Jumat, 18 Januari 2013

Richie Rich

..mengencangkan ikat pinggang..

ada diantara kita yang mungkin pernah menonton “Richie Rich”..sebuah film anak-anak yang menceritakan tentang seorang anak berusia tahun yang harus meneruskan usaha Ayahnya setelah Ayahnya mendadak hilang dalam kunjungan ke luar negerinya.
 richie rich movieKemudian pada saat itu para dewan direksi menginginkan upaya pengiritan “mengencangkan ikat pinggang” guna menyelesaikan masalah financial perusahaan. Mereka memutuskan untuk menutup salah satu pabrik yang dianggap tidak berprospek kemudian memecat seluruh pekerja di pabrik itu. Kemudian Richie yang telah mendapatkan pendidikan mengenai manajemen perusahaan dengan kepolosan yang dipadukan kecerdasan manusiawi memutuskan bahwa program pengencangan ikat pinggang itu harus dimulai dari para pemimpin perusahaan dengan mengurangi anggaran untuk mereka..
he..he..anak pintar..anak pintar..
menarik melihat salah satu bagian ini dan menghubungkan dengan dunia nyata. Di sebuah negara ketika program “pengencangan ikat pinggang” dicetuskan oleh para pemangku jabatan, saya tidak melihat upaya pengiritan dari mereka yang jelas-jelas hidup berkelebihan dibandingkan warga negaranya. Namun mereka malah semakin mencekik leher rakyat kecil yang harus menanggung akibat dari krisis ekonomi secara langsung. Salah satu sikap “kekanak-kanakan yang egois” ini terlihat dari usaha pihak DPR untuk mendapatkan kenyamanan baru dengan membangun kantor baru. Rakyat Indonesia tidak bodoh, mereka bisa melihat bahwa DPR tidak berhak mengklaim seluruh “hak” mereka ketika mereka gagal menjalankan “kewajiban” mereka. Berapa banyak RUU yang masih tetap jadi RUU?? Berapa banyak masalah yang masih belum mampu diselesaikan oleh PBB, sebut saja Korupsi dan sodara-sodaranya, masalah perlindungan TKI, masalah menjaga kedaulatan RI, masalah pergesekan sosial yang tidak sedikit memakan korban.
Anak kecil di SD juga sudah tahu mengenai hak dan kewajiban. Lantas haruskah manusia-manusia cerdas itu diajarkan oleh anak kecil tentang keselarasana hak dan kewajiban. Para pemimpin harus sadar bahwa ketika ada sebuah masalah kalian-lah yang harus mempertanggungjawabkan kepemimpinan kalian dan kalianlah yang pertama kali harus berkorban atas kegagalan itu, bukan mereka “orang bawahan” yang tidak paham apa yang telah kalian putuskan atas nama mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)