Selasa, 15 Januari 2013

Ngaleut pertama saya bersama Komunitas Aleut Bandung (Part 1)


Hari Ahad tanggal 13 Januari 2013 ini mungkin akan menjadi salah satu hari Ahad yang tidak terlupakan di kota Bandung. Bagaimana tidak jika saya yang merupakan pendatang kota Bandung sukses menjelajahi beberapa sudut kota Bandung bersama pasukan Komunitas Aleut Bandung. Tapi jangan piker perjalanan ini terasa ringan bagi saya.

Kumpul di Jl. Sumur Bandung no. 4
Dimulai dari malam hari dimana saya nyaris lupa untuk tidur karena asyik berkutat dengan film di laptop kemudian dilanjutkan dengan buku dan mengupdate berita di jejaring social, saya akhirnya terbangun dengan kurang bersemangat. Saat menajamkan telinga ternyata Bandung disapa hujan. Niat hati yang semula menggebu-gebu mulai mendingin karena udara dingin dan hujan. Saya kemudian memastikan apakah kegiatan “ngaleut” tetap dilaksanakan meskipun tengah hujan. Dan ternyata pesan singkat saya dibalas dengan konfirmasi bahwa ngaleut tetap dilaksanakan dan para peserta diharapkan untuk membawa paying atau jas hujan. Akhirnya jam 8 kurang 5 menit waktu Bandung saya sampai ke Jl. Sumur Bandung no.4 yang merupakan markas dari Komunitas Aleut ini. Yah saya terlambat 25 menit. Di lain pihak waktu keberangkatan kami pun menjadi sedikit di undurkan. Hal ni terkait cuaca dan upaya mencarter angkutan umum untuk sampai di daerah jl. Malabar.

Gedung Toko Roti Valkenet
Setelah perkenalan singkat dengan seluruh peserta ngaluet, kami pun berangkat dengan menggunakan tiga angkot carteran. Di dalam angkot pun peserta saling memperkenalkan diri. Akhirnya saya yang awalnya datang sendirian akhirnya berkenalan dengan beberapa orang yang juga baru pertama kali ngaleut. Akhirnya karena keasyikan ngobrol di jalan tanpa terasa kami telah tiba di tempat tujuan pertama kali. Kami sampai di jalan Malabar. Awalnya saya cukup bingung tentang gedung apa yang kami datangi. Ternyata awal perjalanan ini, kami langsung dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa gedung yang layak untuk dilihat telah diratakan. Tadinya di salah satu sisi jalan berdirilah sebuah toko roti. Bangunan itu adalah Gedung Valkenet yang dibangun tahun 1925 dengan gaya arsitektur artdeco geometric, di tengah kawasan villa2 sekitar Malabar. Namun kini bangunan itu sudah tidak dapat saya lihat lagi. Ah saya seorang pendatang di kota Bandung ini terlal terlambat menyadari salah satu kekayaan Bandung yakni bangunan-bangunan tua warisan penjajahan Belanda. 

sisi yang masih menunjukkan wajah "rumah"
foto dari sisi dalam
Akhirnya setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke SMK Shandy Putra. Saya akui saya tidak akan menyadari bahwa bangunan sekolah itu adalah sebuah rumah tua peninggalan zaman Belanda yang dialih fungsikan menjadi sebuah sekolah. Bahkan menurut cerita yang dibagi saat mengunjungi sekolah tersebut disebutkan bahwa sebelumnya rumah tersebut di zaman penjajahan Jepang sempat beralih fungsi menjadi rumah sakit. Meskipun kemudian di sampaikan bahwa belum ada kepastian akan berita tersebut. Namun memang menurut penelitian bahwa di zaman pendudukan Jepang, rumah-rumah yang cukup besar sering kali dialihfungsikan menjadi rumah sakit atau menjadi kamp-kamp konsentrasi. Kami kemudian diberi kesempatan untuk menjelajahi bagian luar dan dalam gedung sekolah tersebut. Saat melangkah menuju lapangan olahraga sekolah itu akhirnya muncullah tanda-tanda bahwa memang awalnya rumah tersebut awalnya dibangun sebagai rumah. Saya tidak dapat menyebutkan secara jelas bagian apa, namun di sisi samping rumah tersebut terdapat bagian yang menjorok keluar dan berbentuk semacam lengkungan yang memiliki undakan tangga sehingga saya menganggap bahwa dahulu mungkin saja pintu itu adalah akses menuju taman rumah tersebut. Bagian kaca dan pintu gedung sekolah tersebut masih asli tanpa di ubah. Dan begitu pun beberapa pintu yang ada di ruangan utama sekolah tersebut.

Foto Genteng
Memang telah dibangun tambahan ruangan di bagian samping dan belakang sekolah tersebut. Namun sebagian besar gedung tersebut masih merupakan bagian asli dari rumah Belanda. Kami bahkan berhasil mengambil sebuah genteng untuk diamati karena sebagian besar genteng sekolah tersebut masih merupakan genteng lama dari sejak awal pembangunannya. Terbukti saat ditemukan nama dan kota asal pembuatan genteng tersebut. (lihat di foto) Akhirnya setelah melihat-lihat dan memotret di sana sini, akhirnya seluruh rombongan pun meninggalkan lokasi SMK Shandy Putra yang telah ditetapkan sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya oleh pemerintah Bandung tersebut. Oiya, kami bahkan dioleh-olehi cerita seram yang dituturkan oleh salah seorang siswi sekolah tersebut yang hari itu ikut ngaluet bareng. Ah, saya enggan menceritakannya mengingat saya menulis postingan ini di malam hari.






berfoto di depan rumah karya Ir. Soekarno
 Kami kemudian melanjutkan ngaleut ke jalan Gatut Subroto. Kali ini kami mengunjungi salah satu rumah kembar yang merupakan karya Mantan Presiden Soekarno. Rumah tersebut terletak di Jl.Gatot Subroto no.54 dengan kembarannya yang terletak di seberang jalannya. Awalnya kedua rumah tersebut di tempeli plakat sebagai pemberitahuan bahwa rumah tersebut adalah rancangan Ir. Soekarno. Namun kini plakat tersebut telah dicabut dan bahkan rumah tersebut kini telah beralih fungsi menjadi kost-kostan. Saya jadi bertanya-tanya apakah orang-orang yang menyewa kamar kost di rumah tersebut menyadari sejarah yang disimpan oleh rumah tersebut?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)