuah tulisan di lonceng yaitu “VGILATE ET ORATE DEO CONFIDENTES” yg artinya perhatikan & berdoa mempercayai Tuhan. Selain itu katanya dulu bunyi lonceng ini bisa terdengar hingga Buah Batu.

Akhirnya melewati pintu Gerbang kita melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya. Melewati trotoar yang dipadati pedagang kami kemudian berbelok masuk ke dalam sebuah lorong yang agak sepi. Awalnya saya bingung hingga kemudian membaca tulisan yang menerangkan bahwa kami memasuki situs makan RA Wiranatakusumah II yang merupakan Bupati Pertama Bandung. Nampak sebuah pendopo yang menaungi 3 kuburan utama yakni kuburan RA Wiranatakusuma II, Raden Ayu Kendran (istri Wiranatakusuma II), Raden Tmg. Male Wiranatakusumah, Raden Mochamad Saleh (Penghulu Kab. Bandung). Kemudian terlihat satu kuburan kecil yang kemudian ketika ditanyakan ke petugas yang menjaga makam dinyatakan bahwa tidak ada yang tahu asal usul kubur itu.

Saat itu satu pertanyaan yang terbesit di antara rombongan Aleut yaitu kenapa Makam seorang penghulu diposisikan hampir sejajar dengan Bupati. Makam ini ditempatkan di bawah pendopo yang sama dengan makam RA Wiranatakusumah II, tepat di samping makam Raden Tmg. Male Wiranatakusumah. Ternyata dulu posisi penghulu tidak hanya bertugas untuk menikahkan orang melaikan berperan sebagai penasih spiritual.

Melanjutkan perjalanan, rombongan Aleut melewati lagi kawasan padat penjual. Ingin rasanya berhenti dan membeli sepatu baru dan mengganti sepatu yang tengah saya pakai karena sudah mulai rusak (lho kok curhat). Setelah jalan cukup jauh sampailah kami di Penjara Banceuy. Saya antara yakin dan gak yakin sudah pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Saya cukup bingung kita akan kemana karena kita berada di tengah-tengah kawasan pertokoan yang tidak lagi nampak ramai. Ternyata di sana terselip catatan sejarah tentang Ir. Soekarno. Diceritakan bahwa ketika Ir.Seokarno menjadi tahanan politik, beliau menulis Pledoi yang sangat menggugah yakni “Indonesia Menggugat”. Pledoi ini ditulis dalam sel no.5 di Penjara Banceuy, sebuah ruangan seluas 2x2,5m yang tempat tidurnya terbuat dari besi dan termasuk pula sebuah kloset di dalamnya (could you imagine it?! Kamu hidup dalam ruangan sekecil itu, makan disana, buang air disana. Maka jangan sia-siakan kemerdekaan yang diwariskan pejuang kita). Beliau di penjara di sini selama 8 bulan. Di masa ini pula cinta seorang Inggit Ganarsih kepada Ir. Soekarno diuji. Bahkan ada cerita bahwa ibu Inggit yang membantu Ir. Soekarno untuk terus berhubungan dengan dunia luar dan mengetahui informasi-informasi terkini selama beliau di penjara. Yah di sini sebuah kalimat terlintas di kepala saya bahwa “Di belakang pria hebat selalu ada wanita hebat”. Jika bukan memiliki istri yang hebat, maka dia memiliki ibu yang hebat J
Setelah mengambil beberapa foto di sana kami kembali melanjutkan perjalan hingga nampak salah satu sudut yang tersisa dari komplek penjara Banceuy yang kini tidak terawat bahkan dipakai sebagai tempat tinggal para tunawisma. Mengenaskan sebuah tempat bersejarah diperlakukan bak sampah. Setelah berfoto disana sebentar akhirnya rombongan kembali berjalan.

 Tak lama kami sampai ke sebuah jembatan kecil yang merupakan gerbang menuju Gang Afandi. Nama Afandi diambil dari seorang tuan tanah yang dulu memiliki tanah yang cukup luas di Bandung. Di Gg. Afandi ini terlihat tempat yang padat dengan pemukiman penduduk yang terkesan agak kumuh sangat kontras dengan jajaran apartement dan hotel yang membelakanginya. Kami terus berjalan dan sampai di jl.Braga atau Bragaweg.

Dan tujuan akhir kita adalah Balai Kota Bandung. Saat memasuk Balai Kota Bandung kita langsung di pandung ke gerbang lain Balai Kota untuk diperlihatkan aliran sungai Cikapayang. Sungai ini adalah sungai buatan yang dibuat dengan membelokkan aliran sungai Cikapundung. Sungai Cikapayang ini digunakan untuk mengaliri taman-taman di Bandung. Sedikit info lain ada di postingan sebelumnya (cek Nga-baraga Cikapundung). Setelah itu kita diajak melihat Gedung Balaikota (Gemeente huis) yang dulunya berdiri sebuah gudang kopi milik seorang Preangerplanter (tuan kebun Priangan) bernama Adries de Wilde. Namun pada tahun 1927 gedung ini dirobohkan kemudian dibangunlah gedung balaikota yang merupakan hasil rancangan EH de Roo. Kemudian pada 1935 gedung Balaikota diperluas. Gedung ini memiliki atap yang tampak datar sehingga gedung ini terkadang disebut juga dengan Gedung Papak.

Gedung Balaikota menjadi perhentian terakhir hari itu. dengan ditemani mendung dan ditengah sesi sharing hujan membahasahi tanah Bandung, sesi kami terus berjalan. Banyak hikmah yang diambil (seperti biasa) dimana salah satunya tentang kenyataan bahwa ketika di bawah penjajahan Belanda, tata kota Bandung sangat teratur dan dibuat fungsional. Namun setelah masa kemerdekaan Indonesia, pengelolaan menjadi amburadul, tidak ada cetak biru yang menjadi acuan dalam membangun kota Bandung. Selain itu hari ini banyak yang mengalami pengalaman yang baru. Ternyata beberapa dari peserta Ngaleut hari itu yang baru pertama kali masuk ke Pendopo padahal dia besar di Bandung. jadi biarkan saya yang pendatang ini membagakan diri karena berhasil masuk ke halaman pendopo walaupun belum lama tinggal di Bandung.

oiya, satu lagi. kita sukse berfoto di jalanan tidak jauh dari Landmark karena jalanan di tutup sebagai peringatan bahwa ada Kereta Api yang akan segera lewat. 

P.S: jika ada bagian content yang salah tulis silahkan dibenarkan karena saya takut memberikan info yang salah karena keterbatasan saya mengenal kota bandung.

Sumber foto: dokumentasi pribadi dan sejumlah foto dari kawan-kawan yang Ngaleut dan pihak-pihak lain yang hasil dokumentasinya saya posting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)