Langsung ke konten utama

"Gadis Jeruk" Resensi Jadul dari Blog Lamaku


Resensi ini kutemukan kembali saat merapikan folder-folder di laptop yang baru saja selesai diperbaiki.
Tak sengaja aku membuka file yang berisi copy-an semua tulisan lamaku yang berasal dari sebuah blog lama yakni "My Little Notebook". Nah ternyata ada sebuah potongan tulisan cukup singkat tentang buku "Gadis Jeruk" karya Jostein Gaarder. Tulisan ini tertulis diupdate pada 18 November 2007. Sudah 5 tahun berlalu dan pasti sudah banyak yang terjadi. Nanti aku akan mencoba meresensi buku yang sama untuk kedua kalinya.
Nah berikut resensinya

Dikisahkan bahwa cerita ini dituturkan oleh dua generasi yakni ayah dan Anak. Sang Anak-Georg- menemukan sebuah peninggalan dari ayahnya yang sudah tersimpan sangat lama. Peninggalan ini berupa sebuah surat panjang yang berisi kisah hidup ayahnya dan berbagai pertanyaan tentang hidup yang bergelayut di pikiran sang Ayah dan akhirnya memunculkan pertanyaan yang sama di kepala Georg yang mesti ia jawab untuk dirinya sendiri maupun untuk ayahnya.

Quote favoritku:
-          “Apakah waktu itu?”


-          “Apakah seseorang itu, George? Apakah nilai seorang manusia itu? Apakah kita ini bukan apa-apa kecuali debu yang berserakan dan beterbangan di tiup angin?”

-          “Bukankah dunia ini hanya sebuah dongeng panjang?”


Buku ini membuatku berfikir tentang banyak hal dan tentang kehidupan. Aku akhirnya menemukan bahwa setiap orang menjalani “dongengnya” masing-masing dan dengan cara serta aturannya masing-masing. Meski aturan itu terkadang tidak masuk akal, namun itulah yang semestinya. Aku juga belajar untuk memaknai hidup dengan rasa.
Satu hal lagi yang kutemukan dalam pemikiran saat membaca buku ini:  bahwa aku harus menemukan makna hidupku dan menjadi orang yang tidak hanya tinggal tanpa bekas. Aku harus menjadi orang yang mampu memberi sebanyak mungkin. Memberi hal-hal yang bisa membuat orang merasa lebih baik.

Postingan populer dari blog ini

Lirik Kawih Dewi Sartika

Sekedar info sebelumnya. Saya bukan orang yang berasal dari tanah Sunda, tapi sedang memijak tanah Sunda. Saya sedang tertarik dengan tokoh "Dewi Sartika" dengan sedikit alasan romantis yaitu bahwa nama saya mengadaptasi nama beliau. Dan semakin saya mengenal beliau semakin saya mengagumi beliau. Nah, saya baru tahu bahwa di tanah Sunda ada lagu tentang Dewi Sartika. Kita mungkin sangat kenal dengan lagu Ibu Kartini tapi tidak tahu tentang beliau.
Maka di blog ini saya menulis sedikit tentang beliau sembari membagi lebih banyak tentang tokoh Dewi Sartika. Saya hanya berusaha adil bahwa beliau pun tokoh yang punya peran penting.
Siapa bilang beliau hanya berkiprah di Bandung. Kiprah beliau keluar Bandung kok. Tapi sudahlah kali ini saya mau membagi lirik Kawih Dewi Sartika. Mudah-mudahan ada yang bisa bantu terjemahkan yah. Maklum saya belum bisa bahasa Sunda :)  Dewi Sartika Kantun jujuluk nu arum Kari wawangi nu seungit Nyebar mencar sa Pasundan Nyambuang sa Nusantara

Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita

Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini. Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Beliau ad…

Sang Perintis: R. Dewi Sartika. Seorang Wanita Cerdas lagi Tangguh

Judul : Sang Perintis: R. Dewi Sartika

Penulis : Yan Daryono

Penerbit : Yayasan AWIKA & PT Grafiti Budi Utami

Tahun : 1996

Tebal : 143 halaman


Menelusuri jejak seorang R. Dewi Sartika ternyata tidak semudah menemukan jejak langkah seorang R.A Kartini. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi saya pribadi. Tak banyak yang tahu mengenai sepak terjang beliau. Padahal beliau menghabiskan hampir seluruh usianya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Terhitung 45tahun beliau menekuni perjuangan untuk wanita memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan bahkan beliau pun sudah memikirkan tentang ketimpangan perlakuan bagi wanita di dunia kerja.

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan beliau dan sedikit bernilai drama. Hal ini mungkin karena cara penuturan yang terkesa seperti bercerita sehingga memudahkan pembaca untuk menimatinya.
Dikisahkan tentang latar belakang kehidupan beliau sebagia anak seorang "buangan politik". Ya, Ayah R. Dewi Sartika di asingkan k…