Selasa, 15 Januari 2013

Ngaleut pertama saya bersama Komunitas Aleut Bandung (Selesai)

  
Setelah berfoto di depan salah satu rumah karya Ir. Soekarno kami kemudian menyusuri jalan Gatot Subroto tersebut. Kami sempat melewati sebuah rumah yang bertuliskan Marie. Menurut penuturan salah satu pasukan Aleut bahwa di zaman Belanda dulu sebuah rumah dinamakan berdasarkan nama anak perempuan pertamanya. Nah ini berarti nama anak perempuan tertua pemilik rumah yang kami singgahi bernama Marie. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke dan saya sempat memotret sebuah gedung yang bernama Vila Gruno. Namun karena keterlambatan saya berjalan. Saya melewatkan penjelasan apa punyang mungkin sempat dikeluarkan oleh anggota komunitas Aleut.

Setelah itu kami dipandu melewati gang-gang sempit sebagai jalur alternatif. Kami melewati gang-gang kecil yang padat pemukiman. Kami bahkan harus berpuas diri dengan mencium wangi masakan warga yang sempat kami lewati. Di salah satu jalan kami melewati sebuah aliran sungai Anak CI Kapundung. Entah sungai itu terbentuk alami atau buatan. Aliran sungainya hitam. 

Nah saat itu kami sempat berhenti sambil mendengarkan penjelasan Om Ridwan Hutagalung (Om, pamang, kang, abang, atau apapun sebutannya (^_^)v ). Beliau menceritakan tentang kisah-kisah kamp konsentrasi yang sempat dibuat oleh Jepang saat menjajah Indonesia. Kamp-kamp tesebut digunakan untuk menampung orang-orang Belanda yang berhasil mereka kumpulkan dan tangkapi. Kisah yang ia tuturkan menyadarkan saya bahwa tulisan Eka Kurniawan dalam novelnya Cantik itu Luka yang masih berusaha saya tamatkan menceritakan kejadian yang hampir sama dengan yang dituturkan oleh Om Ridwan. Memang kamp komsentrasi yang dibuat di Indonesia itu tidak semengerikan yang dibuat oleh Nazi di Jerman pada masa Holocaust. Namun tetap saja diceritakan bahwa kamp konsentrasi yang paling parah adalah kamp yang diperuntukkan untuk laki-laki dewasa. Sedangkan untuk wanita dan anak-anak masih sedikit lebih berdab. Sedikit tambahan yang saya peroleh dari buku Cantik itu Luka dikatakan bahwa sejumlah wanita Belanda kemudian diambil dari kamp konsentrasi untuk kemudian dijadikan sebagai pelacur.


Akhirnya kami melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami pada salah satu sekolah yang dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1922. SD ini dijadikan sebagai tempat praktek Kweekschool yang sering diasosiakan sebagai sekolah raja. Entah karena anak-anak bangsawan pribumi banyak yang bersekolah atau ada yang mengatakan bahwa Kweekschool mungkin saja dibangun sebagai peringatan atas pengangkatan raja baru. SD ini kemudian ditempati oleh SD Centeh 1,2,3,4,5,6. Menurut data yang berhasil dihimpun oleh Komunitas Aleut diketahui bahwa awalnya hanya bangunan SD tersebut yang berada di wilayah Centeh ini, sedangkan disekitarnya masih berupa rerumputan yang luas. Namun kini bahkan bagian depan SD centah telah tertutupi pemukiman waga. Kami harus melewati lorong sempit hingga akhirnya berhasil masuk ke dalam lingkungan sekolah tersebut. Saat melewati lorong sekolah ini akan ditemukan plakat yang terpasang di kedua sisi dinding yang saling berhadapan. Selain itu terdapat juga patung pendiri sekolah (yang kemudian agak diragukan keasliannya oleh orang-orang di Komunitas Aleut). Setelah itu kami sempat beristirahat di aula yang berbentuk seperti sebuah pendopo yang berada di SD tersebut. Tampak bahwa tiang penyangga aula itu telah dimakan oleh usia (dan rayap). Sesi istiarahat ini diisi dengan cerita tentang nama-nama jalan yang dahulu kala dibuat berdasarkan nama tanaman-tanaman. Dan jenis tanaman-tanaman tersebut bahkan digolongkan menjadi bunga-bungaan, pohon dengan ranting yang kurang padat, dan pohon dengan ranting yang padat. Namun kini nama-nama tersebut diganti menjadi nama pahlawan yang membuat bingung dalam hal pencariannya. Bahkan membingungkan karena akhirnya sebuah jalan bisa jadi memiliki dua identitas atau dua nama.

