Senin, 21 Januari 2013

Ngaleut Ngabaraga Cikapundung (Bagian Awal)


Ah, sejak malam sebelumnya saya sudah tidak sabar menantikan sesi Aleut kali ini. Saya yang biasanya ngalong hingga dini hari, segera beristirahat setelah pulang dari kegiatan Klub Buku Bandung. Namun tetap saja pagi itu saya terlambat sampai di Jl.Sumur Bandung no.4 tapi syukurlah saya belum ditinggalkan rombongan . Sepuluh menit setelah saya tiba di Sekret Komunitas Aleut sesi perkenalan di mulai. Kali ini ada wajah-wajah baru lagi. Ini salah satu hal yang menyenangkan dari mengikuti Ngaleut karena kita jadi mengenal lebih banyak orang. Terutama bagi saya yang pendatang di Kota Bandung ini.

Nah judul ngaleut Komunitas Aleut kali ini adalah Ngabaraga Cikapundung. Nah untuk menjawab beberapa pertanyaan teman saya di BBM saat mengupdate “Mari Ngaleut” di Privat Massage di BB maka izinkan saya kembali menginfokan bahwa dari hasil searching saya “Ngaleut” itu berasal dari bahasa Sunda yang artinya “berjalan beriringan”. Sedangkan judul ngaleut hari ini yakni “Ngabaraga” adalah bahasa Sunda yang berarti “berjalan menyusuri sungai”. Nah itu berarti hari ini kita akan menyusuri Sungai Cikapundung.

Berbeda dengan Ngaleut pekan lalu, kita tidak menyewa angkot untuk menuju tujuan pertama. Kita langsung melangkahkan kaki menuju Hutan Kota yang letaknya tidak jauh dari Sekret Aleut. Hutan Kota, bernama Hutan Babakan Siliwangi, ini bertetangga langsung dengan Sabuga-nya ITB. Begitu masuk ke dalam Hutan Kota saya mendadak merasa ada di Bali. Kenapa? Karena mata saya langsung tertumbuk pada dua buah patung yang terdapat di sana. Salah satunya adalah patung Ganesha. Selain itu ada sebuah payung yang bermotif kotak-kotak hitam putih yang langsung saya korelasikan dengan kain khas Bali dengan motif yang sama. Saya kemudian cukup terkejut saat menemukan bahwa di Hutan Kota tersebut ada Galeri dan Sanggar Seni. Saya berfikir “Wah saya tidak akan tahu bahwa ditempat ini ada galeri dan sanggar jika tidak ikut Ngaleut. Kan butuh keberanian untuk menyusuri tempat yang asing sendirian,”. Inilah yang membuat saya semangat mengikuti Ngaleut kedua saya ini, sebab saya pasti akan mendatangi tempat yang tidak akan pernah terpikir oleh saya untuk di datangi.
Dua patung yang mengingatkan saya pada Bali

Nah perihal kedua patung dan segala peralatan yang terlihat sebagai tempat pemujaan di Bali, Om Ridwan kemudian menginfokan bahwa itu adalah hal yang baru di Hutan Kota ini. Dan sejujurnya dia sendiri bingung kenapa ada tempat itu. Karena latar belakang sejarah dan budaya di Bandung tidak ada korelasinya dengan patung dan segala detail lainnya. Nah, setelah itu Om Ridwan mulai menjelaskan bahwa wilayah ini bernama Babakan Siliwangi dan Hutan Kota ini adalah satu-satunya Hutan Kota yang tersisa di Bandung. Sampai tahun 1990-an daerah sekita Hutan Kota ini masih berupa persawahan. Dan dulunya daerah ini disebut Lebak Gede (“lebak” adalah bahasa Sunda untuk kata “lembah”) karena dulu nampak jelas bahwa wilayah ini adalah sebuah lembah yang membentang hingga wilayah UNPAD di Dipati Ukur. Ia kemudian menambahkan bahwa pada tahun 1980an di tempat ini kita masih bisa melihat pemandangan tebing.


Dulunya wilayah sekitar Hutan Kota adalah milik ITB namun secara bertahap oleh pihak ITB dibagi dengan membangun Kebun Binatang, Kantor Batan (Badan Tenaga Nuklir), Sabuga (Sasana Budaya Ganesha), dan sisanya diserahkan ke pemerintah daerah dan pemerintah kota. Sekedar informasi Kebun Binatang Bandung sudah ada sejak tahun 1930an. Dan ada GOSIP bahwa Kebun Binatang akan dipindahkan ke Jatinangor. Selain itu nama Jalan Taman Sari adalah Hoffman weg dan membentang dari jalan Siliwangi hingga ke Baltos (Balubur Town Square).

Salah Satu Spanduk tentang Hutan Babakan Siliwangi
Setelah penjelasan itu kami kembali melanjutkan Ngaleut ke arah gerbang Sabuga yang menghadap jalan Siliwangi. Selama di perjalanan saya melihat sejumlah spanduk yang berisi “teriakan” tentang dukungan pelestarian Hutan Babakan Siliwangi karena kabarnya ada rencana pemerintah kota berniat membangun kondominium  di wilayah Hutan Babakan Siliwangi. Setelah melewati gerbang Sabuga,  kami berhenti sebentar di sana untuk mendengarkan penjelasan. Saya tidak sempat mencatat penjelasan Om Ridwan selain bahwa dulu ITB sempat membuat usaha air kemasan. (maafkan kelalaian saya pembaca (T_T))

Wajah lain Sabuga yang baru pertama kali saya lihat
Kami kemudian mulai menyusuri aliran sungai Cikapundung. Namun terlebih dulu kami turun ke pintu air yang berada di dekat Sabuga. Saya sempat melihat Sabuga melalui sudut pandang lain dan bahkan dengan bodohnya saya bertanya itu apa dan dijawab “Sabuga” oleh peserta Aleut yang saya tanyai. (Ok, ini pengalaman baru lagi bagi saya). Begitu sampai di pintu air, mata saya terpaku pada tumpukan sampah yang berada di sekitar pintu air. Oiya, selama perjalan dari Hutan Babakan Siliwangi menuju Sabuga saya beberapa kali menemukan tumpukan sampah yang merusak pemandangan. Saya bahkan berkata “Di sini banyak nyamuk ya? Atau ini hanya perasaan saya?” lalu dijawab, “Memang banyak nyamuk”. Heh?! Ini hal yang aneh bukankah air yang mengalir tidak akan bisa didiami jentik nyamuk? Saya rasa sampah-sampah itulah penyebabnya.

Tak lama kemudian saya mendengar Om Ridwan memberika penjelasan.  Katanya pintu air ini di bangun oleh Bupati RAA Martanagara dimasa pemerintahannya (mungkin sekitar tahun 1900 kepastiannya belum berhasil saya temukan). Ia memutuskan hal ini karena pada masa ia berusaha meningkatkan penanaman singkong yang saat itu laku dipasaran. Untuk itu ia harus membangun irigasi-irigasi yang mendukung rencana tersebut karena saat itu Bandung hanya dilewati oleh sungai kecil (kali) sehingga dibuatlah pint air untuk membelokkan aliran sungai Cikapundung. Dengan pembolakan aliran sungai Cikapundung maka dibuatlah sungain buatan. Salah satu sungai buatan tersebut adalah sungai Cikapayang. Di wilayah Bandung Utara dibuat taman-taman yang aliran airnya berasal dari Sungai Cikapayang. Tapi keberadaan sampah-sampah di pintu air ini membuat debit air ke sungai Cikapayang terhambat.

kondisi pendangkalan di sekitar alur pertemuan sungai
Sekedar info, Sungai Cikapundung terbentuk dari aliran lava letusan Gunung Tangkuban Perahu yang terjadi 125.000 tahun yang lalu dan 48.000 tahun yang lalu. Panjang Sungai Cikapundung adalah 28 kilometer yang melewati 1 kota dan 2 kabupaten. Untuk di kota Bandung sendiri Sungai Cikapundung melewati 9 kecamatan dan 13 kelurahan. Dengan keterangan ini kita sebenarnya bisa meraba sevital apa keberadaan sungai ini. Namun ternyata fakta-fakta ini tidak menggerakkan pemerintah untuk berbuat lebih banyak untuk memperbaiki kondisi Cikapundung saat ini yang sudah berwarna coklat.

 Kami terus berjalan sambil saya sesekali mendengarkan penjelasan dari Pak Edi yang cukup mengenal areal pemukiman ini. Ia berkata dulu di daerah yang kami lewati adalah areal persawahan. Ia bercerita bahwa dulu lebar Sungai Cibarani, salah satu anak sungai buatan dari Cikapundung, yang tengah kami lewati dulunya lebih lebar dari sekarang. Dan kalau diperhatikan semakin lama lebarnya semakin menyempit ke arah Cihampelas dan kata beliau berakhir di sana dan entah selanjutnya dialirkan kemana.

Kami kemudian berhenti di Masjid Mungsolkanas yang berdiri pada tahun 1869. Nama Mungsolkanas sepertinya singkatan dari kalimat “Mangga Urang Ngaos Sholawat”. Namun kemungkinan besar sudah tidak ada bagian lama Masjid ini yang tersisa karena sudah beberapa kali diperbaiki dan dipugar. Namun kehadiran Masjid ini di tahun 1869 yang saat itu disekitarnya adalah pemukiman Belanda menjadi terasa menarik. Dan kini kahadiran Masjid ini jadi cukup terpencil karena terletak di tengah-tengah pemukiman yang padat penduduk. Orang-orang yang berjalan-jalan ke Kota Bandung tidak akan bisa mengakses masjid ini dengan mudah karena harus melewati gang-gang yang padat dengan hunian penduduk. Saya sebagai pendatang di kota ini pasti tidak akan bisa melihat masjid ini jika tidak ikut Ngaleut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga berkenan meninggalkan jejak (^_^)