Tidak lama kunjungan tersebut diakhir dengan foto bersama dilapangan sekolah. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Pasar Kosambi. Ternyata di pasar ini masih berdiri pertokoan tua. Namun lagi-lagi saya ketinggalan penjelasan dan bahkan kali pun saya tidak menyempatkan diri mengambil foto karena takut menghadari ketinggian jembatan penyebrangan yang sudah cukup rapuh. Saya akhirnya hanya menyebrang dan menunggu seluruh rombongan berkumpul di depan ruko toko roti Cari Rasa yang merupakan salah satu toko yang cukup lama di Bandung. Setelah itu kami kembali menyusuri lorong dan melewati gang-gang sempit pemukiman penduduk. Kami bahkan melintasi rel kereta api di Kebon Pisang Kosambi. Sejujurnya inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki dan melewati rel kereta api yang berada di pemukiman penduduk. Biasanya saya hanya melewati rel kereta di stasiun kereta api saja saat harus mencapai peron tertentu.

Setelah itu kami sempat cerita sejenak terkait salah satu jalur kereta api tertua di pulau Jawa. Namun saya tidak berani menuturkan ulang meskipun saya telah mencoba untuk menggoogling data-data tentang stasiun tertua ini. Namun saya menyadari bahwa saya sudah cukup lupa dank arena masalah baterai gadget, saya tidak berhasil mencatat banyak hal kala itu.

Setelah istirahat kami kembali melanjutkan perjalan ke salah satu Gereja yang maaf ternyata kini telah saya lupakan namanya. Gereja itu tidak bisa kami kunjungi cukup lama karena mendapat teguran dari pihak penjaga keamanan gereja tersebut. Namun kami masih sempat diperliahtkan plakat nama yang ada di gereja tersebut sebagai sebuah tanda dari arsitek gereja tersebut. Plakat itu agak tersembunyi di balik tanaman yang tumbuh mengelilingi gereja.







Akhirnya kami pun melanjutkan perjalan ke SD Soka. Kami sempat melewati salah satu tokoh oleh-oleh makana Sari Rasa dan bahkan sesampainya kami di SD tersebut wangi roti yang menggugah selera masih tercium. Kami yang siang itu akhirnya mulai terserang lapar dan cukup lelah karena seharian berjalan kaki akhirnya mengakhiri perjalan dengan menceritakn kesan kami dalam kegiatan ngaleut hari itu. Kesan-kesannya semua positif selama mengabaikan bagian “lapar” dan “cukup lelah karena jalan kaki seharian” mengingat rute kami sebenarnya cukup jauh dari jalan Malabar hingga akhirnya sampai di Jl. Soka yang tidak jauh dari jalan RE Martadinata. Tapi di hari itu pun kami menyadari bahwa penting untuk peduli pada lingkungan. Kita perlu ikut menyebarkan kesadaran bahwa peninggalan sejarah termasuk gedung-gedung tua perlu dijaga karena dapat menjadi pembelajaran bagi generasi-generasi penerus kita.


catatan: foto-foto dalam blog ini adalah hasil dokumentasi pribadi dan hasil dokumentasi yang dipublish dalam @KomunitasAleut di twitternya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)